Follow by Email

Sunday, December 30, 2012

Candi Megah Prambanan dan Legenda Roro Jongrang





Setelah mengunjungi Istana Ratu Boko Minggu 2 Desember 2012 sekitar pukul 12 siang, saya bersama teman dan anak saya meluncur menggunakan shuttle bus menuju Candi Prambanan. Dengan waktu tempuh sekitar 15 menit saya pun tiba di perhentian shuttle bus di kompleks Candi Prambanan.
Kami pun melangkah menuju Candi Prambanan. Namun sebelum memasuki jalan masuk candi, di sebuah pos yang terdapat para petugas kompleks candi meminta kami untuk memakai kain batik dengan warna dasar putih. Saya pun bertanya kepada para petugas “kenapa harus menggunakan kain batik ini pak?” petugas pun menjawab “sebagai salah satu cara untuk pelestarian batik dan untuk menandakan pengunjung Candi Prambanan”. Saya dan teman saya pun memakai kain batik tersebut dan beranjak masuk menelusuri sebuah jalan menuju Candi Prambanan.

Sebelum memasuki kompleks Candi Prambanan, di pinggir jalan masuk ada sebuah halaman yang bisa digunakan untuk mengabadikan momen dengan latar candi prambanan. Saya pun tidak menyianyiakan kesempatan untuk mengabadikan momen mengunjungi candi prambanan bersama anak saya.
Candi Prambanan terletak di desa Prambanan kurang lebih 20 km  timur Yogyakarta dan 40 km sebelah barat Surakarta. Lokasinya persis di perbatasan antara Provinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah. Wilayah Candi Prambanan sendiri dibagi antara Kabupaten Sleman dan Klaten.

Candi Prambanan kerap kali diasosiasikan dengan legenda Roro Jongrang yang saat ini menjadi patung Dewi Durga disalah satu sisi Candi Prambanan.  Itu pula yang ada di pikiran saya, Candi Prambanan identik dengan legenda Roro Jongrang. Lantas seperti apakah legenda Roro Jongrang dan Bandung Bondowoso tersebut.

Menurut sebuah sumber diceritakan bahwa Legenda ini bercerita tentang tragedy dari seorang pria yang sangat berkuasa bernama Bandung Bondowoso yang ingin menikahi seorang putrid bernama Roro Jonggrang yang merupakan putri seorang raja bernama Prabu Boko. Tetapi sang putri menolak secara halus dengan memberikan permintaan dibuatkan 1000 patung dalam waktu 1 malam.

Ketika Bandung Bondowoso membuat patung terakhir yang dibantu oleh sekelompok  jin, Roro Jonggrang dengan dibantu oleh sekelompok wanita menumbuk padi dengan alat penumbuk. Aktivitas wanita tersebut untuk menandakan bahwa pagi segera tiba dan membuat api unggun besar di sebelah timur yang menyebabkan arah timur menjadi berwarna merah seperti matahari telah terbit.

Melihat hal tersebut membuat sekelompok jin yang membantu Bandung Bondowoso percaya bahwa pagi telah tiba dan mereka pun menghilang. Roro Jonggrang segera menghampiri Bandung Bondowoso dalam meditasinya dan menginformasikan bahwa dirinya telah gagal memenuhi permintaannya.
Setelah mengetahui kebohongan Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso menjadi sangat marah dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi sebuah patung Dewi Durga. Dimana patung tersebut menjadi patung ke 1000 sesuai permintaan Roro Jonggrang.

Candi Prambanan di bangun pada tahun 856 Masehi oleh Rakai Pikatan untuk memperingati kembalinya tampuk kekuasaan Dinasti Sanjaya. Candi ini diabaikan 1 abad kemudian dan pada abad ke 16 hancur karena gempa bumi besar. Kemudian pada tahun 1930 Candi ini di restorasi yang dilakukan hingga saat ini.

Sebelum memasuki pelataran kompleks candi, kita akan menemukan sebuah plang yang menginformasikan bahwa candi prambanan merupakan warisan budaya dunia nomor 642 yang ditetapkan oleh UNESCO. Saya masuk melalui gerbang timur dan ketika memandang lurus ke depan tepat dihadapan saya adalah candi nandi yang dibayangi oleh candi siwa dibelakangnya. 

Saat saya memasuki kompleks candi prambanan, saya terpukau melihat keindahan arsitektur bangunan candi. Saya berkeliling di dalam kompleks candi sembari menikmati keindahan bangunan candi. Saya terkagum-kagum melihat bangunan candi siwa yang tinggi menjulang membelah langit dengan ketinggiannya yang mencapai 47 meter. Awan kelabu mulai menggelayut di atas langit candi padahal hari masih siang dan terik mentari masih terasa.

Saya pun menuju ke Candi Siwa yang berada di sisi sebelah barat dari pintu masuk yang merupakan candi terbesar dan terpenting di komplek prambanan. Di sekeliling luar Candi ini di pagari sebuah trails. Saya menuju pos petugas yang ada di sisi sebelah kanan pintu masuk candi. Di pos  tersebut kami diminta memakai helm pengaman karena dikhawatirkan ada runtuhan candi yang menimpa pengunjung. Sejak Gempa Bumi tahun 2006, Candi ini mengalami beberapa keretakan dan harus di tempel agar tetap kuat.

Candi Siwa merupakan candi terbesar dengan luas 34 meter persegi dan tinggi 47 meter. Dinamakan candi siwa karena didalamnya terdapa arca Siwa Mahadewa. Bangunan ini dibagi 3 bagian secara vertical yaitu kaki, tubuh dan kepala/atap. Candi ini memiliki empat pintu masuk yang sesuai dengan arah mata angin. Pintu utamanya menghadap ke timur dengan tangga masuknya yang terbesar dan terdapat arca penjaga raksasa mengapit tangga tersebut.

Didalam candi siwa terdapat empat kamar sesuai arah mata angin dan keempat kamar tersebut berisi arca siwa mahadewa, siwa mahaguru, ganesha dan durga. Didasar kaki candi sendiri dikelilingi oleh relief cerita Ramayana. Hiasan pada dinding berupa makhluk-makhluk surgawi seperti kinari dan kalamakara. Sedangkan atap candi bertingkat tingkat dengan susunan yang amat kompleks yang dihiasi sejumlah ratna dengan ratna terbesar di puncaknya. Ketika berkeliling candi siwa, teman saya pun beujar “bagaimana dengan teknologi masa lalu dapat mendirikan bangunan semegah dan seindah ini?” pertanyaan yang saya sendiri pun tidak mengetahui jawabannya.

Setelah menikmati keindahan arsitektur bangunan candi maka kami pun beranjak menuju pintu keluar di sebelah utara candi. Kami melewati area bermain, museum arkeologi dan audiovisual, restoran, toko cindera mata dan menuju ke arah parkiran. Pengunjung sengaja diarahkan untuk melewati objek-objek tersebut. Jika di dalam komplek bangunan candi terkesan gersang maka ketika menuju keluar candi, pengunjung akan melewati ruang terbuka hijau yang memberikan kesan sejuk ketika melewatinya. Saya tidak membeli oleh-oleh apapun disana, hanya melewati toko cinderamata. 

Rupanya perjalanan saya ke candi prambanan harus berakhir karena saya harus kembali ke UGM untuk menjemput istri melanjutkan petualangan di kota Yogyakarta.