Follow by Email

Thursday, May 30, 2013

Sensasi Waterboom Lembah Hijau Bandar Lampung

m
Menara Wahana Boomerang


Motor tua yang saya tumpangi hampir saja tidak kuat melalui jalan yang menanjak, untung saja dengan keahlian tukang ojek menaikkan dan menurunkan persneling saya bisa tiba di lembah hijau. Udara sejuk mulai terasa ketika saya tiba di lembah hijau yang memiliki ketinggian sekitar 700 meter. Pepohonan yang rindang di sebuah lembah menambah kesejukkan pagi itu.

Barisan loket layaknya pintu tol utama menyambut, di loket tersebut tertera biaya masuk ke lokasi yaitu Rp.10,000 untuk perseorangan. Saya pun membeli 2 tiket untuk masuk ke lokasi dan menanyakan lokasi waterboom. “Terus saja ke bawah pak, ada di sebelah kanan” jawab petugas loket tersebut.

Tak jauh dari loket tersebut, sebuah cinema 4 dimensi ada disisi sebelah kanan dan tepat di sebelahnya setelah parkiran mobil adalah loket masuk ke waterboom lembah hijau. Sebuah pengumuman tertera di loket tersebut yang isinya bahwa anak di atas satu tahun wajib membeli satu tiket. Saya membeli 3 tiket masing-masing seharga Rp.25,000.00 untuk saya, istri dan anak saya yang berusia 2 tahun.

Saya pun masuk ke dalam waterboom, sebuah wahana luncuran terbesar yang ada disana pun terlihat, namanya boomerang dengan ketinggian sekitar  30 meter. Ujung dari wahana ini tidak meluncur ke kolam, namun menanjak ke atas sehingga akan dibuat turun lagi dan naik lagi hingga benar-benar terhenti di bagian bawah.

Wahana lainnya adalah luncuran dengan ketinggian 15 meter di ujung waterboom. Sebuah menara yang memiliki 2 luncuran, 10 meter dan 15 meter berdiri gagah disana. Namun di menara tersebut masih sepi karena memang belum banyak pengunjung yang datang. Waterboom ini memiliki 4 kolam, 2 merupakan ujung luncuran, 1 untuk berenang dan 1 lagi untuk wahana anak.

Saya berjalan melewati wahana untuk anak dan mencari-cari saung untuk beristirahat sejenak dan menyimpan barang-barang. Rupanya banyak saung telah digunakan oleh para pengunjung padahal saya tiba sekitar pukul 9.30 pagi. Setelah mencari-cari akhirnya saya menemukan sebuah saung yang masih kosong, namun setelah dihampiri saung tersebut sudah rapuh alasnya tetapi sisi-sisinya masih kuat. Jadilah saya beristirahat dan menyimpan barang disitu.

Sebenarnya untuk barang-barang bisa dititip di loker yang dikelola waterboom dengan menggunakan koin untuk menyewanya. Hanya saja  koin-koin di dalam loker tersebut belum dikeluarkan oleh pengelola sehingga pagi itu saya belum bisa menyewanya.

Setelah berganti pakaian maka saya pun menemani putri saya yang berusia 2 tahun bermain-main di wahana anak, sementara istri saya melihat-lihat. Lalu bergantian, istri saya bermain dengan putri saya dan saya menunggu di saung sambil saya melihat mereka bermain.
Ketika tiba waktu saya untuk mencoba luncuran 15 meter, saya menaiki anak tangga untuk menuju tempat luncuran tersebut. Setibanya di atas rupanya sudah ada beberapa remaja yang menunggu giliran.

Muncul perasaan takut, khawatir dan cemas sebelum mulai meluncur. Saya memperhatikan terlebih dahulu orang-orang yang meluncur. Cepat sekali mereka meluncur,ketika berbelok terlihat seperti akan keluar lintasan. Namun seorang petugas disana menjamin keamanannya, “Dijamin aman.” Seorang petugas menjamin keamanan luncuran tersebut. Menjawab pertanyaan beberapa remaja tentang keamanan luncuran tersebut.

Setelah saya merasa yakin, maka tibalah giliran saya meluncur. Saya mempersiapkan diri di bagian awal luncuran, sebelum meluncur petugas meminta saya untuk membuka baju untuk kecepatan dan meluncur. Setelah membukanya dan menaruh diantara 2 kaki, saya merebahkan diri dengan kedua telapak tangan bertemu dan disangkutkan ke leher. Mulailah saya meluncur dengan kecepatan sekitar 60-80 km/jam, wusshh. Terpelanting kesana-kemari mengikuti arus dan lintasan dan setelah beberapa menit, byurrr. Saya pun meluncur deras ke atas sebuah kolam.
Wahana luncuran dengan ketinggian 15 meter

Tantangan selanjutnya adalah boomerang dan saya menghampiri loket tersebut, di loket tersebut terpampang sebuah pengumuman. “Rp.20,000/2 orang/ban”. Untuk menaiki wahana boomerang ini dikenakan biaya Rp.20,000 dan akan diberikan ban untuk 2 orang. Ban yang berbentuk angka 8 dengan bagian depan yang lebih runcing. 

Permasalahannya adalah saya hanya sendiri, saya pun bertanya ke loket tersebut. “Bisa sendiri pak?” Tanya dengan penuh harap bisa sendirian. “Maaf pak, tidak bisa. Harus berdua untuk keamanan.” Jawab petugas loket tersebut. Setelah itu maka saya pun mencari teman yang mau diajak meluncur, saya tidak mungkin meluncur dengan istri karena anak saya tidak ada yang menjaga.

Beberapa remaja lewat di depan saung, 2 orang membawa ban dan satu orang tidak. Saya pun bertanya,”ada yang mau meluncur bareng dengan saya?”. Ketiga remaja tersebut saling memandang dan tidak langsung mengiyakan. Hanya menjawab “sebentar om.” Tak lama seorang dari mereka kembali “Ayo om” mengajak saya untuk menaiki wahana boomerang.Segera saja kami menuju ke loket dan membayar Rp.20,000 lalu mengambil ban, kemudian kami menaiki menara dengan tangga yang berputar.

Saya pun menaiki anak tangga sampai ketinggian 30 meter, melelahkan dan membuat kaki pegal. Dari atas menara sebuah pemandangan mengagumkan hadir. Saya melemparkan pandangan ke sekeliling menara, disana terdapat beberapa bukit yang mengelilinginya dan memang waterboom ini berada di lembah.

Setibanya di atas rupanya ada 2 pasang yang sedang mengantri menunggu giliran meluncur, sepasang laki-laki dan sepasang perempuan. Setelah sepasang laki-laki meluncur, maka tinggal menunggu sepasang perempuan meluncur barulah giliran kami. Rupanya salah seorang dari perempuan tersebut belum berani meluncur, meskipun sudah dibujuk oleh temannya. Kami pun menunggu bujukan dari temannya tersebut, namun rupanya bujukan tersebut tidak berhasil malah kami dipersilahkan meluncur terlebih dahulu oleh teman yang dibujuk tadi.

Kami pun menaiki anak tangga, mulai duduk di atas lubang yang terdapat di ban tersebut. Setelah menunggu waktu yang tepat untuk meluncur maka kami pun mulai meluncur setelah diberi dorongan oleh petugas. Kami pun berputar-putar beberapa kali dengan cepat mengikuti jalur lintasan, namun kami tidak dapat melihat pemandangan diluar karena luncuran di bagian atas ditutup seluruhnya. Kami berteriak-teriak selama meluncur kemudian secercah cahaya muncul di hadapan dan tak lama luncuran menurun bergelombang ke bawah dan setelah sampai dibawah kami pun meluncur naik kemudian turun lagi, begitu seterusnya hingga benar-benar berhenti.

Ketika turun ke bawah dengan membelakangi arah, jantung pun berdebar kencang khawatir terjatuh ke belakang, namun itu hanya kekhawatiran saja, nyatanya kami berhenti dengan selamat di dasar luncuran.

Meluncur dari Wahana Boomerang

Rupanya wahana boomerang ini membuat saya ketagihan. Sebenarnya saya ingin mencobanya kembali, namun saya harus bersabar untuk mencobanya di lain waktu karena jika ingin menaiki wahananya kembali maka saya harus membayar Rp.20,000 kembali dan saya harus mencari teman untuk meluncur bersama. Sebuah sensasi wahana yang tidak bisa saya lupakan, pertama kali mencoba dan ingin mencobanya kembali. 

Ujung Lintasan Wahana Boomerang

Wednesday, May 29, 2013

Rehat Sejenak di Taman Wisata Bumi Kedaton




Awan kelabu menggelayut di atas Taman Wisata Bumi Kedaton Bandar Lampung ketika saya bersama istri dan anak saya tiba siang menjelang sore hari tanggal 9 Mei 2013 lalu. Di balik sebuah gapura selamat datang, berbagai pepohonan yang tinggi menjulang membawa kesejukan siang itu. Sedangkan di sebelah kiri gapura, sebuah patung gajah yang sedang duduk mengenakan siger dan kain khas lampung yang tengah menggerakkan belalainya ke atas seolah menyambut
pengunjung yang datang.

Saya bergegas menuju loket penjualan tiket, dimana disana sudah ada beberapa mobil berjajar membeli tiket.  Dengan tiket seharga Rp.8,000 per orang maka saya pun membeli 2 tiket dan dikarenakan anak saya masih dibawah 2 tahun maka tidak perlu membeli tiket.

Saya pun berjalan masuk bersama istri dan anak saya, awalnya saya berjalan menuju ke sebuah lembah yang disisi sebelah kanannya terdapat kebun binatang yang dipagari. Tujuan utama saya adalah menuju ke kebun binatang tersebut untuk menyenangkan hati anak saya. Ternyata pintu masuknya ada di bagian lain sehingga saya harus berbalik arah dan berjalan ke arah parkiran mobil. “Disana pak pintu masuknya yang ada patung singa?” ujar karyawan rumah makan di sekitar taman.

Tiba di hadapan kebun binatang, sebuah patung singa di sisi sebelah kiri pintu masuk menyambut para pengunjung. Sebuah papan selamat datang terpampang disana “Selamat datang di bumi kedaton zoo”. Saya pun beranjak masuk dan tepat dihadapan saya, sepasang burung kakatua jambul kuning sedang bercengkrama di dalam kandangnya.

Saya menelusuri jalan yang mengitari kebun binatang tersebut, rupanya kebun binatangnya tidak seperti yang saya bayangkan. Kebun binatang ini tidak luas dengan koleksi binatang hanya mencapai 49 jenis. Berbeda dengan taman safari cisarua ataupun taman margasatwa ragunan yang memiliki ratusan jenis.

Namun begitu koleksinya cukup beragam,di kebun binatang ini, terdapat 3 kelompok binatang yaitu reptile, mamalia dan unggas. Jenis reptile yang ada di kebun binatang ini antara lain ular, biawak/labi-labi, kura-kura pipi kuning dan buaya. Sedangkan untuk jenis mamalia seperti harimau, beruang madu, monyet, lutung dan kucing akar. Adapun untuk jenis unggas seperti kasuari, cendrawasi, kakatua, elang brontok, kalkun dan ayam mutiara.

Binatang yang baru pertama kali saya temui di kebun binatang ini adalah binturong. Binatang mamalia berbulu seperti serigala yang ketika saya tiba, binatang tersebut sedang mengelayut tidur dengan malasnya disebuah batang pohon yang melintang. Dan ketika saya melihat kalkun, sungguh saya sangat geli melihatnya dengan tubuh seperti ayam yang besar dan kulit berwarna merah seperti jengger ayam didekat paruhnya yang menggelayut ketika berjalan.

Setelah puas mengelilingi kebun binatang ini maka saya pun keluar dari area kebun binatang menuju pintu gerbang. Setelah berjalan di parkiran menuju gerbang depan, saya melihat sebuah mobil pick up yang sudah di modifikasi dengan 3 bangku berjajar di belakangnya yang sudah diberi atap. Saya pun menghampiri mobil tersebut dan bertanya kepada supirnya. “kalau di bawah ada apa pak?” Tanya saya kepada supir tersebut. “Ada gajah dan kuda” jawabnya.

Saya pun menaiki mobil pick up tersebut dengan tujuan untuk melihat gajah, binatang khas lampung. Tak lama seorang wanita yang bertugas memberikan karcis pada para penumpang , dengan harga Rp.1000 per penumpang untuk mencapai lokasi gajah tersebut. Setelah itu perlahan mobil mulai bergerak ke arah lembah dengan jalan yang cukup lebar dan turunan yang cukup sedang.

Sekitar 5 menit saya tiba di lokasi, saya turun tepat di pintu masuk dari atraksi gajah tersebut. Ketika saya memasuki lokasi gajah, saya melihat bangku-bangku kosong dibawah sebuah tenda. Tak jauh dari tempat tersebut seorang anak kecil sedang menunggangi gajah yang dipandu oleh pawangnya. Rupanya anak tersebut sudah selesai mengelilingi lokasi tersebut dengan gajah, anak tersebut turun di sebuah tempat yang digunakan untuk menaikan dan menurunkan pengunjung ke punggung gajah.

Saya berjalan menuju jembatan untuk menyeberangi sebuah sungai kecil yang alirannya cukup deras. Saya pun menghampiri lokasi gajah tersebut, disana terdapat 2 ekor gajah, salah satunya sedang dipandu oleh sang pawang di pinggir sebuah sungai sedangkan yang lain berdiri di sebuah kandang yang terbuka dengan kedua kaki terikat oleh rantai. Iba rasanya melihat gajah tersebut dirantai, namun jika tidak begitu mungkin gajah tersebut akan mencelakai pengunjung.

Beberapa orang berkumpul di sebuah tenda payung memperhatikan gajah-gajah tersebut yang salah satunya ada dari kementerian kehutanan. Saya pun bertanya berapa biaya untuk menunggangi gajah. “lima belas ribu saja untuk mengelilingi kawasan ini dengan menunggangi gajah”,jawab salah seorang diantara mereka.

Namun saya memilih untuk mengabadikan momen dengan gajah gajah tersebut, seorang pegawai kementerian kehutanan yang ada disana menawarkan untuk mengambil gambar saya dan keluarga. Saya pun berjalan menghampiri gajah tersebut dan sang pawang memberikan aba-aba kepada gajah tersebut agar mengikuti perintahnya. Sekitar 1 meter dari saya dan keluarga, gajah tersebut berdiri dan mengangkat salah satu kaki depan serta belalainya. “Diam!” teriak sang pawang kepada gajah tersebut. Gajah tersebut pun terdiam sejenak dan momen tersebut pun diabadikan.

Ketika pegawai tersebut mengambil gambar, saya khawatir tiba-tiba gajah tersebut mengamuk. Untung saja disana ada pawang yang akan mengarahkan gajah tersebut sehingga situasi masih bisa dikendalikan. Tak lama gambar saya dan keluarga pun diambil dan disampingnya gajah tersebut berpose dengan manisnya.

Setelah mengabadikan momen dan puas melihat langsung gajah sumatera maka saya dan keluarga pun beranjak mencari mobil yang akan mengantarkan kami ke depan gerbang untuk selanjutnya kembali pulang.

Monday, May 13, 2013

Kedai Kopi Mata Angin : Tempat Berkumpulnya Beragam Komunitas




Suasana khas petualang begitu terasa ketika saya tiba di Kedai Kopi Mata Angin. Sebuah Garasi disamping rumah tua yang disulap menjadi sebuah kafe sederhana. Dengan meja kecil dan kursi kayu khas alam dengan dinding berhiaskan foto-foto petualangan alam. 

Rupanya saya tiba terlalu pagi di acara Seminar Travel Writing pada tanggal 27 April 2013 yang diadakan di tempat ini. Ketika saya masuk seorang wanita muda menyapa saya “Peserta seminar ya?” tanyanya ramah. “Silahkan ditunggu sebentar ya”seraya mempersilahkan. Belakangan baru saya tahu ternyata beliau salah satu pemilik kedai ini yang bernama Teh Uta.

Kedai ini didirikan tahun 2010 yang semula bertempat di jalan bengawan dan baru pada tahun 2013 ini pindah ke jalan laswi no 19 A Bandung. Kedai ini didirikan oleh 3 orang yaitu teh uta, teh emma dan mas awang. Dinamakan mata angin karena ada sebuah sumbu yang tetap dan yang lainnya mengarah ke berbagai arah.  

Pemilik kedai mendirikan kedai ini karena menginginkan sebuah tempat untuk berkumpulnya beragam komunitas yang positif. “selama ini belum pernah ada tempat kumpul untuk beragam komunitas di bandung seperti kedai ini”. Ujar teh uta.

Sebelum memasuki bagian dalam kedai, diatas sebuah dinding dipasang sebuah papan tulis berisikan beragam menu yang ada di kedai ini. Kedai kopi mata angin menyediakan menu yang beragam, mulai dari nasi goreng, spaghetti, pisang goreng, pancake, kopi hingga capucinno.

Dari segi kualitas, menu yang ada di kedai ini tidak main-main, bahkan pemiliknya sendiri yang meraciknya. “Kami mendatangkan kopi-kopi pilihan sehingga kualitasnya terjaga, bahkan pengunjung disini dapat mengetahui perbedaan kopi arabika dan robusta” ujar the uta.

Sebuah papan seperti papan pengumuman beragam acara dipasang di sebuah dinding dan tepat disebelahnya terdapat travel wish list, disinilah para pengunjung menuliskan harapannya untuk berkunjung ke sebuah tempat yang diimpikannya.

Dari papan pengumuman itu pula saya mengetahui bahwa di tempat ini tidak hanya para petualang saja yang berkumpul, namun juga komunitas lainnya. “Disini adalah tempat untuk berkumpulnya beragam komunitas” ujar teh uta.

Mudah saja untuk mencapai kedai ini, saya menaiki taksi dari Bandung Trade Center sekitar 20 menit dengan tarif Rp.22,000.00. Taksi mengarah ke soerapati lalu ke arah selatan menuju jalan riau dan laswi, sekitar 100 meter sebelum perlintasan kereta disitulah kedai ini berada.