Wednesday, August 15, 2012

BEM UI Menyalurkan Bantuan Peduli Gempa Bengkulu


Setelah sekitar satu bulan lebih Propinsi Bengkulu di guncang gempa besar, akhirnya pada tanggal 10 November 2007 BEM UI dapat menyalurkan bantuan yang telah dikumpulkan dari berbagai Fakultas dan juga Mahasiswa UI. 

Bantuan gempa diberikan kepada SMA Negeri 1 Lubuk Pinang Kabupaten Muko-muko. Sekolah tersebut dipilih berdasarkan hasil survey dari tim advance pada awal Oktober lalu. Jumlah bantuan yang disalurkan sebanyak 26 juta rupiah. Bantuan yang disalurkan berupa 2 unit komputer, 66 unit meja dan kursi serta uang sebesar 10 juta rupiah untuk merenovasi mushola. 

Bantuan langsung diserahterimakan kepada Bapak Azzam yang menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMA Negeri 1 Lubuk Pinang yang disaksikan oleh seluruh siswa SMA Negeri 1 Lubuk Pinang. 

Selain menyalurkan bantuan, Tim penyalur bantuan BEM UI yang terdiri dari Angga Darmawan, Dony Resita, Fitri Arlinkasari dan Tri Agustin juga memberikan training motivasi kepada siswa-siswi kelas 3 SMA Negeri 1Lubuk Pinang yang akan menghadapi UN 2008. Pemberian Training motivasi bertujuan untuk memberikan motivasi, dorongan serta dukungan kepada para siswa agar bersemangat dan optimis dalam menghadapi UN 2008 yang standar kelulusannya bertambah menjadi 5,25 dan mata pelajaran yang di UN-kan pun bertambah menjadi 6 mata pelajaran.

SMA Negeri 1 Lubuk Pinang mengalami kerusakan yang cukup parah. 2 kelas tidak bisa lagi digunakan karena dindingnya roboh, 3 kelas lain mengalami kerusakan yang cukup parah, langit-langit kelasnya roboh. Sedangkan untuk kelas-kelas lainnya mengalami retak-retak di bagian dindingnya. Selain itu, meja dan kursi mengalami kerusakan. Sekitar 100 unit meja dan kursi yang digunakan untuk belajar mengajar tidak layak pakai.

SMA Negeri 1 Lubuk Pinang baru menerima bantuan pada awal oktober sebesar 4 juta rupiah dari salah satu parpol, yang selanjutnya dana itu digunakan untuk membersihkan puing-puing bangunan akibat gempa. Sampai saat ini SMA Negeri 1 Lubuk Pinang baru memerima bantuan dari Departemen Sosial RI berupa tenda darurat dan juga UI. Sekitar awal November lalu sekolah ini telah di survey oleh Dinas Pendidikan Propinsi Bengkulu dan Departemen Pendidikan RI yang selanjutnya akan memberikan block grant yang akan digunakan untuk memperbaiki bengunan kelas yang rusak.

Kondisi belajar mengajar di sekolah ini cukup memprihatinkan. 3 kelas yang langit-langitnya mengalami kerusakan tetap digunakan untuk belajar mengajar, kantin dan laboratorium pun digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Tenda darurat bantuan dari Departemen Sosial RI digunakan untuk 1 kelas darurat yang tidak nyaman digunakan  untuk kegiatan belajar mengajar. Riska siswi SMA Negeri 1 Lubuk Pinang yang kelasnya menggunakan tenda darurat, mengaku tidak merasa nyaman belajar di tenda darurat selain panas juga beralaskan tanah. Seperti yang terjadi pada Sabtu 10 November lalu kegiatan belajar mengajar ditenda darurat terhenti akibat hujan deras yang menyebabkan banjir di dalam kelas tersebut.
Semoga bantuan yang diberikan dapat bermanfaat.

Bogor, November 2007
 

Sepenggal Kisah dari Kalimantan Barat


Pada tanggal 16-20 Juli 2007 lalu Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal Geografi Sejarah menyelenggarakan kegiatan Bertajuk “Arung Sejarah Bahari”. Kegiatan ini diikuti kurang lebih 100 mahasiswa yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. 

Arung Sejarah Bahari memiliki pengertian Arung berarti mengarungi atau menjelajahi sedangkan sejarah ialah melihat ke masa lalu. Kegiatan ini berupa menjelajahi jejak-jejak sejarah kebaharian yang pernah ada di Kalimantan Barat. Kegiatan arung sejarah bahari bertujuan untuk mengenalkan sejarah kebaharian kepada generasi muda dan diharapkan dapat mencintai dunia kebaharian.. Pada kegiatan ini para peserta mengunjungi objek-objek yang memiliki nilai sejarah dan berkaitan dengan peradaban masa lalu yang pernah ada di Kalimantan Barat. Kota-kota di Kalimantan Barat yang memiliki peninggalan sejarah maritim diantaranya ialah Pontianak, Ketapang dan Sukadana. Perjalanan menjelajahi kota-kota tersebut ditempuh dalam waktu 4 hari.

            Pontianak merupakan ibukota propinsi Kalimantan Barat. Kota ini dibelah oleh Sungai Kapuas yang panjangnya mencapai 700 meter dan merupakan salah satu sungai terlebar di Indonesia. Di kota ini terdapat berbagai macam objek peninggalan sejarah kerajaan maritim, diantara objek-objek tersebut adalah Kerraton Kadariyah, Masjid Jami Sultan Abdurahman, makam raja-raja Kerajaan Pontianak. Selain itu, ada juga peninggalan sejarah yang memiliki kaitan erat dengan kedatangan bangsa china di Pontianak yaitu Klenteng tua Budhisatva Karaniya Metta dan Pelabuhan Sheng hie.

            Keraton Kadariyah merupakan peninggalan kesultanan Pontianak, yang didirikan oleh Sultan Syarif Abdurrahman pada tanggal 1771 (14 Rajab 1185 H). Keraton ini terletak 4 km dari pusat kota, tepatnya dari Kampung Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. Sampai sekarang Keraton Kadariyah masih menyimpan peninggalan kesultanan seperti, singgasana, Kaca Pecah Seribu, Al-qur’an tulis tangan oleh Sultan dan lain sebagainya. Keraton Kadariyah hingga kini masih ditempati oleh keturunan dari Sultan Syarif Abdurrahman.

            Masjid Jami Sultan Abdurrahman merupakan bagian dari Keraton Kadariyah yang berjarak 300 meter dari Keraton Kadariyah. Mesjid ini terletak di tepi sungai Kapuas, dimana pada masa itu Sungai Kapuas merupakan prasarana transportasi utama yang digunakan masyarakat sekitar. Masjid yang didirikan pada masa Sultan Syarif Oesman yang memerintah pada tahun 1819-1855 sampai saat ini masih dipergunakan oleh masyarakat untuk beribadah dan melakukan kegiatan keagamaan.

            Makam Raja-Raja Kerajaan Pontianak bernama Kompleks Makam Batulayang karena terletak di Kelurahan Batulayang, Kecamatan Pontianak Utara dengan jarak 7 km dari pusat kota. Kompleks makam ini terletak persis disebelah utara Sungai Kapuas. Ditempat ini dimakamkan 7 orang Sultan yang pernah memerintah di Kesultanan Pontianak yaitu Sultan Syarif Abdurrahman, Sultan Sayid Kasim Al Kadri, Sultan Syarif Oesman Al Kadri, Sultan Syarif Hamid I, Sultan Syarif Yusuf Al Kadri, Sultan Syarif Muhammad Al Kadri dan Sultan Syarif Hamid II.

            Sejarah Pontianak tidak terlepas dari peran Bangsa China yang menguasai perdagangan pada masa lalu dan mungkin hingga saat ini. Objek peninggalan yang berkaitan dengan kedatangan bangsa china antara lain Klenteng tua Budhisatva Karaniya Metta dan Pelabuhan Sanghie. Klenteng tua Budhisatva Karaniya Metta diperkitakan berdiri pada abad ke-!7. Pada masa itu banyak sekali bangsa china yang datang ke Kalimantan Barat sehingga etnis china yang ada di Kalimantan Barat bertambah banyak. 

           Dibangunnya Klenteng ini adalah untuk memfasilitasi etnis china untuk beribadah. Selain Klenteng tua, objek peninggalan lain yang berkaitan dengan adanya etnis china adalah pelabuhan Sheng Hie yang di perkirakan berdiri pada abad ke-18 dan merupakan pelabuhan peniagaan pertama di Pontianak. Pelabuhan Sheng Hie dipergunakan untuk kegiatan perdagangan pada masa itu bahkan hingga saat ini. Nama pelabuhan Sheng Hie sendiri diambil dari nama seorang pengusaha besar hasil bumi dari negeri China. Pelabuhan ini memiliki letak yang strategis karena terletak di tepi Sungai Kapuas. 

            Para peserta Arung Sejarah Bahari tidak hanya mengunjungi objek-objek yang berkaitan dengan sejarah maritim tetapi juga mengunjungi objek lain yang memberikan wawasan tentang Kalimantan Barat. Objek yang dikunjungi yaitu Tugu Khatulistiwa dan Museum Daerah Kalimantan Barat. Kota Pontianak merupakan kota yang dilalui oleh garis khatulistiwa sehingga berpengaruh pada suhu udara rata-rata harian yang cukup panas. Tugu Kahtulistiwa dibangun pada masa penjajahan Belanda. Tugu ini memiliki Keistimewaan yakni setiap tanggal 21-23 maret dan 21-23 september pada pukul 12.00 terjadi kulminasi, dimana benda-benda yang ada di sekitar tugu tidak memiliki bayangan, karena pada tanggal tersebut posisis matahari tepat berada pada garis khatulistiwa.

            Selain Tugu Khatulistiwa objek lain yang dikunjungi ialah Museum Daerah Kalimantan Barat. Di museum ini kita dapat menemukan hasil peninggalan sejarah khusus etnis yang ada di Kalimantan Barat yaitu etnis melayu, etnis dayak dan etnis china.

            Kota Pontianak merupakan salah satu kota atau wilayah yang di jelajahi pada kegiatan Arung Sejarah Bahari, kota atau wilayah lain yang di jelajahi ialah Kabupaten Ketapang dan Sukadana yang terletak di sebelah selatan Kalimantan Barat. Kabupaten Ketapang dan Sukadana memiliki berbagai peninggalan terkait kehidupan sejarah kerajaan maritim karena di wilayah ini terdapat peninggalan kerajaan Sukadana dan Ketapang  Perjalanan Pontianak menuju Ketapang ditempuh dengan waktu kurang lebih 7 jam dengan menggunakan kapal laut ekspres.

            Objek-objek kunjungan yang ada di Ketapang yaitu Keraton Muliakarta, Kompleks Makam Raja-Raja Matan, Makam Keramat Tujuh dan Keramat Sembilan. Keraton Muliakarta diperkirakan dibangun pada Abad ke-17 dan merupakan Istana Raja-raja Matan (Keturunan Raja-raja Tanjungpura). Keraton ini menghadap sungai Pawan sebagai jalur transportasi utama untuk perniagaan. Kerajaan Tanjungpura atau Matan memiliki kaitan erat dengan Kerajaan Sukadana karena Sejarah berdirinya Kerajaan Matan tidak terlepas dari Kerajaan Sukadana yang pada masa lalu pendiri Kerajaan Matan berasal dari Kerajaan Sukadana yang berhasil melarikan diri akibat kekalahan yang dialami Kerajaan Sukadana dari Kerajaan Pontianak.

            Komplek Makam Raja-raja Matan terletak sekitar 4 km dari Keraton Muliakarta. Disini dimakamkan Raja-raja Kerajaan Matan. Selain Kompleks Makam Raja raja Matan terdapat pula Makam Keramat Tujuh dan Keramat Sembilanm, makam ini diperkirakan telah berumur sekitar 650 tahun yang dibuktikan dengan tulisan pada batu nisan yang tertulis 1363 saka  atau 1441 masehi. Batu nisan di makam ini terbuat dari batu andesit dan bertuliskan huruf arab. Menurut ahli arkeologi untuk pertama kali batu andesit ditemukan di Pulau Kalimantan adalah di Ketapang. Diperkirakan bentuk batu nisan berasal dari abad terakhir Kerajaan Majapahit. Batuan andesit yang ada di Ketapang berasal dari pulau jawa dan diperkirakan pada masa lalu telah terjadi hubungan antara majapahit dan Kalimantan.

            Akhir perjalanan arung sejarah bahari ialah di Sukadana di daerah ini pada masa lalu berdiri sebuah kerajaan yang terletak di pantai barat Kalimantan dan sempat  merasakan masa-masa kejayaan karena memiliki letak strategis yang merupakan jalur perdagangan antara jawa, sumatera dan semenanjung malaka. Bahkan, dikemudian pedagang-pedagang cina juga melalui jalur perdagangan ini.

            Perjalanan ke Sukadana ditempuh dengan waktu kurang lebih 3 jam dengan menggunakan bis dari Ketapang. Objek-objek yang dikunjungi di daerah Sukadana ialah Bekas Pelabuhan Sukadana, Makam Raja-raja Sukadana, Benteng Belanda dan Bekas Kantor Belanda (Tangsi). Bekas Pelabuhan Sukadana terletak di Teluk Sukadana yang merupakan pula Selat Karimata. Pelabuhan ini pada masa lalu dipergunakan sebagai pelabuhan perdagangan jalur sutera sekaligus merupakan pertemuan jalur perdagangan dari barat, timur dan utara. Digunakan juga perdagangan dari luar nusantara seperti Eropa, Cina, Johor dan Brunei dan juga dari nusantara seperti Bugis, Melayu, Jawa, Banjarmasin, Riau dan Palembang. Hasil yang dijual pada masa itu adalah rempah-rempah, intan, kayu gaharu dan kerajinan berbagai bangsa, guci-guci dari cina dan sebagainya. Sekarang ini peninggalannya berupa puing-puing bangunan pelabuhan yang sudah tidak utuh lagi. 

            Makam Raja-raja Sukadana terdapat dikampung dalam sekitar 3 km dari bekas pelabuhan Sukadana. Disinilah terdapat makam raja Kerajaan Sukadana yaitu Tengku Akil yang wafat pada tahun 1845. Hingga kini keturunan dari Tengku Akil masih tinggal tidak jauh dari makam, peninggalannya berupa genta dan pedang pun masih terawat dengan baik. Selain makam dan pelabuhan objek lain yang dikunjungi ialah Benteng dan Tangsi militer Belanda yang berjarak sekitar 2 km dari makam. Pada masa lalu benteng digunakan sebagai pusat pemerintahan distrik sukadana. Selain itu di daerah sekitar benteng dan tangsi militer tedapat pemukiman khusus orang Belanda. Saat ini kondisi bangunan tidak terawat lagi terlihat kotor dan ditumbuhi oleh semak.

            Perjalanan pun berakhir di Sukadana, saatnya kembali ke Ketapang lalu ke Pontianak. Kegiatan arung sejarah bahari tidak hanya mengunjungi objek-objek yang memiliki nilai kebaharian namun juga diadakan kegiatan diskusi dan seminar. Diskusi dan seminar diadakan untuk memperluas wawasan mengenai dunia Kalimantan Barat dan juga dunia kebaharian. Diskusi yang diadakan antara lain mengenai diskusi sejarah maritim.  
   
Semoga dengan adanya kegiatan ini bertambah pula wawasan kebaharian dari para pesertanya, serta dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat didaerah masing-masing. Diharapkan kegiatan ini bukan hanya sekedar perjalanan biasa yang tidak memiliki arti apapun namun diharapkan perjalanan ini membawa pesan tersendiri yang tersimpan di benak para peserta yang selanjutnya mereka dapat mengaktualisasikan dirinya terkait dunia kebaharian. Semoga..
Bogor, Juli 2007

Sunday, August 12, 2012

Mencicipi Masakan India Di Kota Baja



Saat ini masyarakat Kota Cilegon dapat menikmati masakan India di Bollywood Resto. Lokasi Resto ini terletak di Cilegon City Square Blok C16. Bollywood Resto sudah dibuka 4 bulan lalu, sejak akhir Maret 2012. 

Ayu, salah seorang pegawai disana mengatakan bahwa latar belakang pendirian resto ini adalah khususnya untuk melayani warga Negara India dan Warga Negara Asing yang ada di Kota Cilegon. Namun menurutnya lagi, juga untuk melayani warga kota Cilegon yang ingin mencicipi masakan India. Untuk pengunjung disini pun beragam, namun rata-rata Warga Negara Asing yang lebih banyak berkunjung kesini dibanding warga local.

Menurut Ayu juga, menu-menu yang ada di Bollywood Resto sangat beragam. Menunya dimulai dari masakan India, Indonesia dan juga Jepang. Resto ini memiliki 3 chef yang 1 diantaranya berasal dari India dan memang dikhususkan  untuk memasak masakan khas India, sedangkan 2 lainnya berasal dari Indonesia untuk memasak masakan Indonesia dan Jepang. Untuk masakan India sendiri terdiri dari beberapa jenis berupa Ayam, Kambing, Ikan dan Udang. Dari jenis tersebut diolah dengan menggunakan bumbu khas India.

Sedangkan untuk harga makanan pun cukup beragam, untuk makanan seperti chicken curry dihargai Rp.50,000.00 dan untuk Egg Biryani dihargai Rp.40,000. Adapun untuk harga minuman khas India berupa India Masala Tea dihargai Rp.10,000.00. 

Menurut Eka Dewi salah satu pengunjung mengatakan bahwa rasa masakan resto ini memang khas India dengan bumbu-bumbunya. Masakan favoritnya adalah chicken curry dan masakan ini mengingatkannya saat tinggal di jepang 2 tahun lalu yang sempat berkunjung ke resto India yang ada disana. “Rasanya benar-benar persis seperti saat saya makan disana”ujar Eka Dewi. 

Sedangkan untuk Nasi Biryani, bahan baku nasinya sendiri berasal dari India dikarenakan ukuran beras yang ramping dan sedikit lebih panjang, berbeda dengan beras local yang ukuran butiran berasnya lebih gemuk dan pendek. Tidak hanya berasnya saja yang impor, bumbu-bumbu khas India pun diimpor dari sana sehingga kualitas rasa masakan India pun terjaga. Resto ini dimiliki oleh seorang pengusaha yang berasal dari India dan menikahi wanita asli Indonesia.




Saturday, August 11, 2012

Benteng Spielwijk Riwayatmu Kini



Setelah berkunjung ke Tasikardi, saya melanjutkan perjalanan ke Benteng Spielwijk. Perjalanannya sekitar 4 Km dari Tasikardi yang dapat ditempuh dengan waktu 10 menit. 

Tak menunggu lama, saya pun tiba di Benteng Spielwijk yang pada awalnya saya menelusuri sisi selatan sampai dengan sisi timur benteng untuk mencari jalan masuk. Setelah menelusurinya saya tidak menemukan pintu masuk, setelah berbalik arah ke sisi barat ada sebuah jembatan yang menghubungkan ke pintu masuknya. 

Saya memarkirkan sepeda motor saya dibawah pohon yang cukup rindang. Dua orang anak perempuan sedang bermain tak jauh dari tempat parkir dan saya pun bertanya. Suasananya saat itu begitu sunyi.

 “klo mau naik ke atas benteng lewat mana ya?”
“Masuk saja ke arah utara nanti ada tangga menuju atas”jawab mereka.      

Namun saya tidak mengikutinya, saya malah memanjat pagar yang ada di sisi barat benteng yang cukup landai yang bisa saya panjat. Setelah berusaha memanjat akhirnya saya pun berhasil berada diatas benteng spielwijk, memandang ke arah lautan berhiaskan kapal-kapal dan karang-karang yang terlihat jelas setelah laut surut. Aroma misteri di Benteng Spielwijk menyelimuti siang itu.
Saya mencoba membayangkan aktivitas yang terjadi pada masa lampau di benteng ini, aktivitas di atas dan di bawah bunker serta pemantauan musuh. Di benteng tersebut terdapat sebuah terowongan yang katanya terhubung dengan Keraton Surosowan.

Dahulunya Benteng Spielwijk digunakan sebagai menara pemantau yang berhadapan langsung ke Selat Sunda dan sekaligus berfungsi sebagai penyimpanan meriam-meriam dan alat pertahanan lainnya. Namun, tempat tersebut saat ini hanya digunakan sebagai lapangan bola oleh para penduduk.

Eksotisme Tasikardi


Objek selanjutnya adalah Tasik Ardi, Tasikardi berasal dari bahasa sunda yang terdiri dari kata Tasik dan Ardi yang artinya danau buatan. Dibagian tengah Telaga ini terdapat pulau yang pada masa Sultan Ageng Tirtayasa digunakan untuk menampung air yang kemudian disaring melalui pendaleman-pendaleman untuk selanjutnya dialirkan ke keraton dan digunakan untuk masyarakat sekitar. 

Tasikardi terletak di Desa Margasana Kecamatan Kramatwatu Kabupaten Serang. Sebelumnya penjaga museum, pak slamet menginformasikan bahwa lokasinya sekitar 3 km dari situs keraton yang terletak di Desa Banten Kecamatan Kasemen Kota Serang. Jika menemukan pertigaan dari arah keraton langsung belok kiri dan telusuri saja jalan tersebut. Sedangkan jika ingin mengunjungi benteng speilwijk, mesjid pecinan tinggi dan Wihara Avalokitesvara, dari pertigaan tadi mengarah ke kanan. 

Tasikardi pada saat pagi menjelang siang cukup ramai dikunjungi para wisatawan. Mereka datang berombongan dengan menggunakan mobil odong-odong. Setibanya di Tasikardi saya terpukau dengan telaga yang ditengahnya terdapat sebuah pulau, airnya tenang tanpa riak-riak membawa kedamaiaan hati. Karena ini adalah danau buatan, saya pun membayangkan bagaimana danau ini dibuat dengan teknologi pada masa itu. 

Di Pulau yang terletak di bagian tengah danau menyimpan beberapa peninggalan kesultanan Banten, seperti kolam penampungan air, kamar mandi keluarga dan permainan dengan bahan besi yang konon dimainkan oleh anak-anak sultan.

Menapaki Sejarah Banten Lama Melalui Museum Situs Kepurbakalaan


Setelah mengunjungi mesjid Banten lama, saya pun beranjak menuju Museum Situs Kepurbakalaan Banten lama. Museum ini terletak di bagian depan Mesjid Banten lama, namun sebelum menuju ke Museum, harus terlebih dahulu melewati sebuah tanah lapang. Tanah yang cukup luas dengan rerumputan yang mulai meninggi di bagian sisi-sisinya, di bagian tengahnya hanya tanah gersang. Tanah lapang ini dijadikan tempat bermain bagi anak-anak yang tinggal di sekitar Mesjid Banten lama dan juga dijadikan tempat untuk menggembala kambing. 

Museum Situs Kepurbakalaan terletak di sebelah timur Mesjid Banten lama, ketika menyusuri sisi barat museum ini saya terlebih dahulu melihat Meriam Ki Amuk yang besar. Setelah melewati pintu gerbang museum saya pun bertanya kepada pihak keamanan dan diarahkan untuk membeli tiket masuk di loket. Dengan hanya Rp.1000 saya dapat masuk ke Museum tersebut, namun sebelum masuk saya tertarik untuk melihat Meriam Ki Amuk dari dekat. Meriam ini berukuran besar dan terletak di bagian luar gedung museum, di moncong meriam ini masih tersimpan bola besi yang merupakan amunisi meriam yang siap untuk dihempaskan oleh sang meriam. Setelah puas melihat-lihat meriam, saya pun bergegas masuk ke dalam museum.

Museum Situs Kepurbakalaan ini sangat sepi, hanya ada 5 orang yang berada di dalam museum ini, termasuk saya. Padahal museum ini menyimpan peninggalan-peninggalan beragam hal yang terkait dengan sejarah kesultanan Banten. Mulai dari silsilah kesultanan, artefak berupa kerajinan keramik, peralatan memancing masa lalu, sampai dengan peta dunia pada abad itu. Saya sangat tertarik dengan peta dunia yang ada disitu, bagaimana para penjelajah dapat memetakan dunia dengan alat dan teknologi navigasi yang sangat terbatas. Hasil pemetaan itu memang tidak sama persis seperti yang sebenarnya, namun jika melihat sekilas bentukan bentukan pulau dari dunia yang mereka jelajahi hampir mirip dengan yang ada saat ini.

Tujuan selanjutnya setelah museum adalah sisa reruntuhan keraton surosowan yang berada tepat didepan museum atau disebelah selatan dari museum. Saya harus mencari-cari dahulu dimana gerbang masuknya dengan menyusuri sisi tembok keraton dan menyusuri jejeran parkiran mobil serta para pedagang di sebelah kanan saya. Akhirnya saya menemukan pintu gerbangnya, namun sayang gerbang tersebut terkunci dengan rantai yang tergembok. Cukup kecewa dengan apa yang terjadi, namun setelah saya beranjak ke sisi yang lain saya melihat diatas tembok keraton ada pria paruh baya yang sedang asik berburu objek di dalam sisa reruntuhan keraton untuk diabadikan. Di salah satu sisi tembok ada bagian yang rupanya sering digunakan untuk masuk ke dalam dengan cara memanjat, hal ini terlihat dari sisa-sisa pijakan kaki.

Saya pun mengikuti jejaknya untuk membunuh rasa penasaran saya terhadap isi bagian dalam museum ini. Sisa-sisa keraton ini memang indah untuk diabadikan dengan tembok-tembok batu bata merah dan batu karang. Rumput-rumput liar terhampar diselingi oleh tembok-tembok keraton dan di sisi yang lain adapula cekungan-cekungan. Beberapa anak kecil terlihat sedang asik bermain disalah satu sisi bagian dalam keraton ini.

Dari beberapa sumber, disebutkan bahwa reruntuhan keraton seluas sekitar 3,5 hektar ini dibangun pada tahun 1552 yang dulunya merupakan tempat tinggal para sultan Banten. Keraton ini kemudian dihancurkan Belanda pada saat Kerajaan Islam Banten di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1680 berperang melawan penjajah Belanda. Keraton ini sempat diperbaiki, tetapi kemudian dihancurkan kembali pada tahun 1813 karena pada saat itu sultan terakhir Kerajaan Islam Banten, Sultan Rafiudin, tak mau tunduk kepada Belanda.


Saturday, July 28, 2012

Mesjid Agung Banten Lama Menjelang Ramadhan



Banten lama merupakan surga bagi para pecinta sejarah, karena di tempat ini ditemukan beberapa peninggalan masa lalu yang sampai dengan saat ini masih bisa dinikmati. Sebut saja, Mesjid Agung Banten Lama, Sisa reruntuhan Keraton Surosowan dan Keraton Kaibon, Pelabuhan Karangantu, Mesjid Pecinan Tinggi, Benteng Spielwijk, Wihara Avalokitesvara, dan Tasik Ardi.

Hari Minggu, 15 Juli 2012 cuaca cerah pagi itu dan saya berencana untuk mengunjungi Banten Lama. Dengan bersepeda motor, saya pun meluncur kesana, di sepanjang jalan saya melewati pasar lama serang, sesekali jajaran pohon beringin di sisi kiri dan kanan jalan, pemukiman, makam-makam para petinggi kerajaan islam banten lama dan tak terasa sebuah gapura menyambut kedatangan saya di Banten Lama. Tak jauh dari gapura tersebut, menara mesjid Banten Lama yang berdiri memesona pun terlihat.

Saya tiba sekitar pukul 10 pagi, ketika itu sudah banyak para pengunjung yang datang. Mereka datang dengan menggunakan bus, mobil pribadi, kendaraan umum dan sepeda motor seperti saya. Sayangnya jalan ketika memasuki situs Banten Lama, kondisi permukaan jalan tidak begitu mulus, sehingga motor saya pun dibuat bergoyang-goyang dan harus hati-hati karena kepadatan jalan pagi itu. 

Setelah memarkirkan sepeda motor, saya pun beranjak menuju Mesjid Banten Lama. Saya menyusuri sebuah koridor layaknya memasuki sebuah terowongan karena di sisi-sisinya banyak para penjual yang menjajakan beragam hal dan bagian atasnya ditutupi oleh terpal yang sambung menyambung sampai dengan gerbang mesjid Banten Lama. Kala itu saya tidak sendirian, beberapa rombongan datang berada di depan saya, rombongan lain berada di belakang saya, begitupun dengan arah sebaliknya sehingga koridor menuju Mesjid Banten Lama terasa sangat sempit dan sesekali kemacetan pun terjadi karena ada rombongan yang berbelanja.

Setelah melewati koridor sudah ada petunjuk untuk para pengunjung yang ingin berziarah dengan sebuah arah panah menunjukkan kepada para peziarah kemana harus melangkah. Di dua titik saya melihat tempat penukaran uang logam receh bagi para pengunjung yang ingin bersedekah kepada para pengemis di areal pemakaman. Sayup-sayup suara lantunan doa terdengar dari sebuah pengeras suara di areal Mesjid. 

Para peziarah terlihat memadati pintu masuk untuk berziarah, sebagian peziarah yang lain ada yang membeli berbagai jajanan makanan yang ada di halaman mesjid, sebagian yang lain ada yang berfoto-foto di depan menara, sebagian lagi ada yang bercengkerama dan ketika melongok ke puncak menara Mesjid, terlihat beberapa orang sedang memandang para peziarah yang datang. Langit biru yang cerah, awan cumulus menghiasi pemandangan di atas mesjid Banten lama menambah mistis suasana pagi itu.

Rupanya menjelang Ramadhan ini banyak para peziarah datang kesini dengan berbagai tujuan, ada yang ingin mendoakan dan tidak jarang juga yang ingin mengambil keberkahan dari ritual ziarah kubur. Sedangkan saya sendiri hanya ingin berwisata, menikmati minggu pagi yang cerah di Banten lama.

Suatu Pagi di Pendopo Gubernur Banten



Suasana sunyi begitu terasa saat saya memasuki gerbang pendopo Gubernur Banten. Sebelumnya seseorang mempersilahkan saya masuk ketika melihat saya mengambil foto gerbang tersebut dan tentunya saya meminta izin terlebih dahulu dengan pihak keamanan untuk memasuki gerbang bangunan ini.

Pagi itu tidak ada aktifitas apapun di pendopo Gubernur Banten, ini dikarenakan hari ini hari minggu 15 Juli 2012. Namun di alun-alun Kota Serang sedang ada kegiatan Serang Fair, kegiatan yang diadakan untuk meramaikan hari jadi kota serang yang sayup-sayup suaranya terdengar hingga ke pendopo Gubernur Banten.

Bangunan yang dibangun sekitar abad ke-19 terletak di ujung barat jalan Jend. Ahmad Yani, yang merupakan jalan utama kota serang. Tidak jauh dari pendopo Gubernur terdapat alun-alun kota dan juga kantor Bupati Serang dan disinilah pusat pemerintahan pada masa colonial dulu yang fungsinya masih bertahan hingga saat ini.

Pada awalnya bangunan ini merupakan kantor Residentie Van Bantam,lalu pada tahun 1974 dirubah statusnya menjadi wilayah I provinsi Jawa Barat dan bangunan ini digunakan sebagai kantor pembantu Gubernur Jawa Barat wilayah I Banten sampai terbentuknya Provinsi Banten pada tahun 2000.
Pendopo gubernur ini merupakan sebuah kompleks bangunan yang bangunan utamanya terletak di bagian tengah, adapun dikedua sisinya terdapat bangunan-bangunan tambahan yang mendukung fungsi bangunan utama. 

Bangunan utamanya memiliki 8 pilar yang kokoh menahan atapnya, dibelakang pilar tersebut terdapat 3 pintu utama yang besar-besar dengan gaya arsitektur abad ke-19. Sekitar ¾ bagian dari pintu utama tersebut terdapat rongga ventilasi . Namun tidak hanya pintunya saja yang besar, jendelanya pun sama besarnya.

Arsitektur bangunan ini sangat erat kaitannya dengan iklim ataupun cuaca dari kota serang. Kota ini merupakan kota pantai, ini menyebabkan suhu udara cukup panas, sehingga agar didalam bangunan terasa nyaman maka dibuatlah pintu-pintu dan jendela dengan ukuran besar dengan rongga udaranya, selain itu jarak antara lantai dan atap dibuat cukup tinggi sehingga setiap orang yang berada didalam ruangan tidak merasa kepanasan oleh cuaca kota serang.

Tepat didepan bangunan terdapat sebuah air mancur dengan taman kecil disekelilingnya , juga terdapat sebuah tiang bendera dan 2 buah meriam buatan. Dihalaman yang lebih luas terdapat beberapa buah pohon beringin yang membuat sejuk halaman tersebut. Kicauan beragam burung di sekitar pohon menambah syahdu suasana. Mereka berkicau dengan beragam kicauan dan sesekali mereka turun untuk mencari makan di sekitar halaman. Suasananya menambah kesejukkan pagi itu dan tidak ada salahnya jika hari minggu pagi berkunjung ke pendopo gubernur banten ini untuk menikmati keindahan arsitektur bangunan dan suasana disekitar bangunan.




Tuesday, July 17, 2012

Musik Etnik Pegunungan Andes Menyapa Serang


Hari Sabtu biasanya saya beristirahat dirumah untuk melepas lelah setelah sepekan bekerja. Namun tidak untuk hari sabtu lalu, saya diberi tugas untuk menjaga stand perusahaan tempat saya bekerja bersama dua orang teman lainnya. Dengan langkah terseok-seok saya pun tiba di lokasi pameran yaitu Mall of Serang, sebuah mall yang berada tepat dijantung kota Serang.

Ketika saya tiba di area pameran, tepat disebelah kiri stand perusahaan saya beberapa orang sedang mempersiapkan perlengkapannya. Tampak sebuah stand book music, alat yang dapat menyimpan lembaran not-not lagu, sebuah sound system dan kelengkapannya. Saya pun bertanya-tanya dalam hati dan pikir saya mungkin sebuah sekolah music yang mencoba menjaring pengunjung agar mendaftar menjadi siswanya. Saya pun mencoba bertanya kepada salah seorang wanita yang ada di stand tersebut.”sekolah music ya mba?” dan dia pun menjawab dengan singkat “bukan”. Wajahnya terlihat antara bingung dan enggan menjelaskan. “Lihat saja sendiri  nanti“ menurut pikiranku mencoba membaca arah pikirannya menjawab pertanyaan saya tadi.

Setelah selesai merapihkan seluruh perlengkapannya barulah saya mengetahuinya, ternyata stand tersebut menjual album original Chalwanka, sebuah grup music etnik dari pegunungan Andes di Peru. Selain menjual album original chalwanka yang berisi lagu-lagu instrumental internasional populer, stand tersebut juga menjual kerajinan tenun dan sulam khas peru, ada yang berbentuk tas, sejenis kupluk, syal dan alat music tradisional peru, zamponas dan quenas. Ada juga kain dengan motif Indian inca yang sekilas mirip dengan kain tenun ulos.




Dalam sebuah penjelasannya di pacha-chalwanka.blogspot.com, chalwanka sendiri adalah pacha yang merupakan pendiri grup music etnik tersebut, bisa juga duo seperti dulu bareng Yauri, atau bareng Gatot Alindo, trio bersama Lucho (Chili), Luis (Spanyol). 

Alat music yang digunakan oleh chalwanka adalah zamponas dan quenas. Zamponas sendiri merupakan sebuah alat music tiup tradisional peru atau indian yang terbuat dari bamboo yang bersumber dari hutan amazon. Ukuran bamboo nya kecil, mungkin berdiameter 1-2 cm. Zamponas tersusun dari beberapa bamboo, disalah satu ujungnya bamboo bamboo tersebut saling bertemu dan merata. Sedangkan diujung lainnya panjang bamboo berbeda dari kiri ke kanan yang semakin panjang. Bambu tersebut dipertemukan dengan bamboo yang melintang terikat pada sisi yang mendekati ujung salah satu sisinya dan dibeberapa bagian terikat dengan tali berwarna warni sehingga bamboo-bamboo tersebut semakin rekat.


Adapun quenas juga merupakan alat music tiup tradisional peru atau Indian, terbuat dari kayu yang juga berasal dari hutan amazon. Bentuknya seperti suling atau flute, namun dengan diameter yang lebih besar dan terbuat dari kayu, mungkin sejenis kayu jati atau meranti. Diameter disalah satu ujung lubangnya lebih besar dibandingkan ujung lainnya.

Awalnya stand tersebut sepi-sepi saja, sesekali pengunjung hanya melirik ke arahnya, sesekali bertanya dengan rasa penasaran dan sesekali pula melewati dengan tidak menghiraukannya. Sama persis seperti apa yang dialami oleh stand perusahaan tempat saya bekerja.

Tak terasa sore pun tiba, dan seorang musisi asal peru memulai aksinya. Musisi tersebut adalah pacha chalwanka, pendiri grup music etnik chalwanka dari pegunungan andes Amerika Selatan. Dua buah alat music tradisional peru, zamponas dan quenas menemani penampilannya. Pacha pun meniupkan alat music tradisional tersebut dengan penuh emosi dan membawakan beberapa lagu secara instrumental seperti Right Here Waiting Richard Marx, Chiquitta ABBA, My Heart Will Go On Celine Dion, dan beberapa lagu terkenal lainnya.


Sesekali pacha juga membawakan lagu latin yang terasa asing ditelinga saya. Namun nada-nada yang dihadirkan yang keluar dari zamponas dan quenas mampu membuat pengunjung terkesima, terkagum-kagum bahkan terhipnotis oleh penampilan pacha. Ketika selesai membawakan lagu, riuh tepuk tangan pengunjung membahana membuat suasana sore itu semakin semarak.

Jika di eropa terdapat pegunungan Alpen, di Asia terdapat pegunungan Himalaya, maka di Amerika selatan terdapat pegunungan Andes yang dengan pengaruhnya tercipta nada-nada eksotis yang bersumber dari zamponas dan quenas.

Sunday, July 8, 2012

Menyesapi Karya Awal Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff



Sering kali ketika saya berkunjung ke kota Bogor, saya hanya melewati bangunan ber arsitektur eropa ini. Namun tidak pernah saya memperhatikan lebih detail bentuk bangunan ini dan mencoba menyelami lebih dalam nilai bangunan yang saat ini menjadi salah satu landmark di kota Bogor. Bangunan yang anggun berdiri di tengah kota dengan hiasan taman yang luas dan rusa-rusa Nepal yang cantik memperindah suasana bangunan tersebut. 

Bisa dikatakan istana Bogor merupakan pusat dari kota Bogor, titik awal dimana pembangunan sebuah kota dimulai sekitar 3 abad yang lalu. Kota yang pada awalnya bertujuan sebagai tempat peristirahatan bagi para pejabat VOC yang sedang melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Priangan-Bandung. Namun saat ini, tempat peristirahatan atau tepatnya bangunan tersebut sudah beralih fungsi hanya menjadi sebuah hiasan kota yang sesekali digunakan untuk acara kenegaraan. 

Pada awalnya ketika saya tiba, saya hanya dapat memandangi bangunan yang megah itu dari kejauhan. Tepatnya dari jalan Ir. H. Djuanda, di depan gerbang bangunan tersebut. Saya pun ingin sekali melihat lebih dekat bangunan tersebut, dan untuk mencapainya saya harus masuk kedalam Kebun Raya Bogor.
Istana Bogor berbatasan langsung dengan Kebun Raya Bogor, hanya sebuah pagar besi yang mengelilingi bangunan tersebut menjadi pembatasnya, saya pun menelusurinya dari sisi sebelah timur ke sisi selatan. 


Di salah satu sisinya terdapat sebuah danau buatan dengan tanaman teratai tumbuh menghiasinya, danau yang memisahkan kaum proletar dengan kaum bangsawan pikir saya. Diseberang danau buatan tersebut,bagian belakang istana nampak sangat jelas dengan tiang-tiang yang kokoh menopang bangunan tersebut. Di bagian tengah bangunan tersebut, sebuah menara dengan kubah keemasan menyeruak muncul, menambah keindahan bangunan arsitektur abad ke-19 tersebut.

Di beberapa titik di sekitar bangunan, terdapat beberapa patung yang diantaranya adalah patung dengan judul “tangan tuhan” karya pematung swedia, patung perunggu “Hercules” karya pemahat polandia dan patung “pegassus” karya pematung swedia. Patung-patung tersebut menambah suasana mistis bangunan tersebut, mereka mencoba menuturkan kisah dibalik berdirinya bangunan ini. 

Sangat mudah untuk menikmati keindahan bangunan ini dari dekat, para pengunjung bisa menaiki satu kali angkutan kota dari terminal baranang siang yang menuju kebun raya bogor. Sedangkan untuk kendaraan pribadi, setelah keluar tol jagorawi bisa langsung mengarah ke utara menuju kebun raya bogor. Untuk selanjutnya masuk ke dalam kebun raya bogor menuju sisi selatan dari istana bogor.Disana kita bisa menikmati keindahan bangunan beralaskan rumput yang hijau dan dihadapannya terhampar danau buatan berhiaskan bunga teratai nan cantik.

Serang, 8 Juli 2012