Follow by Email

Thursday, December 5, 2013

Mencicipi Gurihnya Sate Bandeng





Hawa panas begitu terasa ketika saya masuk ke dalam ruangan pembakaran sate bandeng yang berada di bagian depan rumah. Bara-bara api masih menyala, membakar sate bandeng yang telah berjajar diatas tempat pembakaran sederhana yang terbuat dari tumpukan bata merah. Aroma sate bandeng pun tercium dari ruangan pembakaran ini.

Ruangan pembakaran sate bandeng ini amat sederhana, terletak di bagian depan rumah dari ibu Haji Mariyam. Hanya bagian depannya saja yang terbuka, bagian lainnya dikelilingi tembok dengan beberapa lubang ventilasi dan di salah satu bagiannya terhubung dengan tempat penjualan sate bandeng. Beberapa bakul yang terbuat dari anyaman bamboo berada di tengah-tengah ruangan dan siap menampung sate bandeng yang telah dibakar.

Untuk membakar sate bandeng, di ruang pembakaran ini terdapat dua buah tempat pembakaran yang panjangnya mencapai 3-4 meter yang masing-masing bisa membakar sekitar 40 sate bandeng. Kedua tempat pembakaran ini berjajar dengan dipisahkan oleh jarak sekitar 2-3 meter mendekati tembok. Para pemuda membakar sate bandeng dengan posisi bertolak belakang.

Di setiap tempat pembakaran sate bandeng, terdapat setidaknya dua orang pemuda. Seorang pemuda tengah sibuk mengangkat sate bandeng yang telah matang dan menaruhnya di bakul bamboo tadi. Pemuda lainnya mengolesi adonan di bagian luar dari bandeng yang telah dijepit oleh bamboo lalu menaruhnya di tempat pembakaran.

Ruang pembakaran ini memang hanya untuk membakar saja , sebelumnya sate bandeng yang siap dibakar diberikan oleh bagian dapur di ruangan lain tak jauh dari ruangan pembakaran. “Kalau mau lebih tahu proses pembuatannya dari awal bisa ke dapur mas.”ujar salah seorang pemuda di ruangan pembakaran. Saya pun bergegas menuju ke ruangan dapur. “Silahkan mas kalau mau ke dapur” seorang wanita paruh baya mempersilahkan saya sembari membersihkan daun pisang yang akan digunakan alas untuk sate bandeng.

Ruangan dapur ini terletak di seberang ruangan pembakaran dan di antara keduanya ada ruangan penjualan yang ruangannya agak menjorok ke dalam. Rupanya d ruangan dapur, empat orang wanita dan seorang pemuda tengah sibuk, masing-masing melakukan tugasnya sambil duduk diatas tempat duduk kecil.

Seorang wanita berambut ikal mempersiapkan adonan yang berupa campuran daging ikan bandeng, santan kental dan bumbu bumbu. Dua orang wanita lainnya memasukkan adonan yang telah dibuat tadi ke dalam ikan bandeng melalui rongga mulut ikan tersebut dengan menggunakan corong plastic. Sedangkan seorang wanita lagi menjepitkan ikan bandeng yang telah diberi adonan tadi ke dalam dua bilah bamboo untuk selanjutnya siap di bakar. Satu-satunya pemuda yang ada di ruangan tersebut melunakkan daging dan memisahkan duri-duri kecil dari dagingnya.

Setelah sate bandeng siap di bakar, maka sate bandeng yang telah di jepit tadi dibawa ke ruang pembakaran untuk selanjutnya di bakar sampai dengan matang dan siap di santap.

Rupanya untuk membuat sate bandengan diperlukan dua kali proses pembakaran. Proses pembakaran yang pertama untuk mematangkan isi dari ikan bandeng ini sendiri. Lalu setelah matang, sate bandeng di angkat lalu bagian luar satenya dilumuri oleh bumbu santan kental tadi sampai menutup seluruh bagian dengan ketebalan sekitar 0,5 cm. Kemudian sate bandeng yang telah diolesi bumbu di bagian luarnya kembali di bakar di ruang pembakaran.

Setelah saya puas melihat proses pembuatan sate bandeng tadi saya beranjak ke ruangan penjualan sate bandeng yang ruangannya berada di antara tempat pembakaran dan ruangan dapur. Disana saya membeli dua buah sate bandeng yang masing-masing harganya Rp25,000,-. Seorang pemuda melayani dengan ramah setiap pelanggan yang ingin membeli sate bandeng tersebut dan membungkus dengan kotak khusus agar pelanggan mudah membawanya.

Ketika tiba di rumah saya pun mencicipi sate bandeng tersebut, rasanya gurih dan sedikit manis.Begitu nikmat karena ditambahkan sambal khusus apalagi durinya sudah tidak ada rasanya lebih nikmat bukan.