Saturday, December 15, 2012

Benteng Vredeburg dan Pesan Sri Sultan Hamengkubuwono X





Siang menjelang pukul 3 sore tanggal 1 Desember 2012, selepas makan siang yang terlambat, saya dan keluarga pergi menuju benteng Vredeburg. Informasi yang kami ketahui Benteng tersebut berada di ujung jalan malioboro atau tepatnya berada di Jalan Ahmad Yani. Untuk mencapai benteng tersebut bisa dengan jalan kaki atau becak. 

Saya lebih memilih menggunakan becak karena selain tubuh masih lelah akibat perjalanan jauh dari kota Serang, juga agar lebih menikmati suasana wisata. Setelah tawar menawar harga dengan tukang becak di depan mall malioboro, akhirnya disepakati Rp.10,000 dan kami pun beranjak menuju benteng vredeburg.

Sekitar 15 menit menaiki becak, kami pun tiba di depan benteng vredeburg. Suasana sore itu cukup ramai, mobil dan bis masih terparkir dengan rapih di pelataran parkir. Setelah berfoto sejenak di depan benteng maka kami pun beranjak menuju loket untuk membeli tiket masuk. Dengan tiket seharga Rp.2,000 per orang, kami pun bisa masuk ke dalam benteng.

Benteng Vredeburg sendiri berarsitektur colonial belanda dengan bentuk segi empat dengan ketinggian 3-5 meter. Bagian depannya ada 4 pilar yang  menyangga sebuah beton berbentuk atap dengan tulisan Vredeburg. Lalu tepat di bagian kiri depan museum terdapat pos penjagaan yang saat ini tidak digunakan lagi. Masih di bagian depan Benteng, terdiri dari 2 lantai yang mungkin pada masa itu fungsinya adalah pengawasan. Di bagian dalamnya terdapat kompleks bangunan yang pada awalnya berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan residen Belanda.

Gerbang Benteng ini menghadap ke arah barat dan terdapat menara pengawas di ke empat sudutnya. Di bagian barat dan timur benteng ini terdapat jalur patroli yang digunakan untuk penjagaan.  Sedangkan di sisi luar benteng ini terdapat parit yang sebagiannya masih dapat dilihat sampai dengan saat ini.
Benteng ini sendiri berdiri pada tahun 1765 di atas tanah keraton dan berkat izin dari Sri Sultan Hamengkubuwono I. Pada awalnya benteng ini digunakan Belanda dengan dalih untuk menjaga keamanan keraton, namun dibalik itu yang utama adalah untuk memudahkan dalam mengontrol perkembangan yang ada di dalam keraton.

Setelah memasuki gerbang benteng maka kita akan disuguhi oleh pemandangan arsitektur colonial dengan paduan taman yang cantik. Sebelum memasuki taman tersebut kita terlebih dahulu akan disambut oleh patung Letkol Oerip Soemoharjo dan Jenderal Soedirman.  Taman tersebut diapit oleh bangunan colonial yang saat ini berfungsi sebagai ruang pameran museum atau diorama. Diorama-diorama di museum tersebut berisikan peristiwa-peristiwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan peranan rakyat Yogyakarta pada khususnya. 

Museum dengan luas kurang lebih 2100 meter persegi ini mempunyai beberapa koleksi antara lain:
- Bangunan-bangunan peninggalan Belanda, yang dipugar sesuai bentuk aslinya.
- Diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan masa Orde Baru.
- Koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia.
Sumber: bentengvredeburg.blogspot.com               
                                                      
Sebelum memasuki bangunan yang berisi diorama tersebut, sebuah white board bertulisan tangan Sri Sultan Hamengkubuwono X terpampang di dinding. Isinya adalah “Semoga tempat ini dapat memberikan inspirasi bagi generasi muda Indonesia”. Saya sendiri berfikir dari tempat ini terinspirasi untuk menuliskannya, mempelajari sejarah bangsa dan menghormati mereka yang telah berjasa atas merdekanya bangsa ini. 

Setelah memasuki bangunan yang berisi diorama-diorama maka saya pergi menuju bagian belakang gerbang utama yang dihalaman tersebut di apit 2 buah bangunan colonial untuk menikmati keindahan arsitektur bangunan colonial. Beberapa orang berlalu lalang disana dan dari halaman ini kita dapat melihat bagian belakang gerbang yang dikedua sisinya terdapat tangga menuju ke lantai 2 gerbang utama.

Setelah hampir 1 jam saya dan keluarga berada disana maka kami pun kembali ke penginapan di daerah sosrowijayan dengan menggunakan becak seharga Rp.10,000.00. Beristirahat sejenak untuk melepas lelah dan melanjutkan petualangan di kota Yogyakarta.

Pesan Sri Sultan HB X
Salah satu sudut bagian dalam Benteng


Sunday, November 25, 2012

Peradaban Andalusia di Kota Hujan





Hari Sabtu, 17 November 2012 pukul 7.20 mobil APV meluncur membawa saya dan keluarga menuju tempat wisuda adik saya di Andalusia Islamic Center di Sentul City. Sekitar 20 menit perjalanan melewati Tol Kedung Halang- Sentul (Bogor Outer Ring Road), kemudian kami pun tiba disana. Ketika kami tiba, suasananya sudah cukup ramai, dengan ruang parkir yang sudah dipenuhi oleh mobil-mobil pengantar keluarga wisudawan.

Pagi itu cuaca cukup cerah, matahari beranjak naik memendarkan sinarnya dan awan-awan memantulkan cahayanya ke bumi. Ketika saya tiba, saya terpukau dengan desain Mesjid Andalusia Islamic Center. Kubah yang besar dengan dominasi warna biru dipadu dengan warna kuning bermotif persegi dengan posisi diagonal memeluk kubah. Empat buah menara dengan rangka besi di setiap sisi mesjid menjulang membelah langit sentul city. Meskipun menara tersebut belum selesai pembangunannya, namun tidak mengurangi keindahan seni arsitektur mesjid Andalusia.

Ketika saya melihat jendela-jendelanya, desainnya mungkin terinspirasi dari Timur Tengah dengan desain seperti sepatu kuda atau mungkin kubah dua dimensi yang disisi-sisinya diberi motif berwarna kuning keemasan dan hitam berselang-seling. Begitupun dengan bagian atas dari dua buah pilar mesjid di sisi sebelah utara yang diberi hal serupa namun diisi dengan ukiran bintang persegi berongga.
Mesjid Andalusia terdiri dari 3 lantai, lantai pertama digunakan sebagai Aula untuk berbagai kegiatan baik akademik seperti wisuda dan seminar maupun non akademik seperti pernikahan. Lantai kedua merupakan ruang utama mesjid yang digunakan untuk shalat dan kajian keislaman lainnya. Lantai ketiga berupa mezzanine yang berbentuk huruf U dan dari lantai tersebut dapat melihat dengan jelas lantai kedua yang merupakan ruang utama mesjid.

Bagian dalam mesjid didominasi oleh warna biru muda, di bagian dalam kubah terdapat kaligrafi asmaul husna yang dibuat melingkar dengan diameter yang semakin mengecil ke pusat kubah. Ukurannya kaligrafinya pun semakin ke pusat sentrifugal semakin mengecil dan lafaz Allah menjadi titik pusat dari kaligrafi tersebut. Di sisi sisi bagian bawah mezzanine dihiasi oleh kaligrafi yang diambil dari ayat-ayat yang bersumber dari Alquran. Di bagian timur mesjid terdapat miniature ka’bah berpadu dengan maqam Ibrahim yang tentunya digunakan sebagai pengingat rukun islam yang kelima yang juga digunakan untuk berlatih manasik haji.

Andalusia Islamic Center di Bogor merupakan miniatur Andalusia yang ada di Spanyol yang tentunya akan mengingatkan kita mengenai kejayaan islam dari segi materi dan keilmuan pada masa kekhalifahan saat itu. Semoga saja Andalusia Islamic Center di Bogor dapat menciptakan Sarjana-Sarjana dengan keilmuan yang mumpuni yang akan berkontribusi besar bagi kemajuan dan kejayaan umat islam saat ini.






Friday, October 12, 2012

Menikmati Nasi Timbel di Tepi Situ Ranca Indah Rangkasbitung



Matahari bersinar terik ketika saya dan 3 teman sekantor tiba di kawasan wisata situ Ranca Indah Rangkasbitung, Jum'at 12 Oktober 2012. Sekitar pukul 11.30 hanya beberapa orang yang sedang berkunjung.di sebuah saung ditepi situ Ranca Indah. Beberapa orang pemuda sedang asyik bersantai di saung tersebut dengan menikmati sebatang rokok sehabis menyantap nasi timbel bu yani.

Situ Ranca Indah terletak di pusat Kota Rangkasbitung Kabupaten Lebak, dari alun-alun kota menuju ke arah selatan letaknya tepat ditepi jalan utama Rangkasbitung. Untuk mencapat lokasi ini, cukup dengan menaiki satu kali angkutan umum dari pusat kota.

Nasi Timbel Ayam Bakar Bu Yani menyediakan beragam menu masakan diantaranya Ayam bakar, Ayam Goreng dan macam-macam pepes seperti pepes ayam, pepes ikan mas, pepes peda, pepes jamur, pepes tahu, pepes oncom. Tidak hanya masakan itu saja, Bu Yani juga menyediakan tempe bacem, tahu goreng, sayur asem, lalapan seperti petai, mentimun dan kol. Bagi penikmat kopi, bu yani pun menyediakan minuman tersebut.

Kedai Nasi Timbel Bu Yani terdiri dari sebuah ruangan sederhana berukuran sekitar 3x2 meter, terbuat dari bambu dengan beratapkan rajutan daun kelapa. Di bagian depannya terdapat etalase alumunium yang digunakan untuk menyimpan masakan yang sudah jadi dan tempat memasak. Di sebelah ruangan tersebut terdapat 2 balai bambu tempat para pengunjung menyantap makanan dan tepat disebelahnya situ Ranca Indah menyegarkan mata dengan pemandangannya yang memesona. Rindangnya pepohonan memberikan kesejukkan kedai siang itu.

Ketika memasuki ruangan tersebut Bu Yani, wanita paruh baya, sebagai pemilik kedai menyambut kedatangan kami dan menanyakan masakan yang akan kami pesan. Kami pun memesan beragam menu masakan mulai dari 5 buah nasi timbel, 4 buah ikan asin, 2 buah sayur asem, 5 buah tempe bacem, 7 buah tahu goreng, 2 buah papan petai rebus dan tentunya ditambah dengan lalapan dan sambal.

Setelah menunggu beberapa saat, pesanan kami pun tiba dan langsung menyantapnya dengan lahap. Fahruroji salah satu pengunjung Nasi Timbel Bu Yani sangat menikmati menu masakan tersebut. "Masakannya enak" ujarnya singkat sambil terus menyantap masakannya. Begitu pula Ito, pengunjung lainnya yang berpendapat serupa.

Ketika asyik menikmati makanan tersebut, sayup-sayup suara azan terdengar dari kejauhan dan kami pun menyegerakan santap siang kami. Setelah selesai menyantap makanan tersebut kami pun membayar makanan tersebut dan harga untuk seluruh masakan yang kami makan tadi hanya Rp.28,500.00. Harga yang cukup murah untuk porsi empat orang. Setelah membayar, kami pun segera meluncur ke Mesjid Agung Al-A'raf Rangkasbitung untuk menunaikan Shalat Jum'at.
















Monday, September 24, 2012

Aroma Solo dan Pecel Madiun di Kota Cilegon



Minggu 23 September 2012 pukul 7 pagi saya tiba di Kompleks Perumahan Krakatau Steel Group . Suasananya sudah cukup ramai ketika saya tiba, ramai oleh para pedagang yang menjajakan dagangannya dan para pengunjung yang berolah raga di jogging track Krakatau Steel Group. Di halaman Krakatau Junction yang bersebelahan dengan jogging track, banyak juga yang berolah raga aerobic. 

Di sisi barat jogging track yang dipisahkan oleh sebuah saluran air, ada dua buah ruas jalan yang sengaja ditutup disalah satu ujungnya dan diperuntukkan bagi para pedagang yang akan menjajakan barang dagangannya. Jalan tersebut adalah jalan kota bumi, jalan yang biasa digunakan oleh para pedagang menjajakan barang dagangannya setiap minggu pagi. 

Beraneka ragam jenis barang yang dijajakan di jalan ini, dimulai dari beragam jenis makanan seperti kue-kue basah, risol, mie ayam baso, bubur ayam, siomay, batagor dan pecel nasi. Selain  beragam jenis makanan ada juga penjaja pakaian, sepatu, sandal, aksesoris. Untuk pakaian yang dijual pun beragam baik pakaian muslim, olah raga, batik serta pakaian yang sedang menjadi trend saat ini. 

Dari beragam pedagang yang ada disana, ada yang membuat saya tertarik yaitu pedagang pecel madiun di sebuah mobil pick up yang sudah dimodifikasi. Dari kejauhan diatas kepala mobil pick up tersebut ada sebuah tulisan besar yang akan menarik perhatian para pengunjung sebuah tulisan “Pecel Madiun Rp.5000” terpampang disana. Ketika saya melewati mobil pick up tersebut, ternyata tidak hanya menjual pecel madiun saja. Untuk jenis makanan yang dijual ada juga soto ayam. Namun didalam bak pick up yang beratapkan terpal tersebut, juga dijual batik solo, kaos batik, blankon, baju lurik, keris dan wayang kulit dan wayang kardus.

Saya pun menyempatkan diri untuk berbincang sejenak dengan pak Juwoto, pemilik usaha penjualan batik dan pecel madiun tersebut. Barang-barang yang dijual di mobilnya seperti batik, blankon, keris, baju lurik , VCD lagu daerah jawa serta wayang berasal dari solo. Namun pak Juwoto juga menjual pecel madiun yang berasal dari tanah kelahirannya. “Yang paling terkenal dari madiun ya pecelnya,”ujarnya bangga. 

Saat itu pula saya memesan satu porsi pecel madiun yang dibungkus daun pisang, dengan tambahan peyek ikan saya cukup membayar enam ribu rupiah saja. Pecel madiun sendiri terdiri dari nasi putih yang ditambahkan rebusan cambah pendek, bayam, kacang panjang, kembang turi, sambal kacang, dan ditaburi parutan kelapa goreng. Rasanya sungguh nikmat, sedikit pedas dan gurih dengan butiran kelapa parut goreng.

Pak Juwoto beserta istri sudah sejak bulan maret 2012 berjualan di area ini, beliau adalah pensiunan dari PT. Krakatau Steel. Namun karena kecintaanya terhadap budaya bangsa, beliau menjajakan barang-barang tadi. “Berjualan barang seperti ini adalah salah satu cara melestarikan budaya bangsa,”ujarnya. Beliau juga memiliki keahlian menjadi dalang wayang kulit. “Saya belajar wayang kulit secara otodidak, lama-lama bisa sedikit sedikit.” Rupanya aroma solo dan madiun merasuk kota cilegon menyemai keragaman budaya bangsa di kota ini.

Wednesday, September 5, 2012

Kebersamaan Di Desa Pancur, Serang Banten


Siang itu begitu menyengat dan ketika saya menengadahkan pandangan ke arah jam tangan ternyata sudah pukul 11 siang.  Tetapi demi sebuah informasi maka saya harus segera turun dari xenia silver yang saya tumpangi. Saya turun dipinggir sebuah jalan yang telah rusak termakan usia. Sebuah jalan kecil yang telah di konblok menghubungkan jalan yang rusak tadi dengan beberapa rumah dihadapan saya dengan jarak yang lumayan jauh.

Jalan konblok yang saya telusuri dibangun oleh masyarakat sekitar tapi dengan dana pemerintah, Program PNPM Mandiri.Jalanan tersebut berada di antara sawah-sawah yang mengering, disebelah kanan setelah sawah sawah berakhir terdapat sebuah bukit. Bukit yang dihiasi beragam pepohonan dan terlihat beberapa pohon mulai mengering tak kuasa disengat mentari kemarau.

Jalan yang rusak tadi terletak di Desa Pancur Kec Taktakan Serang Banten.Secara administratif Desa Pancur masuk kedalam Kota Serang tapi suasananya jauh dari suasana kota. Suasananya kental dengan kebersamaan masyarakatnya. Hal ini terbukti ketika saya datang, beberapa pria paruh baya sedang bergotong royong untuk membuat sebuah bilik. Mereka bersama-sama memotong sebilah bambu yang cukup panjang untuk dibagi empat bagian yang sama pangjang dan lebar. Indah nian kebersamaan ini, seandainya nilai-nilai ini masih ada di kota Besar sungguh indah bukan?!.

Ketika saya datang menelusuri jalan konblok menuju rumah-rumah tadi, seorang pria berusia sekitar 40 tahunan menghampiri dan mulai menyapa saya.Saya langsung menanyakan rumah pak Ridwan dan ternyata beliaulah pak Ridwan.Kesan pertama yang saya rasakan adalah ramah sekali dan terkesan terbuka pria ini. Pak Ridwan adalah ketua RT dilingkungannya dan saya mencoba menanyakan informasi kebenaran data nasabah perusahaan tempat saya bekerja. Namun hasilnya nihil.

Saya pun mulai menanyakan hal lain, tentang apa yang dikerjakan para pria itu dan menanyakan pula mata pencaharian mereka. Pak Ridwan dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, bahwa para pria tadi sedang membuat sebuah bilik ataupun potongan bambu yang akan digunakan untuk salah satu rumah yang ada disana. Dan mata pencaharian para penduduk yang ada disana kebanyakan bekerja di sektor pertanian.



Monday, September 3, 2012

Endang Rukmana Sempat Galau



Sore itu 2 September 2012 di rumah dunia ketika kelas menulis telah usai, duduklah seseorang berkulit putih dengan perawakan tinggi dan sedikit gemuk di sebuah kursi kayu. Pria tersebut semenjak kelas menulis dimulai tadi siang memperhatikan para peserta kelas menulis dari kursi itu. Dialah Endang Rukmana peraih penghargaan Young Writer Award dari Unicef pada tahun 2004. Berkat prestasinya itu dia pernah menjadi artis dadakan dan di undang menjadi narasumber sebuah siaran berita di salah satu stasiun televisi swasta.  

Endang Rukmana adalah nama sebenarnya dan bukan nama pena. "Endang Rukmana itu nama asli saya," ujarnya. Dia pernah memiliki beberapa nama pena, namun nama pena lain yang sering digunakan adalah Qori Lawa. Qori itu adalah membaca sedangkan Lawa, nama tersebut didapatnya ketika tertidur dan terngiang-ngiang dengan nama tersebut. 

Endang Rukmana mengatakan bahwa Mas Gol A Gong dan Toto ST Radik lah gurunya dalam menulis. Endang Rukmana merupakan jebolan Kelas Menulis Rumah Dunia angkatan pertama.

Selama ini Endang Rukmana dikenal dengan sosok yang ceria dan jenaka, namun menurutnya ada sisi lain dalam dirinya ketika masuk ke dalam kamarnya. "Saya menjadi seseorang yang melankolis ketika menuliskan puisi ataupun esai," akunya.

Karya terakhir diterbitkan pada tahun 2010 dan selama 2 tahun ini belum ada karya berupa novel atau buku yang diterbitkan. Endang mengatakan bahwa 2 tahun ini adalah saat-saat berada dibawah dan baru beberapa bulan ini dia datang kembali ke Rumah Dunia untuk memotivasi dirinya kembali untuk menghasilkan sebuah karya. Menurutnya lagi produktivitasnya menurun dikarenakan ketertarikannya bermain game dan sedikit juga pengaruh keluarga.

Selama ini dia sudah menghasilkan 10 Novel yaitu Sakit 1/2 Jiwa, Gotcha!, Pahe Telecinta, Hantu Biang Kerok, ML (Mau Lagi…?); Indonesia Pae Bukan American Pie, Blackforest Blossom, Toilet – Kalau Vampir Kebelet Gaul, Compunerds, Cium Aku Lagi Pliss, No Manyoon: Vampir Narsis vs Werewolf Ngocol. Semoga kegalauan ini segera berakhir dan segera move on menghasilkan karya baru yang fenomal. 

"Sembako" Buku di Halal Bi Halal Rumah Dunia



Pada tanggal 2 September 2012 telah dilaksanakan Halal Bi Halal Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Se-Banten yang dilakukan di Taman Budaya Rumah Dunia Ciloang, Kecamatan Cipocok Jaya Serang Banten. Dalam acara Halal Bi Halal ini sendiri diadakan juga pembagian "Sembako" buku kepada 25 TBM yang ada di Banten.

Pada kesempatan ini, Udin Saefudin Noor, penasehat Rumah Dunia yang saat ini menjabat salah satu Direksi sebuah Bank Swasta Malaysia, juga memberikan sambutan kepada para pengunjung yang hadir. Beliau menjelaskan bahwa dirinya bisa menjadi seperti saat ini adalah karena membaca. Pada saat sekolah dulu beliau membaca Novel karangan Karl May. Berkat Novel itu beliau mengetahui dunia luar selain Pandeglang yang merupakan tanah kelahirannya, yang akhirnya beliau pun memiliki cita-cita tinggi. 


Setelah mengakhiri sambutannya, beliau pun memberikan bantuan dana sebesar 15 juta rupiah. Dana ini akan digunakan untuk membayar angsuran tanah Rumah Dunia yang saat ini masih berhutang ke salah satu Bank Syariah terbesar di Indonesia.

Adapun untuk pembagian paket "Sembako" Buku, setiap paket buku yang dibagikan terdiri dari 20 buku terbitan Gong Publishing. Buku-buku yang dibagikan diantaranya seri Banten Bangkit yang ditulis stakeholder Banten, seri Gilalova yang ditulis remaja Banten, Tamasya ke Masjid karya Jaya Komarudin Cholik, Tiga Ombak karya Gol A Gong serta masih ada lagi beberapa buku lainnya. 

Pembagian paket buku ini merupakan sebuah tanggung jawab sosial yang di emban oleh Gol A Gong sebagai ketua Forum TBM se-Indonesia. Gol A Gong ingin menambah koleksi buku yang ada di seluruh TBM yang ada di Indonesia. "Bantuan paket buku ini dari gerakan 'Sedekah Buku Untuk Indonesia Membaca'.Tujuannya adalah untuk menambah koleksi buku di TBM, agar bervariasi," ujarnya.

Dedi salah seorang pengurus TBM Kedai Proses yang berlokasi di Rangkasbitung menilai bahwa pembagian buku ini sangat bermanfaat karena dapat menambah koleksi buku di TBM nya. Selama ini TBM yang dikelola olehnya biasanya meminta buku ke berbagai komunitas untuk menambah koleksi buku.

Pada acara ini juga dipaparkan mengenai progress pembangunan Gelanggang Remaja Rumah Dunia yang dipaparkan oleh Das Albantani. Dana yang digelontorkan oleh Kemenpora adalah Sejumlah Rp.2,042,000,000.00 diharapkan cukup untuk pembangunan Gelanggang Remaja tersebut.

Untuk memulai pembangunannya masih menunggu proses lelang yang akan dilakukan oleh pemerintahan setempat. Namun Das Albantani juga menjelaskan jika pembangunan Gelanggang Remaja dilakukan proses lelang terlebih dahulu maka kemungkinan besar pembangunan kompleks bangunan tidak akan sesuai dengan rencana. Apabila dilelang maka dibutuhkan dana sekitar 4,8 Miliar untuk pembangunan seluruh kompleks Gelanggang Remaja, sehingga dengan dana yang ada hanya beberapa bangunan yang akan dibangun.

Wednesday, August 15, 2012

BEM UI Menyalurkan Bantuan Peduli Gempa Bengkulu


Setelah sekitar satu bulan lebih Propinsi Bengkulu di guncang gempa besar, akhirnya pada tanggal 10 November 2007 BEM UI dapat menyalurkan bantuan yang telah dikumpulkan dari berbagai Fakultas dan juga Mahasiswa UI. 

Bantuan gempa diberikan kepada SMA Negeri 1 Lubuk Pinang Kabupaten Muko-muko. Sekolah tersebut dipilih berdasarkan hasil survey dari tim advance pada awal Oktober lalu. Jumlah bantuan yang disalurkan sebanyak 26 juta rupiah. Bantuan yang disalurkan berupa 2 unit komputer, 66 unit meja dan kursi serta uang sebesar 10 juta rupiah untuk merenovasi mushola. 

Bantuan langsung diserahterimakan kepada Bapak Azzam yang menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana dan Prasarana SMA Negeri 1 Lubuk Pinang yang disaksikan oleh seluruh siswa SMA Negeri 1 Lubuk Pinang. 

Selain menyalurkan bantuan, Tim penyalur bantuan BEM UI yang terdiri dari Angga Darmawan, Dony Resita, Fitri Arlinkasari dan Tri Agustin juga memberikan training motivasi kepada siswa-siswi kelas 3 SMA Negeri 1Lubuk Pinang yang akan menghadapi UN 2008. Pemberian Training motivasi bertujuan untuk memberikan motivasi, dorongan serta dukungan kepada para siswa agar bersemangat dan optimis dalam menghadapi UN 2008 yang standar kelulusannya bertambah menjadi 5,25 dan mata pelajaran yang di UN-kan pun bertambah menjadi 6 mata pelajaran.

SMA Negeri 1 Lubuk Pinang mengalami kerusakan yang cukup parah. 2 kelas tidak bisa lagi digunakan karena dindingnya roboh, 3 kelas lain mengalami kerusakan yang cukup parah, langit-langit kelasnya roboh. Sedangkan untuk kelas-kelas lainnya mengalami retak-retak di bagian dindingnya. Selain itu, meja dan kursi mengalami kerusakan. Sekitar 100 unit meja dan kursi yang digunakan untuk belajar mengajar tidak layak pakai.

SMA Negeri 1 Lubuk Pinang baru menerima bantuan pada awal oktober sebesar 4 juta rupiah dari salah satu parpol, yang selanjutnya dana itu digunakan untuk membersihkan puing-puing bangunan akibat gempa. Sampai saat ini SMA Negeri 1 Lubuk Pinang baru memerima bantuan dari Departemen Sosial RI berupa tenda darurat dan juga UI. Sekitar awal November lalu sekolah ini telah di survey oleh Dinas Pendidikan Propinsi Bengkulu dan Departemen Pendidikan RI yang selanjutnya akan memberikan block grant yang akan digunakan untuk memperbaiki bengunan kelas yang rusak.

Kondisi belajar mengajar di sekolah ini cukup memprihatinkan. 3 kelas yang langit-langitnya mengalami kerusakan tetap digunakan untuk belajar mengajar, kantin dan laboratorium pun digunakan untuk kegiatan belajar mengajar. Tenda darurat bantuan dari Departemen Sosial RI digunakan untuk 1 kelas darurat yang tidak nyaman digunakan  untuk kegiatan belajar mengajar. Riska siswi SMA Negeri 1 Lubuk Pinang yang kelasnya menggunakan tenda darurat, mengaku tidak merasa nyaman belajar di tenda darurat selain panas juga beralaskan tanah. Seperti yang terjadi pada Sabtu 10 November lalu kegiatan belajar mengajar ditenda darurat terhenti akibat hujan deras yang menyebabkan banjir di dalam kelas tersebut.
Semoga bantuan yang diberikan dapat bermanfaat.

Bogor, November 2007