Follow by Email

Friday, December 6, 2013

Master Of Civets






Binatang berbulu hitam lebat dengan moncong yang sedikit runcing serta kumis putih panjang itu memperhatikan gerak gerik saya ketika akan mengambil gambarnya. Sorot matanya tajam melihat ke arah saya, sedetik kemudian binatang tersebut berjalan jalan di dalam kandangnya.

Sapri mempersilahkan saya untuk masuk ke dalam sebuah tempat yang dijadikan kandang-kandang luwak berukuran masing-masing 1 meter persegi per ekornya. Kandang-kandang tersebut terdiri dari dua lorong. Ketika saya berjalan di dalam lorong tersebut ada seekor luwak yang sedang berdiri mengeluarkan kuku-kukunya di jeruji besi yang melintang. Perasaan khawatir mulai muncul, kalau-kalau luwak tersebut mampu menjangkau saya dengan kuku-kukunya yang tajam dari arah depan dan belakang. Untung saja hal itu tidak terjadi.

Rupanya di kandang-kandang luwak ini terdapat dua jenis luwak, yaitu luwak yang berwarna hitam lebat dengan ukuran besar yang merupakan jenis luwak pandan. Sedangkan luwak yang berwarna coklat dengan ukuran yang lebih kecil merupakan jenis luwak bulan. “Yang kecil lebih agresif dibanding yang besar” tutur Sapri.

Di tempat ini terdapat sekitar 100 ekor luwak yang kandangnya di sekat-sekat. Kandang sederhana yang dibuat dari papan-papan dan balok serta jeruji besi. Bangunan yang disanggah oleh balok kayu memiliki atap bangunan sederhana yang di buat dari seng atau atap berbahan plastic agar cahaya tetap bisa masuk ke dalam kandang luwak. Dibawah kandang-kandang luwak tersebut disediakan jaring untuk menampung feses luwak.

“Biasanya luwak ini diberikan kopi yang berwarna merah pada malam hari dan pagi harinya feses-feses tersebut ditampung di dalam jaring yang terdapat di bawah kandang luwak” ujar Sapri memberikan penjelasan. Namun rupanya luwak ini tidak hanya di berikan makan kopi saja, di tempat usahanya ada beberapa karyawan yang mempersiapkan makanan untuk para luwak berupa papaya dan pisang.

Tepat di depan kandang-kandang tersebut biji-biji kopi sedang di jemur di atas sebuah terpal berwarna biru. Kopi yang dijemur tersebut hanya kopi biasa bukan kopi hasil dari olahan pencernaan luwak. Produksi kopi luwak sendiri bergantung pengiriman dari petani kopi. “Biasanya dikirim sekitar 10 kg sampai 1 kwintal per harinya” Sapri menambahkan.

Sapri sendiri merupakan pengusaha kopi luwak dengan merk dagang Ratu Luwak. Kopi-kopi produksinya sudah diekspor ke beberapa Negara asia dan eropa. Hanya saja untuk proses ekspornya Sapri menggunakan jasa broker sehingga harga ketika di pasaran dunia sudah tinggi.

Setelah berkeliling di kandang-kandang luwak tersebut, Sapri mengajak saya menuju gudangnya. Letaknya tidak terlalu jauh hanya melewati beberapa rumah saja. Sambil berjalan menuju gudangnya, Sapri menjelaskan bahwa kopi luwak ini dimulai pada tahun 2006. Pada waktu itu para petani mencari kopi-kopi hasil pencernaan luwak di hutan-hutan, namun seiring berjalannya waktu luwak-luwak ini dipelihara dan diberi makan kopi sehingga mampu menghasilkan kopi luwak secara berkelanjutan di tahun 2008.

Setelah tiba di sebuah rumah yang cukup bagus, kemudian saya pun diajaknya masuk ke dalam rumah tersebut yang ternyata di salah satu bagian rumah tersebut dijadikan tempat penyimpanan biji-biji kopi dalam karung-karung beras. Di bagian belakang rumah ini beberapa karyawannya menyortir bijih kopi untuk kualitas terbaik. “Sedang ada yang pesan dari jerman dan ini di sortir sehingga didapat kualitas terbaik untuk ekspor” ujarnya.

Di salah satu ruangan terdapat bijih kopi dalam bungkusan plastic yang siap untuk dikirim kepada pemesan. Ada juga bijih kopi luwak yang sudah di sangrai dan ditempatkan dalam kotak plastic. “Hmm aroma kopinya harum ya” ujar salah seorang teman.

Sayang hari ini tidak ada proses produksi kopi luwak yang dimulai dari proses pencucian feses luwak sampai proses penjemuran dan sangrai. Namun begitu saya pun mendapatkan kesempatan untuk mencicipi kopi luwak robusta secara gratis.

Sapri mengajak saya untuk melihat produk kopi luwak yang sudah di kemas dan siap dijual untuk di konsumsi. Ternyata lokasinya berada di seberang rumah yang merupakan gudang tadi. Sapri dengan ramah mempersilahkan kami masuk ke dalam rumahnya.

Di sebelah kiri pintu rumahnya terdapat lemari etalase yang cukup besar setinggi 2 meter di dalam lemari tersebut tersimpan produk-produk yang siap dijual dengan beragam ukuran mulai dari 100 gram, 250 gram, 500 gram dan 1 kilogram. Jenis kopinya pun beragam ada kopi robusta, arabika dan kopi luwak robusta dan arabika. Untuk kopi luwak robusta dengan berat 100 gram dihargai Rp.50,000 sedangkan untuk kopi luwak arabika dengan berat yang sama dihargai Rp.70,000.

“Cicipin kopi luwaknya dulu ya?” Sapri menawarkan. Pada awalnya saya dan teman-teman menolak tapi akhirnya kami pun menerima tawaran tersebut. Setelah menunggu beberapa saat, datanglah seorang laki-laki muda membawa beberapa cangkir kecil dalam sebuah nampan. Saya pun menerima kopi luwak yang masih panas tersebut dan didiamkan beberapa saat agar hangat. Warna kopinya kecoklatan tidak hitam pekat dan rasanya sedikit asam namun nikmat tidak terasa pahit. Saya pun menyeruput sedikit demi sedikit dan tanpa terasa habis juga kopi luwak robusta yang memang nikmat tersebut.

Sebelum pulang saya membeli kopi luwak arabika seharga Rp.70,000 dengan berat 100 gram untuk dicicipi di rumah. Saya ingin mengetahui perbedaan rasa antara kopi luwak robusta dan arabika. Kalau di rumah Sapri saya mencicipi kopi luwak robusta maka di rumah nanti saya akan mencicipi kopi luwak arabika.



BOKS:
Alamat Produsen Kopi Luwak
Ratu Luwak –Sapri-
Jl.Raden Intan Gg. Pekonan No.98 Way Mengaku, Kec. Balik Bukit Liwa Lampung Barat

Thursday, December 5, 2013

Mencicipi Gurihnya Sate Bandeng





Hawa panas begitu terasa ketika saya masuk ke dalam ruangan pembakaran sate bandeng yang berada di bagian depan rumah. Bara-bara api masih menyala, membakar sate bandeng yang telah berjajar diatas tempat pembakaran sederhana yang terbuat dari tumpukan bata merah. Aroma sate bandeng pun tercium dari ruangan pembakaran ini.

Ruangan pembakaran sate bandeng ini amat sederhana, terletak di bagian depan rumah dari ibu Haji Mariyam. Hanya bagian depannya saja yang terbuka, bagian lainnya dikelilingi tembok dengan beberapa lubang ventilasi dan di salah satu bagiannya terhubung dengan tempat penjualan sate bandeng. Beberapa bakul yang terbuat dari anyaman bamboo berada di tengah-tengah ruangan dan siap menampung sate bandeng yang telah dibakar.

Untuk membakar sate bandeng, di ruang pembakaran ini terdapat dua buah tempat pembakaran yang panjangnya mencapai 3-4 meter yang masing-masing bisa membakar sekitar 40 sate bandeng. Kedua tempat pembakaran ini berjajar dengan dipisahkan oleh jarak sekitar 2-3 meter mendekati tembok. Para pemuda membakar sate bandeng dengan posisi bertolak belakang.

Di setiap tempat pembakaran sate bandeng, terdapat setidaknya dua orang pemuda. Seorang pemuda tengah sibuk mengangkat sate bandeng yang telah matang dan menaruhnya di bakul bamboo tadi. Pemuda lainnya mengolesi adonan di bagian luar dari bandeng yang telah dijepit oleh bamboo lalu menaruhnya di tempat pembakaran.

Ruang pembakaran ini memang hanya untuk membakar saja , sebelumnya sate bandeng yang siap dibakar diberikan oleh bagian dapur di ruangan lain tak jauh dari ruangan pembakaran. “Kalau mau lebih tahu proses pembuatannya dari awal bisa ke dapur mas.”ujar salah seorang pemuda di ruangan pembakaran. Saya pun bergegas menuju ke ruangan dapur. “Silahkan mas kalau mau ke dapur” seorang wanita paruh baya mempersilahkan saya sembari membersihkan daun pisang yang akan digunakan alas untuk sate bandeng.

Ruangan dapur ini terletak di seberang ruangan pembakaran dan di antara keduanya ada ruangan penjualan yang ruangannya agak menjorok ke dalam. Rupanya d ruangan dapur, empat orang wanita dan seorang pemuda tengah sibuk, masing-masing melakukan tugasnya sambil duduk diatas tempat duduk kecil.

Seorang wanita berambut ikal mempersiapkan adonan yang berupa campuran daging ikan bandeng, santan kental dan bumbu bumbu. Dua orang wanita lainnya memasukkan adonan yang telah dibuat tadi ke dalam ikan bandeng melalui rongga mulut ikan tersebut dengan menggunakan corong plastic. Sedangkan seorang wanita lagi menjepitkan ikan bandeng yang telah diberi adonan tadi ke dalam dua bilah bamboo untuk selanjutnya siap di bakar. Satu-satunya pemuda yang ada di ruangan tersebut melunakkan daging dan memisahkan duri-duri kecil dari dagingnya.

Setelah sate bandeng siap di bakar, maka sate bandeng yang telah di jepit tadi dibawa ke ruang pembakaran untuk selanjutnya di bakar sampai dengan matang dan siap di santap.

Rupanya untuk membuat sate bandengan diperlukan dua kali proses pembakaran. Proses pembakaran yang pertama untuk mematangkan isi dari ikan bandeng ini sendiri. Lalu setelah matang, sate bandeng di angkat lalu bagian luar satenya dilumuri oleh bumbu santan kental tadi sampai menutup seluruh bagian dengan ketebalan sekitar 0,5 cm. Kemudian sate bandeng yang telah diolesi bumbu di bagian luarnya kembali di bakar di ruang pembakaran.

Setelah saya puas melihat proses pembuatan sate bandeng tadi saya beranjak ke ruangan penjualan sate bandeng yang ruangannya berada di antara tempat pembakaran dan ruangan dapur. Disana saya membeli dua buah sate bandeng yang masing-masing harganya Rp25,000,-. Seorang pemuda melayani dengan ramah setiap pelanggan yang ingin membeli sate bandeng tersebut dan membungkus dengan kotak khusus agar pelanggan mudah membawanya.

Ketika tiba di rumah saya pun mencicipi sate bandeng tersebut, rasanya gurih dan sedikit manis.Begitu nikmat karena ditambahkan sambal khusus apalagi durinya sudah tidak ada rasanya lebih nikmat bukan.