Suara deburan ombak yang besar menggoda kami ketika kami
tiba di pantai pasir putih Desa Sawarna 30 Maret 2013 lalu. Awan yang mulai
berwarna kelabu di sore tersebut tidak menyurutkan kami untuk bermain di tepi pantai.
Rupanya perjalanan 6 jam dari kota cilegon terbayar dengan keindahan pantai
pasir putih yang lembut. Suara deburan ombak, pasir putih yang lembut dan
keindahan perbukitan yang menghiasi pantai yang membentang di sisi barat dan
sisi timur pantai merupakan suguhan tersendiri bagi para penikmat pantai.
Saya tidak pernah menyangka akan
melewati hutan yang begitu lebat dengan pepohonan yang tinggi serta jalan yang
berkelok dan memiliki tanjakan yang curam. Ternyata dibalik hutan-hutan
tersebut sebuah pemandangan yang indah hadir dan sungguh sawarna merupakan surga
tersembunyi di selatan banten.
Saya bersama istri dan putri saya pun bermain di tepi pantai
dan sesekali duduk menikmati pemandangan laut biru yang terhampar. Di bibir
pantai yang ramai dengan para pengunjung banyak yang menceburkan dirinya ke
laut dan bermain-main disana. Sedangkan saya dan istri cukup duduk-duduk
menikmati keindahan pantai dan sesekali mengabadikan momen bersama. Sedangkan
putri kecilku berjalan-jalan kesana kemari diliputi suasana berbeda di tepi
pantai.
Sebelum mencapai pantai ini, kami harus melewati jembatan gantung yang
membentang di atas sungai sawarna. Lebar jembatan tersebut sekitar 1,5 meter
dengan panjang sekitar 60 meter. Jembatan yang merupakan cirri khas dari sawarna
ketika wisatawan berkunjung ke pantai sawarna. Beberapa pengunjung terlihat
ketakutan ketika menyeberangi jembatan ini. Sedangkan putri saya bergembira
karena dibuat bergoyang-goyang diatas jembatan tersebut.
Disisi barat pantai pasir putih beberapa perahu nelayan
terdiam dengan lembut di atas pasir putih. Rupanya para nelayan tak melaut
karena ombak yang cukup tinggi sehingga cukup berbahaya jika digunakan untuk
melaut. Hal itu pun saya ketahui dari salah satu penduduk disana yang membuka
usaha warung makan. “Pesanan ikan tidak ada karena semalam nelayan tak melaut
karena ombak yang tinggi”ujarnya.
Rupanya pantai pasir putih adalah sebutan yang lazim
diberikan oleh para pengunjung pantai ini, sedangkan nama sebenarnya dari
pantai ini adalah pantai ciantir. “Para pengunjung biasa menyebut pantai ini
dengan pantai pasir putih sedangkan penduduk disini mengenal pantai ini dengan
pantai ciantir” ujar salah satu penduduk. Pantai ciantir yang merupakan sebuah
teluk ini memang berpasir putih yang lembut dan terhampar luas jadilah para
pengunjung menamakannya pantai pasir putih.
Pantai Sawarna terletak di Desa Sawarna Kecamatan Bayah
Lebak Banten. Pantai ini bisa dicapai dengan melalui 2 rute dengan menggunakan
kendaraan pribadi dari kota cilegon. Rute pertama, dari cilegon menuju serang
lalu mengarah pandeglang dan mengambil jalur saketi-labuan selanjutnya
mengambil arah ke malimping dan menuju bayah. Rute kedua, dari kota cilegon
menuju serang lalu mengarah ke pandeglang melewati cikulur menuju gunung
kencana mengambil arah ke malimping dan bayah.
Dengan perjalanan yang cukup jauh maka warga disini
menyediakan home stay atau tempat bermalam. Biasanya harga untuk menginap
semalam berkisar Rp.100,000,- namun karena long week end biasanya para
pengelola menaikkan harganya menjadi Rp.170,000,- per orang termasuk makan 3
kali. Sedangkan kami menginap di sebuah kamar dengan berbagi kamar mandi
seharga Rp.300,000,- tanpa makan. Rupanya hukum mekanisme pasar berlaku juga
disini, semakin banyak permintaan maka harga semakin meningkat dan kami
terpaksa menerimanya.
Sore hari di tepi pantai ciantir ditutup dengan hujan yang
cukup lebat dan kami pun berlari menjauh dari pantai menuju sebuah saung yang
menjual makanan dan minuman. Sambil menunggu hujan reda saya memesan segelas
capucino dan sebuah pop mie untuk istri dan putriku. Setelah hujan mulai reda
maka kami pun beranjak ke penginapan untuk beristirahat.
No comments:
Post a Comment
Silahkan tinggalkan pesan disini, sekecil apapun pesan anda akan memberikan kontribusi yang berarti untuk blog ini