Follow by Email

Saturday, August 11, 2012

Menapaki Sejarah Banten Lama Melalui Museum Situs Kepurbakalaan


Setelah mengunjungi mesjid Banten lama, saya pun beranjak menuju Museum Situs Kepurbakalaan Banten lama. Museum ini terletak di bagian depan Mesjid Banten lama, namun sebelum menuju ke Museum, harus terlebih dahulu melewati sebuah tanah lapang. Tanah yang cukup luas dengan rerumputan yang mulai meninggi di bagian sisi-sisinya, di bagian tengahnya hanya tanah gersang. Tanah lapang ini dijadikan tempat bermain bagi anak-anak yang tinggal di sekitar Mesjid Banten lama dan juga dijadikan tempat untuk menggembala kambing. 

Museum Situs Kepurbakalaan terletak di sebelah timur Mesjid Banten lama, ketika menyusuri sisi barat museum ini saya terlebih dahulu melihat Meriam Ki Amuk yang besar. Setelah melewati pintu gerbang museum saya pun bertanya kepada pihak keamanan dan diarahkan untuk membeli tiket masuk di loket. Dengan hanya Rp.1000 saya dapat masuk ke Museum tersebut, namun sebelum masuk saya tertarik untuk melihat Meriam Ki Amuk dari dekat. Meriam ini berukuran besar dan terletak di bagian luar gedung museum, di moncong meriam ini masih tersimpan bola besi yang merupakan amunisi meriam yang siap untuk dihempaskan oleh sang meriam. Setelah puas melihat-lihat meriam, saya pun bergegas masuk ke dalam museum.

Museum Situs Kepurbakalaan ini sangat sepi, hanya ada 5 orang yang berada di dalam museum ini, termasuk saya. Padahal museum ini menyimpan peninggalan-peninggalan beragam hal yang terkait dengan sejarah kesultanan Banten. Mulai dari silsilah kesultanan, artefak berupa kerajinan keramik, peralatan memancing masa lalu, sampai dengan peta dunia pada abad itu. Saya sangat tertarik dengan peta dunia yang ada disitu, bagaimana para penjelajah dapat memetakan dunia dengan alat dan teknologi navigasi yang sangat terbatas. Hasil pemetaan itu memang tidak sama persis seperti yang sebenarnya, namun jika melihat sekilas bentukan bentukan pulau dari dunia yang mereka jelajahi hampir mirip dengan yang ada saat ini.

Tujuan selanjutnya setelah museum adalah sisa reruntuhan keraton surosowan yang berada tepat didepan museum atau disebelah selatan dari museum. Saya harus mencari-cari dahulu dimana gerbang masuknya dengan menyusuri sisi tembok keraton dan menyusuri jejeran parkiran mobil serta para pedagang di sebelah kanan saya. Akhirnya saya menemukan pintu gerbangnya, namun sayang gerbang tersebut terkunci dengan rantai yang tergembok. Cukup kecewa dengan apa yang terjadi, namun setelah saya beranjak ke sisi yang lain saya melihat diatas tembok keraton ada pria paruh baya yang sedang asik berburu objek di dalam sisa reruntuhan keraton untuk diabadikan. Di salah satu sisi tembok ada bagian yang rupanya sering digunakan untuk masuk ke dalam dengan cara memanjat, hal ini terlihat dari sisa-sisa pijakan kaki.

Saya pun mengikuti jejaknya untuk membunuh rasa penasaran saya terhadap isi bagian dalam museum ini. Sisa-sisa keraton ini memang indah untuk diabadikan dengan tembok-tembok batu bata merah dan batu karang. Rumput-rumput liar terhampar diselingi oleh tembok-tembok keraton dan di sisi yang lain adapula cekungan-cekungan. Beberapa anak kecil terlihat sedang asik bermain disalah satu sisi bagian dalam keraton ini.

Dari beberapa sumber, disebutkan bahwa reruntuhan keraton seluas sekitar 3,5 hektar ini dibangun pada tahun 1552 yang dulunya merupakan tempat tinggal para sultan Banten. Keraton ini kemudian dihancurkan Belanda pada saat Kerajaan Islam Banten di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1680 berperang melawan penjajah Belanda. Keraton ini sempat diperbaiki, tetapi kemudian dihancurkan kembali pada tahun 1813 karena pada saat itu sultan terakhir Kerajaan Islam Banten, Sultan Rafiudin, tak mau tunduk kepada Belanda.