Follow by Email

Saturday, July 28, 2012

Mesjid Agung Banten Lama Menjelang Ramadhan



Banten lama merupakan surga bagi para pecinta sejarah, karena di tempat ini ditemukan beberapa peninggalan masa lalu yang sampai dengan saat ini masih bisa dinikmati. Sebut saja, Mesjid Agung Banten Lama, Sisa reruntuhan Keraton Surosowan dan Keraton Kaibon, Pelabuhan Karangantu, Mesjid Pecinan Tinggi, Benteng Spielwijk, Wihara Avalokitesvara, dan Tasik Ardi.

Hari Minggu, 15 Juli 2012 cuaca cerah pagi itu dan saya berencana untuk mengunjungi Banten Lama. Dengan bersepeda motor, saya pun meluncur kesana, di sepanjang jalan saya melewati pasar lama serang, sesekali jajaran pohon beringin di sisi kiri dan kanan jalan, pemukiman, makam-makam para petinggi kerajaan islam banten lama dan tak terasa sebuah gapura menyambut kedatangan saya di Banten Lama. Tak jauh dari gapura tersebut, menara mesjid Banten Lama yang berdiri memesona pun terlihat.

Saya tiba sekitar pukul 10 pagi, ketika itu sudah banyak para pengunjung yang datang. Mereka datang dengan menggunakan bus, mobil pribadi, kendaraan umum dan sepeda motor seperti saya. Sayangnya jalan ketika memasuki situs Banten Lama, kondisi permukaan jalan tidak begitu mulus, sehingga motor saya pun dibuat bergoyang-goyang dan harus hati-hati karena kepadatan jalan pagi itu. 

Setelah memarkirkan sepeda motor, saya pun beranjak menuju Mesjid Banten Lama. Saya menyusuri sebuah koridor layaknya memasuki sebuah terowongan karena di sisi-sisinya banyak para penjual yang menjajakan beragam hal dan bagian atasnya ditutupi oleh terpal yang sambung menyambung sampai dengan gerbang mesjid Banten Lama. Kala itu saya tidak sendirian, beberapa rombongan datang berada di depan saya, rombongan lain berada di belakang saya, begitupun dengan arah sebaliknya sehingga koridor menuju Mesjid Banten Lama terasa sangat sempit dan sesekali kemacetan pun terjadi karena ada rombongan yang berbelanja.

Setelah melewati koridor sudah ada petunjuk untuk para pengunjung yang ingin berziarah dengan sebuah arah panah menunjukkan kepada para peziarah kemana harus melangkah. Di dua titik saya melihat tempat penukaran uang logam receh bagi para pengunjung yang ingin bersedekah kepada para pengemis di areal pemakaman. Sayup-sayup suara lantunan doa terdengar dari sebuah pengeras suara di areal Mesjid. 

Para peziarah terlihat memadati pintu masuk untuk berziarah, sebagian peziarah yang lain ada yang membeli berbagai jajanan makanan yang ada di halaman mesjid, sebagian yang lain ada yang berfoto-foto di depan menara, sebagian lagi ada yang bercengkerama dan ketika melongok ke puncak menara Mesjid, terlihat beberapa orang sedang memandang para peziarah yang datang. Langit biru yang cerah, awan cumulus menghiasi pemandangan di atas mesjid Banten lama menambah mistis suasana pagi itu.

Rupanya menjelang Ramadhan ini banyak para peziarah datang kesini dengan berbagai tujuan, ada yang ingin mendoakan dan tidak jarang juga yang ingin mengambil keberkahan dari ritual ziarah kubur. Sedangkan saya sendiri hanya ingin berwisata, menikmati minggu pagi yang cerah di Banten lama.