Showing posts with label Catatan Perjalanan Banten. Show all posts
Showing posts with label Catatan Perjalanan Banten. Show all posts

Thursday, December 5, 2013

Mencicipi Gurihnya Sate Bandeng





Hawa panas begitu terasa ketika saya masuk ke dalam ruangan pembakaran sate bandeng yang berada di bagian depan rumah. Bara-bara api masih menyala, membakar sate bandeng yang telah berjajar diatas tempat pembakaran sederhana yang terbuat dari tumpukan bata merah. Aroma sate bandeng pun tercium dari ruangan pembakaran ini.

Ruangan pembakaran sate bandeng ini amat sederhana, terletak di bagian depan rumah dari ibu Haji Mariyam. Hanya bagian depannya saja yang terbuka, bagian lainnya dikelilingi tembok dengan beberapa lubang ventilasi dan di salah satu bagiannya terhubung dengan tempat penjualan sate bandeng. Beberapa bakul yang terbuat dari anyaman bamboo berada di tengah-tengah ruangan dan siap menampung sate bandeng yang telah dibakar.

Untuk membakar sate bandeng, di ruang pembakaran ini terdapat dua buah tempat pembakaran yang panjangnya mencapai 3-4 meter yang masing-masing bisa membakar sekitar 40 sate bandeng. Kedua tempat pembakaran ini berjajar dengan dipisahkan oleh jarak sekitar 2-3 meter mendekati tembok. Para pemuda membakar sate bandeng dengan posisi bertolak belakang.

Di setiap tempat pembakaran sate bandeng, terdapat setidaknya dua orang pemuda. Seorang pemuda tengah sibuk mengangkat sate bandeng yang telah matang dan menaruhnya di bakul bamboo tadi. Pemuda lainnya mengolesi adonan di bagian luar dari bandeng yang telah dijepit oleh bamboo lalu menaruhnya di tempat pembakaran.

Ruang pembakaran ini memang hanya untuk membakar saja , sebelumnya sate bandeng yang siap dibakar diberikan oleh bagian dapur di ruangan lain tak jauh dari ruangan pembakaran. “Kalau mau lebih tahu proses pembuatannya dari awal bisa ke dapur mas.”ujar salah seorang pemuda di ruangan pembakaran. Saya pun bergegas menuju ke ruangan dapur. “Silahkan mas kalau mau ke dapur” seorang wanita paruh baya mempersilahkan saya sembari membersihkan daun pisang yang akan digunakan alas untuk sate bandeng.

Ruangan dapur ini terletak di seberang ruangan pembakaran dan di antara keduanya ada ruangan penjualan yang ruangannya agak menjorok ke dalam. Rupanya d ruangan dapur, empat orang wanita dan seorang pemuda tengah sibuk, masing-masing melakukan tugasnya sambil duduk diatas tempat duduk kecil.

Seorang wanita berambut ikal mempersiapkan adonan yang berupa campuran daging ikan bandeng, santan kental dan bumbu bumbu. Dua orang wanita lainnya memasukkan adonan yang telah dibuat tadi ke dalam ikan bandeng melalui rongga mulut ikan tersebut dengan menggunakan corong plastic. Sedangkan seorang wanita lagi menjepitkan ikan bandeng yang telah diberi adonan tadi ke dalam dua bilah bamboo untuk selanjutnya siap di bakar. Satu-satunya pemuda yang ada di ruangan tersebut melunakkan daging dan memisahkan duri-duri kecil dari dagingnya.

Setelah sate bandeng siap di bakar, maka sate bandeng yang telah di jepit tadi dibawa ke ruang pembakaran untuk selanjutnya di bakar sampai dengan matang dan siap di santap.

Rupanya untuk membuat sate bandengan diperlukan dua kali proses pembakaran. Proses pembakaran yang pertama untuk mematangkan isi dari ikan bandeng ini sendiri. Lalu setelah matang, sate bandeng di angkat lalu bagian luar satenya dilumuri oleh bumbu santan kental tadi sampai menutup seluruh bagian dengan ketebalan sekitar 0,5 cm. Kemudian sate bandeng yang telah diolesi bumbu di bagian luarnya kembali di bakar di ruang pembakaran.

Setelah saya puas melihat proses pembuatan sate bandeng tadi saya beranjak ke ruangan penjualan sate bandeng yang ruangannya berada di antara tempat pembakaran dan ruangan dapur. Disana saya membeli dua buah sate bandeng yang masing-masing harganya Rp25,000,-. Seorang pemuda melayani dengan ramah setiap pelanggan yang ingin membeli sate bandeng tersebut dan membungkus dengan kotak khusus agar pelanggan mudah membawanya.

Ketika tiba di rumah saya pun mencicipi sate bandeng tersebut, rasanya gurih dan sedikit manis.Begitu nikmat karena ditambahkan sambal khusus apalagi durinya sudah tidak ada rasanya lebih nikmat bukan.



Thursday, April 11, 2013

Secercah Pelangi Di Langit Sawarna




Sabtu malam tanggal 30 Maret 2013 saya tidak bisa tidur karena lokasi tempat saya menginap tepat di sisi jalan yang menghubungkan jalan keluar dan pantai sehingga sampai larut malam masih saja ada pengunjung yang berlalu lalang dan membuat bising. Saya hanya dapat memejamkan mata tanpa terlelap dengan nyenyak. Sekitar pukul 4 pagi rupanya sudah ada para pengunjung yang berangkat ke pantai dan entah apa yang mereka cari, mereka berjalan sembari bersenda gurau.

Tak berselang lama putriku yang cantik bangun dari tidurnya karena suara-suara gaduh di sisi penginapan. Setelah benar-benar sadar putriku meminta keluar dari penginapan dan bermain di beranda. Saya masih mengantuk karena memang tidak nyenyak tidur, namun dipaksakan juga untuk menemaninya bermain. Setelah bosan bermain di beranda, putriku ingin bermain ke luar penginapan dengan bahasa tubuhnya yang merengek. “Setelah subuh kita akan ke pantai, sabar ya cantik.” Jawabku singkat.

Selepas shalat subuh kami pun berjalan menuju pantai dengan membawa bekal makanan dan air minum. Rencananya kami akan menuju Tanjung Layar yang jaraknya hanya sekitar 700 meter dari pantai ciantir ini.  Bongkahan karang yang berbentuk layar sendiri memang terlihat dari pantai ciantir. Rupanya di pantai masih sepi, beberapa pengunjung terlihat masih terlelap di saung-saung yang terletak di tepi pantai.

Kami berjalan ke arah timur menelusuri sisi pantai dengan menggunakan sandal tracking, menjejakkan langkah-langkah kami ke dalam pasir putih nan lembut. Suara gemuruh ombak menemani langkah-langkah kami dan rembulan di langit sana menjadi cahaya dalam perjalanan kami menuju tanjung layar. Sekitar pukul 5.30 pagi kami beristirahat sejenak di tepi pantai ciantir sambil menikmati rembulan dan mengkonsumsi perbekalan kami.

Setelah beristirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan kami. Kali ini kami tidak menelusuri sisi pantai namun menuju jalan setapak di daratan di tepi pantai karena setelah kami menapaki pasir yang lembut kami menemukan karang-karang yang sulit untuk dilalui. Rupanya jalan setapak yang dilalui tidak mulus karena ada beberapa genangang lumpur sehingga kami harus melipir ke  tempat kering yang aman dilalui.

Dalam perjalanan tersebut kami melewati sebuah saung dan tenda, rupanya salah satu kelompok pecinta alam sedang camping disana, di tepi pantai tidak jauh dari tanjung layar. Tak lama beberapa saung yang menjual berbagai makanan kami temui dan tak jauh dari sana terletak pantai tanjung layar. Langit mulai terang, matahari masih belum muncul tertutup sebuah bukit di sisi timur.

Sekitar pukul 6 pagi kami tiba di pantai tanjung layar dan putriku masih terlelap dalam pelukan ayahnya. Pantai tanjung layar sedang surut sehingga karang-karang di dasar pantai terlihat jelas dengan bentuknya yang kasar dan sekitar 50 meter dari bibir pantai bongkahan karang yang berbentuk layar kapal berdiri dengan lembut menunjukkan pesonanya di pagi itu.

Saya terduduk di tepi pantai dan zahra masih terlelap di dada saya, kaki pun saya luruskan sambil menikmati pesona tanjung layar. Rupanya pasir pantai di Tanjung Layar lebih kasar jika dibandingkan pantai ciantir.

Sekitar pukul 6 lebih sudah banyak pengunjung yang datang, mereka berjalan menjejakkan kakinya di atas karang yang menghubungkan tepi pantai dengan tanjung layar. Di beberapa bagian terdapat genangan air laut yang terjebak di cekungan dangkal ketika laut surut. Saya pun tergoda untuk berjalan diatas karang-karang tadi mendekati bongkahan karang yang berbentuk layar.
Saya berjalan menuju karang yang berbentuk layar tadi melalui beberapa genangan air laut, rupanya air laut sudah mulai pasang namun masih sebatas betis bagian bawah. Beberapa hewan laut terjebak di genangan dan saya bisa melihat beberapa ikan kecil yang ada disana. Seorang pengunjung pun mengabadikannya.

Saya berjalan ke balik bongkahan karang yang berbentuk layar tadi, rupanya ada sebuah pemecah ombak alami yang berjarak sekitar 50 meter. Dari bongkahan karang dan hal tersebut mencegah bongkahan karang tadi dari abrasi pantai sehingga bisa bertahan hingga saat ini. Berbeda dengan dasar pantai di arah utara yang dasarnya kasar dan bergelombang dengan bentuk karangnya maka di sebelah selatan dasar batuan karangnya lebih datar dan banyak sekali kulit kerang yang terjebak di atas karang dan menyatu dengan batu karang yang saya tapaki. Mungkin sudah ribuan tahun sehingga bisa menyatu dengan batuan tadi.

Banyak para pengunjung berkumpul di sisi timur yang merupakan batas akhir pemecah ombak alami, mereka mengabadikan gelombang ombak yang menyerang batu karang. Ketika menelusuri pemecah ombak alami ini, tak jarang ketika ombak besar maka para pengunjung kebasahan terkena semburan ombak yang tumpah melewati barrier tadi.

Setelah puas mengelilingi bongkahan karang yang berbentuk layar tadi, maka saya kembali ke tepi pantai dan air laut sudah mulai pasang sekitar pukul 6.45 pagi. Rupanya putriku sudah bangun dan mulai bermain di tepi pantai ditemani sang bunda. Ternyata putriku sudah mulai berani berenang di pantai, ketinggiannya di beberapa titik masih dangkal karena perbedaan ketinggian karang.

Sebuah hal yang paling mengejutkan dari fenomena yang ada di tanjung layar, semburat pelangi di tengah laut di atas langit sawarna pun muncul. Sebelumnya saya tidak menyadarinya hingga salah seorang pengunjung berkata “Wuih ada pelangi di tengah laut, keren!” ungkapnya. Saya pun mengarahkan pandangan ke tengah lautan, tempat dimana pelangi tersebut timbul.

Pelangi tersebut tidak sempurna hanya terlihat beberapa campuran warna merah, kuning, hijau dan biru yang berbentuk diagonal dan bagian atasnya tertutup awan kelabu. Rupanya ditengah laut hujan baru saja reda dan terbentuklah pelangi. Para pengunjung pun mengabadikan fenomena tersebut dan setelah puas mengamati pelangi tak lama kami pun bergegas kembali ke penginapan untuk beristirahat sejenak dan kembali pulang.



Wednesday, April 10, 2013

Sawarna, surga tersembunyi di selatan Banten



Suara deburan ombak yang besar menggoda kami ketika kami tiba di pantai pasir putih Desa Sawarna 30 Maret 2013 lalu. Awan yang mulai berwarna kelabu di sore tersebut tidak menyurutkan kami untuk bermain di tepi pantai. Rupanya perjalanan 6 jam dari kota cilegon terbayar dengan keindahan pantai pasir putih yang lembut. Suara deburan ombak, pasir putih yang lembut dan keindahan perbukitan yang menghiasi pantai yang membentang di sisi barat dan sisi timur pantai merupakan suguhan tersendiri bagi para penikmat pantai.

Saya tidak pernah menyangka akan melewati hutan yang begitu lebat dengan pepohonan yang tinggi serta jalan yang berkelok dan memiliki tanjakan yang curam. Ternyata dibalik hutan-hutan tersebut sebuah pemandangan yang indah hadir dan sungguh sawarna merupakan surga tersembunyi di selatan banten.

Saya bersama istri dan putri saya pun bermain di tepi pantai dan sesekali duduk menikmati pemandangan laut biru yang terhampar. Di bibir pantai yang ramai dengan para pengunjung banyak yang menceburkan dirinya ke laut dan bermain-main disana. Sedangkan saya dan istri cukup duduk-duduk menikmati keindahan pantai dan sesekali mengabadikan momen bersama. Sedangkan putri kecilku berjalan-jalan kesana kemari diliputi suasana berbeda di tepi pantai.

Sebelum mencapai pantai ini, kami  harus melewati jembatan gantung yang membentang di atas sungai sawarna. Lebar jembatan tersebut sekitar 1,5 meter dengan panjang sekitar 60 meter. Jembatan yang merupakan cirri khas dari sawarna ketika wisatawan berkunjung ke pantai sawarna. Beberapa pengunjung terlihat ketakutan ketika menyeberangi jembatan ini. Sedangkan putri saya bergembira karena dibuat bergoyang-goyang diatas jembatan tersebut.

Disisi barat pantai pasir putih beberapa perahu nelayan terdiam dengan lembut di atas pasir putih. Rupanya para nelayan tak melaut karena ombak yang cukup tinggi sehingga cukup berbahaya jika digunakan untuk melaut. Hal itu pun saya ketahui dari salah satu penduduk disana yang membuka usaha warung makan. “Pesanan ikan tidak ada karena semalam nelayan tak melaut karena ombak yang tinggi”ujarnya.

Rupanya pantai pasir putih adalah sebutan yang lazim diberikan oleh para pengunjung pantai ini, sedangkan nama sebenarnya dari pantai ini adalah pantai ciantir. “Para pengunjung biasa menyebut pantai ini dengan pantai pasir putih sedangkan penduduk disini mengenal pantai ini dengan pantai ciantir” ujar salah satu penduduk. Pantai ciantir yang merupakan sebuah teluk ini memang berpasir putih yang lembut dan terhampar luas jadilah para pengunjung menamakannya pantai pasir putih.

Pantai Sawarna terletak di Desa Sawarna Kecamatan Bayah Lebak Banten. Pantai ini bisa dicapai dengan melalui 2 rute dengan menggunakan kendaraan pribadi dari kota cilegon. Rute pertama, dari cilegon menuju serang lalu mengarah pandeglang dan mengambil jalur saketi-labuan selanjutnya mengambil arah ke malimping dan menuju bayah. Rute kedua, dari kota cilegon menuju serang lalu mengarah ke pandeglang melewati cikulur menuju gunung kencana mengambil arah ke malimping dan bayah.

Dengan perjalanan yang cukup jauh maka warga disini menyediakan home stay atau tempat bermalam. Biasanya harga untuk menginap semalam berkisar Rp.100,000,- namun karena long week end biasanya para pengelola menaikkan harganya menjadi Rp.170,000,- per orang termasuk makan 3 kali. Sedangkan kami menginap di sebuah kamar dengan berbagi kamar mandi seharga Rp.300,000,- tanpa makan. Rupanya hukum mekanisme pasar berlaku juga disini, semakin banyak permintaan maka harga semakin meningkat dan kami terpaksa menerimanya.

Sore hari di tepi pantai ciantir ditutup dengan hujan yang cukup lebat dan kami pun berlari menjauh dari pantai menuju sebuah saung yang menjual makanan dan minuman. Sambil menunggu hujan reda saya memesan segelas capucino dan sebuah pop mie untuk istri dan putriku. Setelah hujan mulai reda maka kami pun beranjak ke penginapan untuk beristirahat.

Wednesday, February 13, 2013

Berburu Angle di Writing Day Rumah Dunia


Minggu 13 Januari 2013, peserta Kelas Menulis Rumah Dunia (KMRD) angkatan 20 dan 21 melaksanakan kegiatan Writing Day di Rumah Tukik, Kampung Jambangan, Kelurahan Bandulu, Kecamatan Anyer Serang-Banten. Menurut Jack Alawi selaku ketua panitia, tujuan diadakannya kegiatan Writing Day adalah mencari angle yang beragam untuk tulisan. 

Peserta Writing Day kali ini berjumlah 60 orang. Pada kegiatan ini peserta kelas menulis dibagi 4 kelompok dan menyebar untuk mencari angle penulisan. Setiap kelompok diberikan satu mentor dari relawan.

Sebelum peserta dibagi empat kelompok, terlebih dahulu diberikan materi Travel Writer oleh Gol A Gong, tutor KMRD. Menurutnya saat ini orang dapat dengan mudah mengunjungi berbagai tempat dengan tiket murah dan mempublishnya di media social. “Namun agar sebuah tulisan perjalanan dapat dimuat di media maka harus mencari angle yang tepat” sambung Gol A Gong. “ Jadi bukan hanya melihat tapi menemukan angle”.

Setelah peserta kelas menulis menyebar mencari angle penulisan maka dilakukan evaluasi. Selanjutnya para peserta menuliskannya di rumah nanti.

Tidak hanya mencari angle penulisan, kegiatan Writing Day juga diisi oleh acara games yang dipandu oleh Koelit Ketjil, relawan RD. Salah satu games yang menarik adalah mengenai sumber informasi. Bagaimana para peserta diminta memberikan sebuah benda berisi sebuah informasi dan peserta tersebut diminta menyampaikan ke peserta lain setelah mendapatkan informasi dari sumber informasi pertama.

Evy Herniawaty mengakui bahwa kegiatan ini sangat penting untuk menambah kemampuannya dalam menulis. “Writing Day penting diadakan karena materinya membantu dalam penulisan.” Tutur Evy, salah satu peserta KMRD angkatan 21 yang juga mahasiswa UPI Serang itu. (*)

Saturday, January 26, 2013

Rumah Tukik, TBM di Tepi Pantai Anyer

Suara deburan ombak yang bergemuruh menyambut kami ketika kami datang di Pantai Anyer, minggu, 13 januari 2013 yang lalu. Langit kelabu menggelayut manja masih menampakkan diri setelah menjatuhkan butiran-butiran air hujan. Semilir angin membawa kesejukan bagi para pengunjung Pantai Anyer ini.

Biasanya pantai identik dengan kawasan wisata dengan tempat berbelanja, penginapan dan restaurant yang menemaninya. Tetapi di Pantai Anyer ada sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan pantai lainnya, yaitu Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Rumah Tukik, yang berjarak sekitar 300 meter dari bibir pantai.

Awalnya kami sempat melewati TBM ini. Setelah memutar balik kendaraan maka kami memasuki sebuah resort persis ditepi pantai. Di Seberang resort inilah TBM Rumah Tukik berdiri, hanya dipisahkan oleh Jalan Raya Anyer, lalu berjalan sekitar 100 meter maka bangunan rumah berdiri disana. Disamping bangunan tersebut ada sebuah bangunan serbaguna yang terbuat dari rangkaian kayu jati beratapkan ijuk. Dibelakang bangunan ini terdapat bekas ladang dan kebun membuat Rumah Tukik semakin asri.

TBM Rumah Tukik terletak di kampung jambangan, Desa Bandulu, Kecamatan Anyer, Serang, Banten. TBM ini berdiri sejak 10 Agustus 2008 yang didirikan oleh Ibu Yoet Suharya, pengusaha batubara di Kalimantan. “Tujuan dibangunnya, adalah untuk merangsang anak-anak di Kampung Jambangan agar gemar membaca.” Tutur Setiana Solehah, Bendahara TBM.

Beragam kegiatan untuk anak-anak Kampung Jambangan yang diselenggarakan oleh TBM antara lain belajar komputer, membuat kerajinan tangan yang terbuat dari bunga dan pohon, latihan angklung, drama dan band. Dari hasil kerajinan tangan yang dibuat oleh anak-anak, sebagian ada yang diperjual belikan.
Ketika saya datang di TBM ini bersama Jack Alawi(relawan Rumah Dunia), dan Evi (peserta kelas menulis). Didalam sebuah ruangan terdapat 3 orang anak sedang belajar mengetik sebuah buku cerita ringan dengan menggunakan Microsoft Word. Sedangkan teman-teman lainnya menunggu giliran untuk belajar mengetik dengan menonton teman lainnya sebagian lainnya bersenda gurau.

TBM ternyata tak melulu identik dengan buku, di Rumah Tukik ini saya menemukan ada sebuah ruangan yang dijadikan studio band. Studio ini biasanya digunakan oleh para remaja desa jambangan untuk menyalurkan bakatnya di bidang musik. Selain studio band, hal lain yang berhubungan dengan musik adalah angklung. Alat music tradisional sunda ini memang disukai oleh Ibu Yoet karena pengaruh dari sang suami yang memang berasal dari bandung.

Rumah Tukik ini ramai dikunjungi anak-anak Kampung Jambangan pada hari Sabtu dan Minggu. Biasanya mereka datang sejak pukul 10 pagi sampai dengan pukul 4 sore. Selain dikunjungi oleh anak-anak Kampung Jambangan, Rumah Tukik juga dikunjungi oleh anak-anak di luar Desa Jambangan. TBM Rumah Tukik ke depan akan mengadakan program perpusatakaan keliling yang diadakan satu kali dalam seminggu pada bulan maret mendatang.

Untuk mencapai TBM ini dengan kendaraan pribadi bisa melalui 4 jalur menuju anyer. Pertama, keluar di pintu tol Cilegon Barat melewati Kota Cilegon lalu ke arah Ciwandan-Anyer. Saat ini jalanan di jalur ini sudah cukup baik karena sudah dibeton dan pemandangannya hanya berupa daerah industry dan pemukiman. Jalur kedua, bisa keluar di pintu tol serang timur lalu melewati jalur utama menuju Cilegon, di persimpangan kepandean mengambil arah brimob lalu menuju Taktakan, Mancak, Gunung Sari. Berbeda dengan jalur pertama dijalur ini akan disuguhi pemandangan alam yang memukau memanjakan mata dengan bukit-bukit yang indah ataupun pemandangan alam lainnya. Yang ketiga dari arah Ciomas lalu ke Cinangka. Dan yang keempar dari arah Labuan, Pandeglang.

Friday, October 12, 2012

Menikmati Nasi Timbel di Tepi Situ Ranca Indah Rangkasbitung



Matahari bersinar terik ketika saya dan 3 teman sekantor tiba di kawasan wisata situ Ranca Indah Rangkasbitung, Jum'at 12 Oktober 2012. Sekitar pukul 11.30 hanya beberapa orang yang sedang berkunjung.di sebuah saung ditepi situ Ranca Indah. Beberapa orang pemuda sedang asyik bersantai di saung tersebut dengan menikmati sebatang rokok sehabis menyantap nasi timbel bu yani.

Situ Ranca Indah terletak di pusat Kota Rangkasbitung Kabupaten Lebak, dari alun-alun kota menuju ke arah selatan letaknya tepat ditepi jalan utama Rangkasbitung. Untuk mencapat lokasi ini, cukup dengan menaiki satu kali angkutan umum dari pusat kota.

Nasi Timbel Ayam Bakar Bu Yani menyediakan beragam menu masakan diantaranya Ayam bakar, Ayam Goreng dan macam-macam pepes seperti pepes ayam, pepes ikan mas, pepes peda, pepes jamur, pepes tahu, pepes oncom. Tidak hanya masakan itu saja, Bu Yani juga menyediakan tempe bacem, tahu goreng, sayur asem, lalapan seperti petai, mentimun dan kol. Bagi penikmat kopi, bu yani pun menyediakan minuman tersebut.

Kedai Nasi Timbel Bu Yani terdiri dari sebuah ruangan sederhana berukuran sekitar 3x2 meter, terbuat dari bambu dengan beratapkan rajutan daun kelapa. Di bagian depannya terdapat etalase alumunium yang digunakan untuk menyimpan masakan yang sudah jadi dan tempat memasak. Di sebelah ruangan tersebut terdapat 2 balai bambu tempat para pengunjung menyantap makanan dan tepat disebelahnya situ Ranca Indah menyegarkan mata dengan pemandangannya yang memesona. Rindangnya pepohonan memberikan kesejukkan kedai siang itu.

Ketika memasuki ruangan tersebut Bu Yani, wanita paruh baya, sebagai pemilik kedai menyambut kedatangan kami dan menanyakan masakan yang akan kami pesan. Kami pun memesan beragam menu masakan mulai dari 5 buah nasi timbel, 4 buah ikan asin, 2 buah sayur asem, 5 buah tempe bacem, 7 buah tahu goreng, 2 buah papan petai rebus dan tentunya ditambah dengan lalapan dan sambal.

Setelah menunggu beberapa saat, pesanan kami pun tiba dan langsung menyantapnya dengan lahap. Fahruroji salah satu pengunjung Nasi Timbel Bu Yani sangat menikmati menu masakan tersebut. "Masakannya enak" ujarnya singkat sambil terus menyantap masakannya. Begitu pula Ito, pengunjung lainnya yang berpendapat serupa.

Ketika asyik menikmati makanan tersebut, sayup-sayup suara azan terdengar dari kejauhan dan kami pun menyegerakan santap siang kami. Setelah selesai menyantap makanan tersebut kami pun membayar makanan tersebut dan harga untuk seluruh masakan yang kami makan tadi hanya Rp.28,500.00. Harga yang cukup murah untuk porsi empat orang. Setelah membayar, kami pun segera meluncur ke Mesjid Agung Al-A'raf Rangkasbitung untuk menunaikan Shalat Jum'at.
















Monday, September 24, 2012

Aroma Solo dan Pecel Madiun di Kota Cilegon



Minggu 23 September 2012 pukul 7 pagi saya tiba di Kompleks Perumahan Krakatau Steel Group . Suasananya sudah cukup ramai ketika saya tiba, ramai oleh para pedagang yang menjajakan dagangannya dan para pengunjung yang berolah raga di jogging track Krakatau Steel Group. Di halaman Krakatau Junction yang bersebelahan dengan jogging track, banyak juga yang berolah raga aerobic. 

Di sisi barat jogging track yang dipisahkan oleh sebuah saluran air, ada dua buah ruas jalan yang sengaja ditutup disalah satu ujungnya dan diperuntukkan bagi para pedagang yang akan menjajakan barang dagangannya. Jalan tersebut adalah jalan kota bumi, jalan yang biasa digunakan oleh para pedagang menjajakan barang dagangannya setiap minggu pagi. 

Beraneka ragam jenis barang yang dijajakan di jalan ini, dimulai dari beragam jenis makanan seperti kue-kue basah, risol, mie ayam baso, bubur ayam, siomay, batagor dan pecel nasi. Selain  beragam jenis makanan ada juga penjaja pakaian, sepatu, sandal, aksesoris. Untuk pakaian yang dijual pun beragam baik pakaian muslim, olah raga, batik serta pakaian yang sedang menjadi trend saat ini. 

Dari beragam pedagang yang ada disana, ada yang membuat saya tertarik yaitu pedagang pecel madiun di sebuah mobil pick up yang sudah dimodifikasi. Dari kejauhan diatas kepala mobil pick up tersebut ada sebuah tulisan besar yang akan menarik perhatian para pengunjung sebuah tulisan “Pecel Madiun Rp.5000” terpampang disana. Ketika saya melewati mobil pick up tersebut, ternyata tidak hanya menjual pecel madiun saja. Untuk jenis makanan yang dijual ada juga soto ayam. Namun didalam bak pick up yang beratapkan terpal tersebut, juga dijual batik solo, kaos batik, blankon, baju lurik, keris dan wayang kulit dan wayang kardus.

Saya pun menyempatkan diri untuk berbincang sejenak dengan pak Juwoto, pemilik usaha penjualan batik dan pecel madiun tersebut. Barang-barang yang dijual di mobilnya seperti batik, blankon, keris, baju lurik , VCD lagu daerah jawa serta wayang berasal dari solo. Namun pak Juwoto juga menjual pecel madiun yang berasal dari tanah kelahirannya. “Yang paling terkenal dari madiun ya pecelnya,”ujarnya bangga. 

Saat itu pula saya memesan satu porsi pecel madiun yang dibungkus daun pisang, dengan tambahan peyek ikan saya cukup membayar enam ribu rupiah saja. Pecel madiun sendiri terdiri dari nasi putih yang ditambahkan rebusan cambah pendek, bayam, kacang panjang, kembang turi, sambal kacang, dan ditaburi parutan kelapa goreng. Rasanya sungguh nikmat, sedikit pedas dan gurih dengan butiran kelapa parut goreng.

Pak Juwoto beserta istri sudah sejak bulan maret 2012 berjualan di area ini, beliau adalah pensiunan dari PT. Krakatau Steel. Namun karena kecintaanya terhadap budaya bangsa, beliau menjajakan barang-barang tadi. “Berjualan barang seperti ini adalah salah satu cara melestarikan budaya bangsa,”ujarnya. Beliau juga memiliki keahlian menjadi dalang wayang kulit. “Saya belajar wayang kulit secara otodidak, lama-lama bisa sedikit sedikit.” Rupanya aroma solo dan madiun merasuk kota cilegon menyemai keragaman budaya bangsa di kota ini.

Wednesday, September 5, 2012

Kebersamaan Di Desa Pancur, Serang Banten


Siang itu begitu menyengat dan ketika saya menengadahkan pandangan ke arah jam tangan ternyata sudah pukul 11 siang.  Tetapi demi sebuah informasi maka saya harus segera turun dari xenia silver yang saya tumpangi. Saya turun dipinggir sebuah jalan yang telah rusak termakan usia. Sebuah jalan kecil yang telah di konblok menghubungkan jalan yang rusak tadi dengan beberapa rumah dihadapan saya dengan jarak yang lumayan jauh.

Jalan konblok yang saya telusuri dibangun oleh masyarakat sekitar tapi dengan dana pemerintah, Program PNPM Mandiri.Jalanan tersebut berada di antara sawah-sawah yang mengering, disebelah kanan setelah sawah sawah berakhir terdapat sebuah bukit. Bukit yang dihiasi beragam pepohonan dan terlihat beberapa pohon mulai mengering tak kuasa disengat mentari kemarau.

Jalan yang rusak tadi terletak di Desa Pancur Kec Taktakan Serang Banten.Secara administratif Desa Pancur masuk kedalam Kota Serang tapi suasananya jauh dari suasana kota. Suasananya kental dengan kebersamaan masyarakatnya. Hal ini terbukti ketika saya datang, beberapa pria paruh baya sedang bergotong royong untuk membuat sebuah bilik. Mereka bersama-sama memotong sebilah bambu yang cukup panjang untuk dibagi empat bagian yang sama pangjang dan lebar. Indah nian kebersamaan ini, seandainya nilai-nilai ini masih ada di kota Besar sungguh indah bukan?!.

Ketika saya datang menelusuri jalan konblok menuju rumah-rumah tadi, seorang pria berusia sekitar 40 tahunan menghampiri dan mulai menyapa saya.Saya langsung menanyakan rumah pak Ridwan dan ternyata beliaulah pak Ridwan.Kesan pertama yang saya rasakan adalah ramah sekali dan terkesan terbuka pria ini. Pak Ridwan adalah ketua RT dilingkungannya dan saya mencoba menanyakan informasi kebenaran data nasabah perusahaan tempat saya bekerja. Namun hasilnya nihil.

Saya pun mulai menanyakan hal lain, tentang apa yang dikerjakan para pria itu dan menanyakan pula mata pencaharian mereka. Pak Ridwan dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, bahwa para pria tadi sedang membuat sebuah bilik ataupun potongan bambu yang akan digunakan untuk salah satu rumah yang ada disana. Dan mata pencaharian para penduduk yang ada disana kebanyakan bekerja di sektor pertanian.



Monday, September 3, 2012

Endang Rukmana Sempat Galau



Sore itu 2 September 2012 di rumah dunia ketika kelas menulis telah usai, duduklah seseorang berkulit putih dengan perawakan tinggi dan sedikit gemuk di sebuah kursi kayu. Pria tersebut semenjak kelas menulis dimulai tadi siang memperhatikan para peserta kelas menulis dari kursi itu. Dialah Endang Rukmana peraih penghargaan Young Writer Award dari Unicef pada tahun 2004. Berkat prestasinya itu dia pernah menjadi artis dadakan dan di undang menjadi narasumber sebuah siaran berita di salah satu stasiun televisi swasta.  

Endang Rukmana adalah nama sebenarnya dan bukan nama pena. "Endang Rukmana itu nama asli saya," ujarnya. Dia pernah memiliki beberapa nama pena, namun nama pena lain yang sering digunakan adalah Qori Lawa. Qori itu adalah membaca sedangkan Lawa, nama tersebut didapatnya ketika tertidur dan terngiang-ngiang dengan nama tersebut. 

Endang Rukmana mengatakan bahwa Mas Gol A Gong dan Toto ST Radik lah gurunya dalam menulis. Endang Rukmana merupakan jebolan Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan pertama.

Selama ini Endang Rukmana dikenal dengan sosok yang ceria dan jenaka, namun menurutnya ada sisi lain dalam dirinya ketika masuk ke dalam kamarnya. "Saya menjadi seseorang yang melankolis ketika menuliskan puisi ataupun esai," akunya.

Karya terakhir diterbitkan pada tahun 2010 dan selama 2 tahun ini belum ada karya berupa novel atau buku yang diterbitkan. Endang mengatakan bahwa 2 tahun ini adalah saat-saat berada dibawah dan baru beberapa bulan ini dia datang kembali ke Rumah Dunia untuk memotivasi dirinya kembali untuk menghasilkan sebuah karya. Menurutnya lagi produktivitasnya menurun dikarenakan ketertarikannya bermain game dan sedikit juga pengaruh keluarga.

Selama ini dia sudah menghasilkan 10 Novel yaitu Sakit 1/2 Jiwa, Gotcha!, Pahe Telecinta, Hantu Biang Kerok, ML (Mau Lagi…?); Indonesia Pae Bukan American Pie, Blackforest Blossom, Toilet – Kalau Vampir Kebelet Gaul, Compunerds, Cium Aku Lagi Pliss, No Manyoon: Vampir Narsis vs Werewolf Ngocol. Semoga kegalauan ini segera berakhir dan segera move on menghasilkan karya baru yang fenomal.