Follow by Email

Wednesday, May 29, 2013

Rehat Sejenak di Taman Wisata Bumi Kedaton




Awan kelabu menggelayut di atas Taman Wisata Bumi Kedaton Bandar Lampung ketika saya bersama istri dan anak saya tiba siang menjelang sore hari tanggal 9 Mei 2013 lalu. Di balik sebuah gapura selamat datang, berbagai pepohonan yang tinggi menjulang membawa kesejukan siang itu. Sedangkan di sebelah kiri gapura, sebuah patung gajah yang sedang duduk mengenakan siger dan kain khas lampung yang tengah menggerakkan belalainya ke atas seolah menyambut
pengunjung yang datang.

Saya bergegas menuju loket penjualan tiket, dimana disana sudah ada beberapa mobil berjajar membeli tiket.  Dengan tiket seharga Rp.8,000 per orang maka saya pun membeli 2 tiket dan dikarenakan anak saya masih dibawah 2 tahun maka tidak perlu membeli tiket.

Saya pun berjalan masuk bersama istri dan anak saya, awalnya saya berjalan menuju ke sebuah lembah yang disisi sebelah kanannya terdapat kebun binatang yang dipagari. Tujuan utama saya adalah menuju ke kebun binatang tersebut untuk menyenangkan hati anak saya. Ternyata pintu masuknya ada di bagian lain sehingga saya harus berbalik arah dan berjalan ke arah parkiran mobil. “Disana pak pintu masuknya yang ada patung singa?” ujar karyawan rumah makan di sekitar taman.

Tiba di hadapan kebun binatang, sebuah patung singa di sisi sebelah kiri pintu masuk menyambut para pengunjung. Sebuah papan selamat datang terpampang disana “Selamat datang di bumi kedaton zoo”. Saya pun beranjak masuk dan tepat dihadapan saya, sepasang burung kakatua jambul kuning sedang bercengkrama di dalam kandangnya.

Saya menelusuri jalan yang mengitari kebun binatang tersebut, rupanya kebun binatangnya tidak seperti yang saya bayangkan. Kebun binatang ini tidak luas dengan koleksi binatang hanya mencapai 49 jenis. Berbeda dengan taman safari cisarua ataupun taman margasatwa ragunan yang memiliki ratusan jenis.

Namun begitu koleksinya cukup beragam,di kebun binatang ini, terdapat 3 kelompok binatang yaitu reptile, mamalia dan unggas. Jenis reptile yang ada di kebun binatang ini antara lain ular, biawak/labi-labi, kura-kura pipi kuning dan buaya. Sedangkan untuk jenis mamalia seperti harimau, beruang madu, monyet, lutung dan kucing akar. Adapun untuk jenis unggas seperti kasuari, cendrawasi, kakatua, elang brontok, kalkun dan ayam mutiara.

Binatang yang baru pertama kali saya temui di kebun binatang ini adalah binturong. Binatang mamalia berbulu seperti serigala yang ketika saya tiba, binatang tersebut sedang mengelayut tidur dengan malasnya disebuah batang pohon yang melintang. Dan ketika saya melihat kalkun, sungguh saya sangat geli melihatnya dengan tubuh seperti ayam yang besar dan kulit berwarna merah seperti jengger ayam didekat paruhnya yang menggelayut ketika berjalan.

Setelah puas mengelilingi kebun binatang ini maka saya pun keluar dari area kebun binatang menuju pintu gerbang. Setelah berjalan di parkiran menuju gerbang depan, saya melihat sebuah mobil pick up yang sudah di modifikasi dengan 3 bangku berjajar di belakangnya yang sudah diberi atap. Saya pun menghampiri mobil tersebut dan bertanya kepada supirnya. “kalau di bawah ada apa pak?” Tanya saya kepada supir tersebut. “Ada gajah dan kuda” jawabnya.

Saya pun menaiki mobil pick up tersebut dengan tujuan untuk melihat gajah, binatang khas lampung. Tak lama seorang wanita yang bertugas memberikan karcis pada para penumpang , dengan harga Rp.1000 per penumpang untuk mencapai lokasi gajah tersebut. Setelah itu perlahan mobil mulai bergerak ke arah lembah dengan jalan yang cukup lebar dan turunan yang cukup sedang.

Sekitar 5 menit saya tiba di lokasi, saya turun tepat di pintu masuk dari atraksi gajah tersebut. Ketika saya memasuki lokasi gajah, saya melihat bangku-bangku kosong dibawah sebuah tenda. Tak jauh dari tempat tersebut seorang anak kecil sedang menunggangi gajah yang dipandu oleh pawangnya. Rupanya anak tersebut sudah selesai mengelilingi lokasi tersebut dengan gajah, anak tersebut turun di sebuah tempat yang digunakan untuk menaikan dan menurunkan pengunjung ke punggung gajah.

Saya berjalan menuju jembatan untuk menyeberangi sebuah sungai kecil yang alirannya cukup deras. Saya pun menghampiri lokasi gajah tersebut, disana terdapat 2 ekor gajah, salah satunya sedang dipandu oleh sang pawang di pinggir sebuah sungai sedangkan yang lain berdiri di sebuah kandang yang terbuka dengan kedua kaki terikat oleh rantai. Iba rasanya melihat gajah tersebut dirantai, namun jika tidak begitu mungkin gajah tersebut akan mencelakai pengunjung.

Beberapa orang berkumpul di sebuah tenda payung memperhatikan gajah-gajah tersebut yang salah satunya ada dari kementerian kehutanan. Saya pun bertanya berapa biaya untuk menunggangi gajah. “lima belas ribu saja untuk mengelilingi kawasan ini dengan menunggangi gajah”,jawab salah seorang diantara mereka.

Namun saya memilih untuk mengabadikan momen dengan gajah gajah tersebut, seorang pegawai kementerian kehutanan yang ada disana menawarkan untuk mengambil gambar saya dan keluarga. Saya pun berjalan menghampiri gajah tersebut dan sang pawang memberikan aba-aba kepada gajah tersebut agar mengikuti perintahnya. Sekitar 1 meter dari saya dan keluarga, gajah tersebut berdiri dan mengangkat salah satu kaki depan serta belalainya. “Diam!” teriak sang pawang kepada gajah tersebut. Gajah tersebut pun terdiam sejenak dan momen tersebut pun diabadikan.

Ketika pegawai tersebut mengambil gambar, saya khawatir tiba-tiba gajah tersebut mengamuk. Untung saja disana ada pawang yang akan mengarahkan gajah tersebut sehingga situasi masih bisa dikendalikan. Tak lama gambar saya dan keluarga pun diambil dan disampingnya gajah tersebut berpose dengan manisnya.

Setelah mengabadikan momen dan puas melihat langsung gajah sumatera maka saya dan keluarga pun beranjak mencari mobil yang akan mengantarkan kami ke depan gerbang untuk selanjutnya kembali pulang.