Follow by Email

Saturday, July 28, 2012

Mesjid Agung Banten Lama Menjelang Ramadhan



Banten lama merupakan surga bagi para pecinta sejarah, karena di tempat ini ditemukan beberapa peninggalan masa lalu yang sampai dengan saat ini masih bisa dinikmati. Sebut saja, Mesjid Agung Banten Lama, Sisa reruntuhan Keraton Surosowan dan Keraton Kaibon, Pelabuhan Karangantu, Mesjid Pecinan Tinggi, Benteng Spielwijk, Wihara Avalokitesvara, dan Tasik Ardi.

Hari Minggu, 15 Juli 2012 cuaca cerah pagi itu dan saya berencana untuk mengunjungi Banten Lama. Dengan bersepeda motor, saya pun meluncur kesana, di sepanjang jalan saya melewati pasar lama serang, sesekali jajaran pohon beringin di sisi kiri dan kanan jalan, pemukiman, makam-makam para petinggi kerajaan islam banten lama dan tak terasa sebuah gapura menyambut kedatangan saya di Banten Lama. Tak jauh dari gapura tersebut, menara mesjid Banten Lama yang berdiri memesona pun terlihat.

Saya tiba sekitar pukul 10 pagi, ketika itu sudah banyak para pengunjung yang datang. Mereka datang dengan menggunakan bus, mobil pribadi, kendaraan umum dan sepeda motor seperti saya. Sayangnya jalan ketika memasuki situs Banten Lama, kondisi permukaan jalan tidak begitu mulus, sehingga motor saya pun dibuat bergoyang-goyang dan harus hati-hati karena kepadatan jalan pagi itu. 

Setelah memarkirkan sepeda motor, saya pun beranjak menuju Mesjid Banten Lama. Saya menyusuri sebuah koridor layaknya memasuki sebuah terowongan karena di sisi-sisinya banyak para penjual yang menjajakan beragam hal dan bagian atasnya ditutupi oleh terpal yang sambung menyambung sampai dengan gerbang mesjid Banten Lama. Kala itu saya tidak sendirian, beberapa rombongan datang berada di depan saya, rombongan lain berada di belakang saya, begitupun dengan arah sebaliknya sehingga koridor menuju Mesjid Banten Lama terasa sangat sempit dan sesekali kemacetan pun terjadi karena ada rombongan yang berbelanja.

Setelah melewati koridor sudah ada petunjuk untuk para pengunjung yang ingin berziarah dengan sebuah arah panah menunjukkan kepada para peziarah kemana harus melangkah. Di dua titik saya melihat tempat penukaran uang logam receh bagi para pengunjung yang ingin bersedekah kepada para pengemis di areal pemakaman. Sayup-sayup suara lantunan doa terdengar dari sebuah pengeras suara di areal Mesjid. 

Para peziarah terlihat memadati pintu masuk untuk berziarah, sebagian peziarah yang lain ada yang membeli berbagai jajanan makanan yang ada di halaman mesjid, sebagian yang lain ada yang berfoto-foto di depan menara, sebagian lagi ada yang bercengkerama dan ketika melongok ke puncak menara Mesjid, terlihat beberapa orang sedang memandang para peziarah yang datang. Langit biru yang cerah, awan cumulus menghiasi pemandangan di atas mesjid Banten lama menambah mistis suasana pagi itu.

Rupanya menjelang Ramadhan ini banyak para peziarah datang kesini dengan berbagai tujuan, ada yang ingin mendoakan dan tidak jarang juga yang ingin mengambil keberkahan dari ritual ziarah kubur. Sedangkan saya sendiri hanya ingin berwisata, menikmati minggu pagi yang cerah di Banten lama.

Suatu Pagi di Pendopo Gubernur Banten



Suasana sunyi begitu terasa saat saya memasuki gerbang pendopo Gubernur Banten. Sebelumnya seseorang mempersilahkan saya masuk ketika melihat saya mengambil foto gerbang tersebut dan tentunya saya meminta izin terlebih dahulu dengan pihak keamanan untuk memasuki gerbang bangunan ini.

Pagi itu tidak ada aktifitas apapun di pendopo Gubernur Banten, ini dikarenakan hari ini hari minggu 15 Juli 2012. Namun di alun-alun Kota Serang sedang ada kegiatan Serang Fair, kegiatan yang diadakan untuk meramaikan hari jadi kota serang yang sayup-sayup suaranya terdengar hingga ke pendopo Gubernur Banten.

Bangunan yang dibangun sekitar abad ke-19 terletak di ujung barat jalan Jend. Ahmad Yani, yang merupakan jalan utama kota serang. Tidak jauh dari pendopo Gubernur terdapat alun-alun kota dan juga kantor Bupati Serang dan disinilah pusat pemerintahan pada masa colonial dulu yang fungsinya masih bertahan hingga saat ini.

Pada awalnya bangunan ini merupakan kantor Residentie Van Bantam,lalu pada tahun 1974 dirubah statusnya menjadi wilayah I provinsi Jawa Barat dan bangunan ini digunakan sebagai kantor pembantu Gubernur Jawa Barat wilayah I Banten sampai terbentuknya Provinsi Banten pada tahun 2000.
Pendopo gubernur ini merupakan sebuah kompleks bangunan yang bangunan utamanya terletak di bagian tengah, adapun dikedua sisinya terdapat bangunan-bangunan tambahan yang mendukung fungsi bangunan utama. 

Bangunan utamanya memiliki 8 pilar yang kokoh menahan atapnya, dibelakang pilar tersebut terdapat 3 pintu utama yang besar-besar dengan gaya arsitektur abad ke-19. Sekitar ¾ bagian dari pintu utama tersebut terdapat rongga ventilasi . Namun tidak hanya pintunya saja yang besar, jendelanya pun sama besarnya.

Arsitektur bangunan ini sangat erat kaitannya dengan iklim ataupun cuaca dari kota serang. Kota ini merupakan kota pantai, ini menyebabkan suhu udara cukup panas, sehingga agar didalam bangunan terasa nyaman maka dibuatlah pintu-pintu dan jendela dengan ukuran besar dengan rongga udaranya, selain itu jarak antara lantai dan atap dibuat cukup tinggi sehingga setiap orang yang berada didalam ruangan tidak merasa kepanasan oleh cuaca kota serang.

Tepat didepan bangunan terdapat sebuah air mancur dengan taman kecil disekelilingnya , juga terdapat sebuah tiang bendera dan 2 buah meriam buatan. Dihalaman yang lebih luas terdapat beberapa buah pohon beringin yang membuat sejuk halaman tersebut. Kicauan beragam burung di sekitar pohon menambah syahdu suasana. Mereka berkicau dengan beragam kicauan dan sesekali mereka turun untuk mencari makan di sekitar halaman. Suasananya menambah kesejukkan pagi itu dan tidak ada salahnya jika hari minggu pagi berkunjung ke pendopo gubernur banten ini untuk menikmati keindahan arsitektur bangunan dan suasana disekitar bangunan.




Tuesday, July 17, 2012

Musik Etnik Pegunungan Andes Menyapa Serang


Hari Sabtu biasanya saya beristirahat dirumah untuk melepas lelah setelah sepekan bekerja. Namun tidak untuk hari sabtu lalu, saya diberi tugas untuk menjaga stand perusahaan tempat saya bekerja bersama dua orang teman lainnya. Dengan langkah terseok-seok saya pun tiba di lokasi pameran yaitu Mall of Serang, sebuah mall yang berada tepat dijantung kota Serang.

Ketika saya tiba di area pameran, tepat disebelah kiri stand perusahaan saya beberapa orang sedang mempersiapkan perlengkapannya. Tampak sebuah stand book music, alat yang dapat menyimpan lembaran not-not lagu, sebuah sound system dan kelengkapannya. Saya pun bertanya-tanya dalam hati dan pikir saya mungkin sebuah sekolah music yang mencoba menjaring pengunjung agar mendaftar menjadi siswanya. Saya pun mencoba bertanya kepada salah seorang wanita yang ada di stand tersebut.”sekolah music ya mba?” dan dia pun menjawab dengan singkat “bukan”. Wajahnya terlihat antara bingung dan enggan menjelaskan. “Lihat saja sendiri  nanti“ menurut pikiranku mencoba membaca arah pikirannya menjawab pertanyaan saya tadi.

Setelah selesai merapihkan seluruh perlengkapannya barulah saya mengetahuinya, ternyata stand tersebut menjual album original Chalwanka, sebuah grup music etnik dari pegunungan Andes di Peru. Selain menjual album original chalwanka yang berisi lagu-lagu instrumental internasional populer, stand tersebut juga menjual kerajinan tenun dan sulam khas peru, ada yang berbentuk tas, sejenis kupluk, syal dan alat music tradisional peru, zamponas dan quenas. Ada juga kain dengan motif Indian inca yang sekilas mirip dengan kain tenun ulos.




Dalam sebuah penjelasannya di pacha-chalwanka.blogspot.com, chalwanka sendiri adalah pacha yang merupakan pendiri grup music etnik tersebut, bisa juga duo seperti dulu bareng Yauri, atau bareng Gatot Alindo, trio bersama Lucho (Chili), Luis (Spanyol). 

Alat music yang digunakan oleh chalwanka adalah zamponas dan quenas. Zamponas sendiri merupakan sebuah alat music tiup tradisional peru atau indian yang terbuat dari bamboo yang bersumber dari hutan amazon. Ukuran bamboo nya kecil, mungkin berdiameter 1-2 cm. Zamponas tersusun dari beberapa bamboo, disalah satu ujungnya bamboo bamboo tersebut saling bertemu dan merata. Sedangkan diujung lainnya panjang bamboo berbeda dari kiri ke kanan yang semakin panjang. Bambu tersebut dipertemukan dengan bamboo yang melintang terikat pada sisi yang mendekati ujung salah satu sisinya dan dibeberapa bagian terikat dengan tali berwarna warni sehingga bamboo-bamboo tersebut semakin rekat.


Adapun quenas juga merupakan alat music tiup tradisional peru atau Indian, terbuat dari kayu yang juga berasal dari hutan amazon. Bentuknya seperti suling atau flute, namun dengan diameter yang lebih besar dan terbuat dari kayu, mungkin sejenis kayu jati atau meranti. Diameter disalah satu ujung lubangnya lebih besar dibandingkan ujung lainnya.

Awalnya stand tersebut sepi-sepi saja, sesekali pengunjung hanya melirik ke arahnya, sesekali bertanya dengan rasa penasaran dan sesekali pula melewati dengan tidak menghiraukannya. Sama persis seperti apa yang dialami oleh stand perusahaan tempat saya bekerja.

Tak terasa sore pun tiba, dan seorang musisi asal peru memulai aksinya. Musisi tersebut adalah pacha chalwanka, pendiri grup music etnik chalwanka dari pegunungan andes Amerika Selatan. Dua buah alat music tradisional peru, zamponas dan quenas menemani penampilannya. Pacha pun meniupkan alat music tradisional tersebut dengan penuh emosi dan membawakan beberapa lagu secara instrumental seperti Right Here Waiting Richard Marx, Chiquitta ABBA, My Heart Will Go On Celine Dion, dan beberapa lagu terkenal lainnya.


Sesekali pacha juga membawakan lagu latin yang terasa asing ditelinga saya. Namun nada-nada yang dihadirkan yang keluar dari zamponas dan quenas mampu membuat pengunjung terkesima, terkagum-kagum bahkan terhipnotis oleh penampilan pacha. Ketika selesai membawakan lagu, riuh tepuk tangan pengunjung membahana membuat suasana sore itu semakin semarak.

Jika di eropa terdapat pegunungan Alpen, di Asia terdapat pegunungan Himalaya, maka di Amerika selatan terdapat pegunungan Andes yang dengan pengaruhnya tercipta nada-nada eksotis yang bersumber dari zamponas dan quenas.

Sunday, July 8, 2012

Menyesapi Karya Awal Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff



Sering kali ketika saya berkunjung ke kota Bogor, saya hanya melewati bangunan ber arsitektur eropa ini. Namun tidak pernah saya memperhatikan lebih detail bentuk bangunan ini dan mencoba menyelami lebih dalam nilai bangunan yang saat ini menjadi salah satu landmark di kota Bogor. Bangunan yang anggun berdiri di tengah kota dengan hiasan taman yang luas dan rusa-rusa Nepal yang cantik memperindah suasana bangunan tersebut. 

Bisa dikatakan istana Bogor merupakan pusat dari kota Bogor, titik awal dimana pembangunan sebuah kota dimulai sekitar 3 abad yang lalu. Kota yang pada awalnya bertujuan sebagai tempat peristirahatan bagi para pejabat VOC yang sedang melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Priangan-Bandung. Namun saat ini, tempat peristirahatan atau tepatnya bangunan tersebut sudah beralih fungsi hanya menjadi sebuah hiasan kota yang sesekali digunakan untuk acara kenegaraan. 

Pada awalnya ketika saya tiba, saya hanya dapat memandangi bangunan yang megah itu dari kejauhan. Tepatnya dari jalan Ir. H. Djuanda, di depan gerbang bangunan tersebut. Saya pun ingin sekali melihat lebih dekat bangunan tersebut, dan untuk mencapainya saya harus masuk kedalam Kebun Raya Bogor.
Istana Bogor berbatasan langsung dengan Kebun Raya Bogor, hanya sebuah pagar besi yang mengelilingi bangunan tersebut menjadi pembatasnya, saya pun menelusurinya dari sisi sebelah timur ke sisi selatan. 


Di salah satu sisinya terdapat sebuah danau buatan dengan tanaman teratai tumbuh menghiasinya, danau yang memisahkan kaum proletar dengan kaum bangsawan pikir saya. Diseberang danau buatan tersebut,bagian belakang istana nampak sangat jelas dengan tiang-tiang yang kokoh menopang bangunan tersebut. Di bagian tengah bangunan tersebut, sebuah menara dengan kubah keemasan menyeruak muncul, menambah keindahan bangunan arsitektur abad ke-19 tersebut.

Di beberapa titik di sekitar bangunan, terdapat beberapa patung yang diantaranya adalah patung dengan judul “tangan tuhan” karya pematung swedia, patung perunggu “Hercules” karya pemahat polandia dan patung “pegassus” karya pematung swedia. Patung-patung tersebut menambah suasana mistis bangunan tersebut, mereka mencoba menuturkan kisah dibalik berdirinya bangunan ini. 

Sangat mudah untuk menikmati keindahan bangunan ini dari dekat, para pengunjung bisa menaiki satu kali angkutan kota dari terminal baranang siang yang menuju kebun raya bogor. Sedangkan untuk kendaraan pribadi, setelah keluar tol jagorawi bisa langsung mengarah ke utara menuju kebun raya bogor. Untuk selanjutnya masuk ke dalam kebun raya bogor menuju sisi selatan dari istana bogor.Disana kita bisa menikmati keindahan bangunan beralaskan rumput yang hijau dan dihadapannya terhampar danau buatan berhiaskan bunga teratai nan cantik.

Serang, 8 Juli 2012

Thursday, July 5, 2012

Senja Di Pantai Sanghiang, Anyer Banten




Bogor antara sejarah, budaya dan pariwisatanya


Bogor kota indah sejuk nyaman
Bagai bunga didalam taman
Selalu dikunjungi wisatawan
Sungguh menarik perhatian…

Begitulah sepenggal lagu yang mungkin pernah kita dengar mengenai kota Bogor. Bait yang menggambarkan kondisi kota Bogor yang memang menarik perhatian para wisatawan untuk mengunjunginya. Berjarak sekitar 60 km dari pusat ibu kota Negara dengan pemandangan Gunung Salak dan Gunung Gede yang mengapitnya, Bogor memang dibangun oleh Gubernur Jenderal Baron Van Imhoff dengan tujuan sebagai tempat peristirahatan dikarenakan kesejukannya. Hal tersebut ditandai dengan berdirinya Istana Bogor yang hingga saat ini bangunannya masih berdiri kokoh.

Adapun sejarah berdirinya kota Bogor bukan berawal dari pembangunan istana Bogor pada abad ke-18, namun jauh sebelumnya yang ditandai dengan penobatan Prabu Siliwangi sebagai Raja Pakuan Pajajaran pada tanggal 3 Juni 1482. Semenjak tanggal penobatan tersebut hingga saat ini diperingati sebagai hari jadi Kota Bogor dan pada tahun 2012 ini kota Bogor sudah berumur 530 tahun.

Dengan sejarahnya yang cukup panjang, kota Bogor memiliki beragam peninggalan sejarah, baik peninggalan kerajaan maupun peninggalan colonial. Untuk peninggalan kerajaan yaitu berupa prasati batu tulis, prasasti peninggalan kerajaan Padjajaran yang berisi penobatan kembali Prabu Purana sebagai Raja Pakuan Padjajaran. Sedangkan untuk peninggalan colonial sangat mendominasi peninggalan sejarah yang ada di kota Bogor. Untuk peninggalan colonial yang masih bertahan sampai dengan saat ini antara lain, istana Bogor, Kebun Raya Bogor, Gereja Katedral, Gereja Zebaoth, Stasiun Bogor, Sekolah Regina Pacis, Kantor Pos, klenteng Hok Tek Bio, mesjid empang dan Balai Kota Bogor.

Budaya
Beragam etnis yang ada di kota Bogor saat ini menandai proses interaksi antar etnis yang sudah lama terjadi, adapun etnis yang mengikuti perkembangan Bogor sampai dengan saat ini adalah etnis arab, tionghoa dan pribumi/sunda. Untuk etnis arab sendiri pada awal mulanya dan sampai dengan saat ini tinggal di daerah empang, hal ini ditandai dengan berdirinya mesjid empang yang sudah berumur ratusan tahun. Adapun keberadaan etnis tionghoa ditandai dengan berdirinya klenteng hok tek bio yang terletak di jalan surya kencana di seberang gerbang Kebun Raya Bogor.  Sedangkan untuk etnis sunda sendiri tersebar di seluruh penjuru kota Bogor. Sikap menghargai budaya masing-masing dan saling menghormati diantara etnis tersebut membuat Bogor tetap terjaga dari konflik antar etnis bahkan sepanjang hidup saya tidak pernah terdengar konflik serius antar etnis tersebut.

Pariwisata
Tidak dapat dipungkiri kota Bogor merupakan salah satu destinasi para wisatawan dengan beragam objek wisatanya. Sebut saja Kebun Raya Bogor yang dibangun pada masa colonial, siapa yang tidak mengetahuinya. Belum lagi istana Bogor yang berdiri di tengah kota menjadikan landmark tersendiri di kota Bogor.

Jenis wisata yang dapat dinikmati di kota Bogor antara lain wisata sejarah, wisata kuliner, wisata belanja, wisata alam, wisata ziarah dan tentunya wisata budaya. Untuk wisata sejarah kita dapat mengunjungi objek wisata seperti prasasti batu tulis, istana Bogor, museum  PETA, museum Zoologi, Gereje Katedral, Gereja Zebaoth, Stasiun Bogor, Sekolah Regina Pacis, Kantor Pos, klenteng Hok Tek Bio, mesjid empang dan Balai Kota Bogor.  Lokasi-lokasi dari objek wisata tersebut berada tepat di pusat kota Bogor dan jika kita mengitari kebun raya bogor dari sisi luarnya maka objek-objek tersebut akan kita lewati

Adapun untuk wisata kuliner para wisatawan dapat mengunjungi daerah di sepanjang jalan surya kencana, di daerah tersebut kita bisa menikmati makanan khas kota Bogor seperti Toge Goreng, Soto Bogor, asinan bogor, roti unyil laksa. Selain di jalan surya kencana, kita juga dapat melakukan wisata kuliner di sekitar Taman Kencana atau jalan salak disana terdapat beberapa tempat menarik untuk memanjakan lidah seperti warung taman yang menjual aneka masakan indonesia, es buah pa ewok, pia apple pie, macaroni panggang, kedai kita bahkan sampai dengan makanan khas timur tengah ada disini. Jika kita belum puas dengan makanan-makanan tersebut, kita juga bisa menjelajahi jalan padjajaran untuk memburu makanan khas bogor.

Berwisata rasanya tak lengkap tanpa membawa buah tangan ataupun berbelanja, lokasi-lokasi ideal untuk melakukan wisata belanja di kota bogor terdapat di jalan padjajaran dengan berbagai factory outletnya, di daerah tajur dengan toko-toko tasnya dan jika ingin mendapatkan buah tangan khas bogor, kita bisa mendapatkannya di seberang gerbang utama Kebun Raya Bogor.

Apabila kita ingin menikmati segarnya suasana alam maka sebaiknya mengunjungi Kebun Raya Bogor. Dengan koleksi tanaman berusia ratusan tahun dan pepohonan yang tinggi menjulang dihiasi oleh rindangnya dedaunan menambah kesegaran suasana di kebun raya tersebut.  Bila kita masuki lebih dalam lagi disana terdapat rumah anggrek yang berisi koleksi-koleksi anggrek beragam warna yang tentunya memberikan kesan tersendiri tentang anggrek tersebut. Adapula situ gede yang terletak di daerah kelurahan situgede Bogor Barat, dengan pemandangannya yang indah mampu membuat para pengunjung terpana dan lokasi ini sangat cocok bagi wisatawan yang ingin melepas lelah.

Untuk wisata ziarah kita dapat mengunjungi peristirahatan terakhir Raden Saleh. Siapa yang tidak kenal dengan Raden Saleh pelukis ternama dengan karya-karya mendunia, tetapi mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa makam Raden Saleh terletak di Kota Bogor. Lokasi makam Raden Saleh tidak terlalu jauh dari pusat Kota Bogor yaitu sekitar 5 km yang dan untuk mencapai lokasi tersebut bisa menggunakan angkutan umum dari stasiun Bogor ataupun Terminal Baranang Siang. Apabila kita pertama kali kesana kita tidak akan pernah menyangka bahwa lokasi makam tersebut tidak berada tepat di pinggir jalan raya tetapi harus memasuki sebuah gang terlebih dahulu setelah memasukinya sekitar 100 meter barulah kita akan menemukan makam sang maestro lukisan tersebut.

Sedangkan untuk wisata budaya, para wisatawan dapat mengunjungi kampung budaya sindang barang yang berlokasi di Desa Pasir Eurih Kecamatan Taman Sari. Di kampung ini kita dapat mempelajari budaya sunda yang masih memegang erat tradisi leluhur, seperti kegiatan seren taun yang merupakan tradisi sebagai symbol ucapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rizki yang diberikan melalui panen raya.

Itulah sekelumit tulisan tentang kota kelahiran saya, kota yang akan terus berkembang dengan mengacu kepada sejarah kejayaan masa lalu, kekayaan budaya dan pariwisata sebagai pendorong sector ekonomi untuk membuat masyarakatnya menjadi lebih sejahtera. 

Wednesday, July 4, 2012

Quotes For Traveler

A journey of a thousand miles must begin with a single step.” — Lao Tzu

Sunday, July 1, 2012

Quotes

Jika kamu ingin hebat, berpetualanglah!
Karena dunia milik orang-orang pemberani!

Pepatah Lama

Musim liburan Sekolah, Sari Ater Diserbu Wisatawan

image
Memasuki musim liburan sekolah tahun ini objek wisata mata air panas Sari Ater yang berlokasi di Kabupaten Subang Jawa Barat diserbu pengunjung. Rata-rata para pengunjung berasal dari luar kabupaten subang, diantaranya Jakarta, Bogor, Bandung, Garut, Cirebon dan Pekalongan. Para pengunjung datang dengan berombongan maupun dengan keluarga. Mereka memanfaatkan momentum liburan sekolah dengan bersenang-senang bersama keluarga.
Tiket masuk ke lokasi Sari Ater ini yang cukup terjangkau, dengan tariff Rp.18,000.00 per orang, Rp.10,000.00 per motor, Rp.15,000.00 per mobil dan Rp.20,000.00 per bus, membuat para pengunjung tidak perlu merogoh kantung terlalu dalam untuk menikmati objek wisata mata air panas ini.
Objek wisata Sari Ater dapat ditempuh dalam waktu 3-4 jam dari kota Jakarta dengan jarak sekitar 120 km. Jika menggunakan kendaraan pribadi maka dapat mengakses Tol Cipularang dan keluar di Sadang untuk selanjutnya dilanjutkan menuju Subang Sari Ater. Jika menggunakan kendaraan umum, bisa menggunakan Bus jurusan Subang dan dari Terminal Subang dapat menaiki angkutan umum menuju Sari Ater.
Di objek wisata Sari Ater ini, para pengunjung dapat berendam di kolam-kolam rendam mata air panas yang ada didalamnya. Untuk berendam di kolam tersebut, para pengunjung akan dikenakan biaya kembali bergantung fasilitas yang ada di kolam tersebut dengan biaya termahal Rp.40,000.00 untuk kolam rendam Mayang Sari dan termurah Rp.10,000.00 untuk kolam rendam Leuwi Sari.
image
Berendam di kolam mata air panas ini dengan kandungan mineralnya yang cukup tinggi dapat berguna untuk pengobatan fisik seperti reumatik, kerusakan anggota gerak, gangguan kandungan, cedera system persyarafan, Cidera karena olah raga dan penyakit kulit. Selain itu, karakter air panas dengan suhu 40°-42 ° tidak mudah diterima oleh mereka dengan kondisi tubuh lanjut usia, pengidap kelainan jantung, diabetes, pasca stroke, TBC, asma dan darah tinggi serta wanita hamil.
Objek wisata Sari Ater ini juga menyediakan beragam fasilitas untuk liburan keluarga berupa sport and adventure. Untuk fasilitas Sport and Adventure diantaranya ATV Bambie untuk anak-anak, ATV 4 WD, Gokart Twin, Panahan. Untuk para pecinta petualang dapat menggunakan fasilitas adventure diantaranya Jeep Off Road, Land Touring, Pitch and Putt Golf Garden, Gokart Off Road, Paint Ball, Wall Climbing, Flying Fox dan Berkuda. Tentunya untuk fasilitas tersebut dikenakan biaya tambahan.
image
Setelah puas berendam, bermain dan berpetualang, maka para pengunjung dapat membeli oleh-oleh khas subang seperti buah nanas, keripik nangka, dodol ketan,tape ketan dan dodol nanas serta beragam kerajinan tangan. Penjual oleh-oleh dengan kios-kios kecil ini terletak di bagian utara objek wisata Sari Ater bersebelahan dengan area parkir. Untuk buah nanas, dapat dibeli dengan harga Rp.5,000 per buahnya jika pengunjung pandai menawar.

Mengais Rezeki dari Keindahan Gedung Sate

image
Matahari hampir tepat berada di atas ubun-ubun dan panas terik menyengat di siang itu. Digenggamnya kuat-kuat tali kekang kuda tersebut agar tetap dalam kendalinya. Dengan setia menunggu wisatawan yang akan menggunakan jasanya didepan Gedung. Sesekali tak segan menawarkan jasanya kepada para wisatawan yang berkunjung ke gedung sate, dengan penuh harap menggunakan jasanya untuk mengelilingi daerah tersebut.
Siapa yang tidak mengetahui keberadaan gedung sate di kota Bandung, selain menjadi salah satu landmark kota Bandung, Gedung Sate juga dijadikan salah satu tempat untuk mengais rezeki. Gedung sate bisa dikatakan lokasi wajib yang harus dikunjungi oleh para wisatawan. Gedung yang memiliki arsitektur khas kolonial tersendiri dengan puncak gedungnya seperti tusuk sate. Disini pula tempat gurbenur bekerja dan gedung ini pula menjadi saksi bisu sejarah perkembangan kota Bandung.
Dengan daya tariknya, tak mengherankan jika banyak sekali wisatawan yang mengunjunginya dan inilah yang dijadikan sumber rejeki oleh orang-orang seperti kang enjah untuk menjajakan jasa delman mengelilingi wilayah sekitar gedung sate. Untuk sekali mengelilingi wilayah gedung sate, kang enjah memasang tariff Rp.30,000.00. Kang enjah selalu bersyukur karena selalu ada saja yang menggunakan jasanya walaupun penghasilannya tidak menentu. Jika sedang ramai kang enjah bisa mengelilingi sampai lebih dari lima kali, jika sedang sepi bisa kurang dari 5 kali atau bahkan tidak ada sama sekali. Biasanya hanya wisatawan domestic yang menggunakan jasanya, wisatawan asing sendiri hampir tidak pernah menggunakan jasanya.
image
Kang enjah pun mengeluhkan sepinya liburan sekolah kali ini, menurutnya mungkin karena kenaikan kelas ataupun tingkatan dari SD ke SMP, SMP ke SMA dan SMA ke Perguruan Tinggi. Dikarenakan para orang tua lebih memilih menggunakan dananya untuk biaya pendidikan putra-putri mereka daripada untuk liburan. Berbeda halnya dengan liburan semesteran yang menurutnya lebih ramai dibanding liburan kali ini.
Selain kang enjah ada juga penjual minuman ringan dan makanan seperti bakso, es cendol, kacang rebus dan siomay. Mereka semua memiliki tujuan yang sama, mengais rezeki dari para pengunjung gedung sate untuk menyambung hidup. Adapun para wisatawan dapat makan dan minum sambil menikmati keindahan gedung sate. Bukankah hal tersebut adalah hubungan yang saling menuntungkan.

20 JAM DI BANYUMAS / Surga Tempe di Desa Pliken (part IV)

Desa Pliken, berbatasan dengan Desa Kramat dan terletak di Kecamatan Kembaran Banyumas, Desa ini dikenal sebagai penghasil tempe terbesar di Banyumas yang hasil produksinya dikirim ke berbagai daerah di jawa tengah. Bahkan menurut salah satu sumber, di setiap rumah di desa pliken pasti memproduksi tempe dan sudah puluhan tahun menjadi produsen tempe.

Minggu pagi yang cerah saya berkesempatan mengunjungi pabrik keripik tempe yang berlokasi di desa pliken, selain membeli keripik tempe saya juga ingin melihat proses pembuatannya. Pabrik tersebut berupa rumah sederhana yang tidak terlalu luas, di samping rumah tersebut terdapat rak yang berisi tempe yang sudah diberi ragi dibungkus daun pisang dan kertas menunggu matang. Tidak jauh dari rak tersebut terdapat beras yang telah dicuci untuk selanjutnya diproses menjadi tepung beras. Ketika memasuki rumah tersebut, seorang pemuda sedang menumbuk bumbu racikan keripik tempe pada sebuah alu.


Produsen tempe ini biasanya memproduksi sendiri bahan bakunya seperti tempe  dan tepung beras. Bumbu yang tadi diracik akan dicampurkan dengan tepung beras dan ditambahkan air. Tempe yang akan digoreng terlebih dahulu dicelupkan kedalam adonan tepung tersebut, setelah selesai digoreng, ditiriskan untuk kemudian dikemas dan dijual. Biasanya produsen tempe ini menjualnya ke tempat penjualan oleh-oleh di daerah sokaraja. Jika membeli ditempat ini, harga yang ditawarkan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membeli di tempat penjualan oleh-oleh. Saya pun membawa beberapa bungkus oleh-oleh untuk keluarga dirumah.

20 JAM DI BANYUMAS / Menelusuri jejak malam Purwokerto (part III)

Malam pun tiba dan saya bersama teman saya berencana untuk melakukan perjalanan ke kota purwokerto. Daerah yang pertama akan saya tuju adalah Jalan Jend. Sudirman Sokaraja, disana saya akan membeli oleh-oleh khas banyumas yaitu getuk goreng ASLI Haji Tohirin. Ketika tiba di sokaraja, saya sempat dibuat bingung karena nama toko penjual oleh-oleh tersebut sama,yang membedakan hanya nomornya saja. Berdasarkan informasi yang saya terima nomor tersebut adalah nomor urut dari anak-anak pemilik usaha getuk goreng tersebut. Akhirnya saya pun tiba di getuk goreng nomor dua, ditoko tersebut kita bisa mencicipinya terlebih dahulu sebelum membeli. Getuk goreng ini dapat di beli kiloan dengan harga per kilonya Rp.10,000.00, saya pun membeli 2 kilo untuk oleh-oleh keluarga dirumah.

Setelah berkunjung ke sokaraja maka tujuan selanjutnya adalah kota purwokerto untuk membeli oleh-oleh khas banyumasan. Saya pun menuju choco klik yang berada di pusat kota purwokerto tepatnya di ruko merdeka no 7-8 purwokerto. Toko tersebut merupakan surga bagi para penggemar coklat, bagaimana tidak, didalam toko tersebut sudah berjajar aneka ragam makanan dan minuman hasil olahan coklat berupa cake maupun brownies. Harga untuk cake coklat kayumanis almond cukup terjangkau hanya sekitar Rp.25,000 sudah dapat menikmatinya. Selain itu coklat batangan pun tersedia disini dengan harga yang paling murah sekitar Rp.12,000. Di tempat ini juga dijadikan tempat nongkrong para remaja, selain karena tempatnya yang nyaman juga tersedia fasilitas wifi untuk para pengunjung yang ingin berselancar di dunia maya.  

Sebelum kembali ke Desa Kramat, kami pun menelusuri kota Purwokerto untuk mencari makan. Setelah berkeliling melewati alun-alun kota yang dipenuhi oleh masyarakat sekitar yang sedang bermain ataupun sekedar menghabiskan waktu. Kami pun melewati GOR Satria dan disekitar jalan inilah surga bagi para pecinta kuliner, beraneka ragam jenis makanan tersedia disini. Di sekitar sinilah kami makan malam, namun bukan makanan khas banyumas yang kami makan melainkan ikan fillet tom yam yang berasal dari Thailand dengan sedikit modifikasi agar sesuai dengan lidah indonesia.

20 JAM DI BANYUMAS / Senja Di Desa Kramat (part II)

Setelah beristirahat sejenak, menjelang matahari terbenam saya beranjak menyusuri desa tersebut menuju arah barat setelah sebelumnya saya mendapatkan informasi jika didaerah barat desa ini terdapat pemandangan yang menarik. Rasa lelah masih mendera tubuh ini, tapi mendapatkan informasi pemandangan menarik membuat saya bersemangat untuk mengayunkan langkah kaki untuk menikmati pemandangan tersebut. Tak perlu waktu lama,saya pun mememukan pemandangan yang menarik tanaman padi dengan bulir-pulir padi yang hijau dan sudah mulai menguning, perkebunan cabai, terung, sayuran kangkung dan kedelai yang siap untuk dipanen. Pemandangan yang lebih menakjubkan adalah pemandangan gunung slamet dari arah selatan yang menemani saya menikmati senja di desa kramat.
image
Di perkebunan tersebut saya pun berbincang singkat dengan beberapa orang petani yang kebetulan saat itu sedang memanen tanaman kangkungnya. Sang petani bercerita bahwa biasanya ketika petani memanen hasil taninya maka tengkulak akan segera mendatangi untuk membelinya.Sang petani tersebut bercerita bahwa biasanya per ikat tanaman kangkung tersebut dihargai sebesar Rp.500- Rp.750. Disalah satu sisi perkebunan kangkung yang telah dipanen dengan luasan sekitar 500 meter persegi, bertumpuk beberapa ikat tanaman sayur tersebut, jika saya perkirakan mungkin ada sekitar 100 ikat sehingga total yang akan didapat petani adalah sekitar Rp.50,000 sampai dengan Rp.75,000 itu pun belum dikurangi biaya pupuk dan bibit. Setelah dijual dipasar oleh tengkulak maka harganya akan naik 2 kali lipat menjadi Rp.1000 sampai dengan Rp.1500 per ikat sehingga keuntungan yang ditangguk oleh tengkulak adalah Rp.50,000 sampai dengan Rp.75,000 dikurangi biaya transport. Rasanya sungguh tidak adil, ketika sang petani bermandi keringat menggarap kebun untuk menanam kangkung sampai dengan panennya maka sang tengkulak dengan modal uang bisa langsung membeli hasil panen dan menjualnya kembali ke pasar dengan harga 2 kali lipat. Seharusnya pemerintah menyediakan sarana transportasi gratis bagi para petani untuk menjual hasil panennya langsung ke pasar sehingga keuntungan yang didapatpun bisa lebih tinggi.
image