Follow by Email

Saturday, December 15, 2012

Mencicipi Angkringan dan Kopi Joss Yogyakarta





Selepas menunaikan shalat magrib 1 Desember 2012, saya dan keluarga keluar dari penginapan dengan tujuan utama mencicipi Kopi Joss yang telah ternama. Sebelumnya ketika di pesawat menuju Yogyakarta, fahri salah seorang penumpang yang duduk di sebelah saya memberikan informasi bahwa jika ingin mencicipi Kopi Joss dari arah malioboro ke arah utara menyeberangi rel kereta menuju jalan mangkubumi. Disana ada banyak angkringan dan kopi joss yang bisa di coba. Fahri sendiri berasal dari Muntilan, pernah kuliah di Fisipol UGM dan saat ini bekerja di LIPI Jakarta.

Matahari baru saja terbenam, namun keramaian malioboro baru dimulai. Semenjak kaki melangkah keluar dari kawasan sosrowijayan terlihat kesibukan para pedagang dan wisatawan di jalan malioboro. Saya menelusuri sisi sebelah kiri jalan malioboro atau sisi barat jalan tersebut menuju ke arah utara. Berbagai macam pedagang sibuk menawarkan barang dagangannya kepada para wisatawan. Jarak antara sosrowijayan dengan jalan mangkubumi sekitar 500 meter dan saya menempuhnya dengan waktu sekitar 15 menit saja. Setelah melewati rel kereta yang mengarah ke stasiun tugu akhirnya kami tiba di jalan mangkubumi. 

Setibanya di jalan mangkubumi, saya melihat kondisi sekitar yang ternyata terdapat banyak penjaja angkringan dan kopi joss di sekitar jalan tersebut, baik disisi kanan maupun di sisi kiri. Saya memilih mendatangi angkringan kopi joss pak agus yang berada di sisi timur jalan mangkubumi di depan sebuah pertigaan jalan yang di jalan masuk pertigaan tersebut banyak juga penjaja angkringan. Angkringan kopi Joss Pak agus terlihat lebih mentereng dengan spanduk terpasang di atasnya dan terlihat beberapa pengunjung berada disana.

Angkringan Kopi Joss Pak Agus berukuran sekitar 2x3 meter, di tempat tersebut terdapat 2 buah panggulan yang satu berisi aneka gorengan di bagian bawahnya dan nasi kucing di bagian atasnya. Disebelah panggulan tersebut tersedia berbagai jenis sate diantaranya sate keong, sate ati ampela, sate usus, sate telur puyuh. Berseberangan dengan panggulan 1 ada panggulan lain yang berisi perlengkapan untuk membuat minuman seperti kopi joss. Namun para pengunjung dapat menikmati santapannya di sebuah trotoar yang telah diberi tenda yang berada tepat di belakang angkringan ini.

Saya pun memesan satu nasi kucing dengan tempe goreng ditambah satu sate keong dan tidak ketinggalan satu buah kopi joss. Nasi kucing sendiri adalah nasi yang berukuran kecil mungkin seperempat piring ditambah dengan sambal yang dicampur dengan ikan teri. Dinamakan nasi kucing karena ukurannya yang kecil dan pas untuk kucing. Tak lama kopi joss yang saya pesan hadir dan bara arang yang masih menyala mengapung di atas kopi tersebut ditambah asap mengepul keluar dari mulut gelas membuat hangat suasana malam itu.

Ketika mencicipi kopi Joss, rasanya seperti kopi tubruk biasa tetapi terdapat tambahan aroma arang hitam ketika menghirupnya. Rasanya sungguh nikmat menyeruput segelas kopi joss hangat di cuaca malam Yogyakarta yang cukup dingin.