Di perkebunan tersebut saya pun berbincang singkat dengan beberapa orang petani yang kebetulan saat itu sedang memanen tanaman kangkungnya. Sang petani bercerita bahwa biasanya ketika petani memanen hasil taninya maka tengkulak akan segera mendatangi untuk membelinya.Sang petani tersebut bercerita bahwa biasanya per ikat tanaman kangkung tersebut dihargai sebesar Rp.500- Rp.750. Disalah satu sisi perkebunan kangkung yang telah dipanen dengan luasan sekitar 500 meter persegi, bertumpuk beberapa ikat tanaman sayur tersebut, jika saya perkirakan mungkin ada sekitar 100 ikat sehingga total yang akan didapat petani adalah sekitar Rp.50,000 sampai dengan Rp.75,000 itu pun belum dikurangi biaya pupuk dan bibit. Setelah dijual dipasar oleh tengkulak maka harganya akan naik 2 kali lipat menjadi Rp.1000 sampai dengan Rp.1500 per ikat sehingga keuntungan yang ditangguk oleh tengkulak adalah Rp.50,000 sampai dengan Rp.75,000 dikurangi biaya transport. Rasanya sungguh tidak adil, ketika sang petani bermandi keringat menggarap kebun untuk menanam kangkung sampai dengan panennya maka sang tengkulak dengan modal uang bisa langsung membeli hasil panen dan menjualnya kembali ke pasar dengan harga 2 kali lipat. Seharusnya pemerintah menyediakan sarana transportasi gratis bagi para petani untuk menjual hasil panennya langsung ke pasar sehingga keuntungan yang didapatpun bisa lebih tinggi.
Sunday, July 1, 2012
20 JAM DI BANYUMAS / Senja Di Desa Kramat (part II)
Setelah beristirahat sejenak, menjelang matahari terbenam saya
beranjak menyusuri desa tersebut menuju arah barat setelah sebelumnya
saya mendapatkan informasi jika didaerah barat desa ini terdapat
pemandangan yang menarik. Rasa lelah masih mendera tubuh ini, tapi
mendapatkan informasi pemandangan menarik membuat saya bersemangat untuk
mengayunkan langkah kaki untuk menikmati pemandangan tersebut. Tak
perlu waktu lama,saya pun mememukan pemandangan yang menarik tanaman
padi dengan bulir-pulir padi yang hijau dan sudah mulai menguning,
perkebunan cabai, terung, sayuran kangkung dan kedelai yang siap untuk
dipanen. Pemandangan yang lebih menakjubkan adalah pemandangan gunung
slamet dari arah selatan yang menemani saya menikmati senja di desa
kramat.

Di perkebunan tersebut saya pun berbincang singkat dengan beberapa orang petani yang kebetulan saat itu sedang memanen tanaman kangkungnya. Sang petani bercerita bahwa biasanya ketika petani memanen hasil taninya maka tengkulak akan segera mendatangi untuk membelinya.Sang petani tersebut bercerita bahwa biasanya per ikat tanaman kangkung tersebut dihargai sebesar Rp.500- Rp.750. Disalah satu sisi perkebunan kangkung yang telah dipanen dengan luasan sekitar 500 meter persegi, bertumpuk beberapa ikat tanaman sayur tersebut, jika saya perkirakan mungkin ada sekitar 100 ikat sehingga total yang akan didapat petani adalah sekitar Rp.50,000 sampai dengan Rp.75,000 itu pun belum dikurangi biaya pupuk dan bibit. Setelah dijual dipasar oleh tengkulak maka harganya akan naik 2 kali lipat menjadi Rp.1000 sampai dengan Rp.1500 per ikat sehingga keuntungan yang ditangguk oleh tengkulak adalah Rp.50,000 sampai dengan Rp.75,000 dikurangi biaya transport. Rasanya sungguh tidak adil, ketika sang petani bermandi keringat menggarap kebun untuk menanam kangkung sampai dengan panennya maka sang tengkulak dengan modal uang bisa langsung membeli hasil panen dan menjualnya kembali ke pasar dengan harga 2 kali lipat. Seharusnya pemerintah menyediakan sarana transportasi gratis bagi para petani untuk menjual hasil panennya langsung ke pasar sehingga keuntungan yang didapatpun bisa lebih tinggi.
Di perkebunan tersebut saya pun berbincang singkat dengan beberapa orang petani yang kebetulan saat itu sedang memanen tanaman kangkungnya. Sang petani bercerita bahwa biasanya ketika petani memanen hasil taninya maka tengkulak akan segera mendatangi untuk membelinya.Sang petani tersebut bercerita bahwa biasanya per ikat tanaman kangkung tersebut dihargai sebesar Rp.500- Rp.750. Disalah satu sisi perkebunan kangkung yang telah dipanen dengan luasan sekitar 500 meter persegi, bertumpuk beberapa ikat tanaman sayur tersebut, jika saya perkirakan mungkin ada sekitar 100 ikat sehingga total yang akan didapat petani adalah sekitar Rp.50,000 sampai dengan Rp.75,000 itu pun belum dikurangi biaya pupuk dan bibit. Setelah dijual dipasar oleh tengkulak maka harganya akan naik 2 kali lipat menjadi Rp.1000 sampai dengan Rp.1500 per ikat sehingga keuntungan yang ditangguk oleh tengkulak adalah Rp.50,000 sampai dengan Rp.75,000 dikurangi biaya transport. Rasanya sungguh tidak adil, ketika sang petani bermandi keringat menggarap kebun untuk menanam kangkung sampai dengan panennya maka sang tengkulak dengan modal uang bisa langsung membeli hasil panen dan menjualnya kembali ke pasar dengan harga 2 kali lipat. Seharusnya pemerintah menyediakan sarana transportasi gratis bagi para petani untuk menjual hasil panennya langsung ke pasar sehingga keuntungan yang didapatpun bisa lebih tinggi.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment
Silahkan tinggalkan pesan disini, sekecil apapun pesan anda akan memberikan kontribusi yang berarti untuk blog ini