Follow by Email

Wednesday, April 10, 2013

Sawarna, surga tersembunyi di selatan Banten



Suara deburan ombak yang besar menggoda kami ketika kami tiba di pantai pasir putih Desa Sawarna 30 Maret 2013 lalu. Awan yang mulai berwarna kelabu di sore tersebut tidak menyurutkan kami untuk bermain di tepi pantai. Rupanya perjalanan 6 jam dari kota cilegon terbayar dengan keindahan pantai pasir putih yang lembut. Suara deburan ombak, pasir putih yang lembut dan keindahan perbukitan yang menghiasi pantai yang membentang di sisi barat dan sisi timur pantai merupakan suguhan tersendiri bagi para penikmat pantai.

Saya tidak pernah menyangka akan melewati hutan yang begitu lebat dengan pepohonan yang tinggi serta jalan yang berkelok dan memiliki tanjakan yang curam. Ternyata dibalik hutan-hutan tersebut sebuah pemandangan yang indah hadir dan sungguh sawarna merupakan surga tersembunyi di selatan banten.

Saya bersama istri dan putri saya pun bermain di tepi pantai dan sesekali duduk menikmati pemandangan laut biru yang terhampar. Di bibir pantai yang ramai dengan para pengunjung banyak yang menceburkan dirinya ke laut dan bermain-main disana. Sedangkan saya dan istri cukup duduk-duduk menikmati keindahan pantai dan sesekali mengabadikan momen bersama. Sedangkan putri kecilku berjalan-jalan kesana kemari diliputi suasana berbeda di tepi pantai.

Sebelum mencapai pantai ini, kami  harus melewati jembatan gantung yang membentang di atas sungai sawarna. Lebar jembatan tersebut sekitar 1,5 meter dengan panjang sekitar 60 meter. Jembatan yang merupakan cirri khas dari sawarna ketika wisatawan berkunjung ke pantai sawarna. Beberapa pengunjung terlihat ketakutan ketika menyeberangi jembatan ini. Sedangkan putri saya bergembira karena dibuat bergoyang-goyang diatas jembatan tersebut.

Disisi barat pantai pasir putih beberapa perahu nelayan terdiam dengan lembut di atas pasir putih. Rupanya para nelayan tak melaut karena ombak yang cukup tinggi sehingga cukup berbahaya jika digunakan untuk melaut. Hal itu pun saya ketahui dari salah satu penduduk disana yang membuka usaha warung makan. “Pesanan ikan tidak ada karena semalam nelayan tak melaut karena ombak yang tinggi”ujarnya.

Rupanya pantai pasir putih adalah sebutan yang lazim diberikan oleh para pengunjung pantai ini, sedangkan nama sebenarnya dari pantai ini adalah pantai ciantir. “Para pengunjung biasa menyebut pantai ini dengan pantai pasir putih sedangkan penduduk disini mengenal pantai ini dengan pantai ciantir” ujar salah satu penduduk. Pantai ciantir yang merupakan sebuah teluk ini memang berpasir putih yang lembut dan terhampar luas jadilah para pengunjung menamakannya pantai pasir putih.

Pantai Sawarna terletak di Desa Sawarna Kecamatan Bayah Lebak Banten. Pantai ini bisa dicapai dengan melalui 2 rute dengan menggunakan kendaraan pribadi dari kota cilegon. Rute pertama, dari cilegon menuju serang lalu mengarah pandeglang dan mengambil jalur saketi-labuan selanjutnya mengambil arah ke malimping dan menuju bayah. Rute kedua, dari kota cilegon menuju serang lalu mengarah ke pandeglang melewati cikulur menuju gunung kencana mengambil arah ke malimping dan bayah.

Dengan perjalanan yang cukup jauh maka warga disini menyediakan home stay atau tempat bermalam. Biasanya harga untuk menginap semalam berkisar Rp.100,000,- namun karena long week end biasanya para pengelola menaikkan harganya menjadi Rp.170,000,- per orang termasuk makan 3 kali. Sedangkan kami menginap di sebuah kamar dengan berbagi kamar mandi seharga Rp.300,000,- tanpa makan. Rupanya hukum mekanisme pasar berlaku juga disini, semakin banyak permintaan maka harga semakin meningkat dan kami terpaksa menerimanya.

Sore hari di tepi pantai ciantir ditutup dengan hujan yang cukup lebat dan kami pun berlari menjauh dari pantai menuju sebuah saung yang menjual makanan dan minuman. Sambil menunggu hujan reda saya memesan segelas capucino dan sebuah pop mie untuk istri dan putriku. Setelah hujan mulai reda maka kami pun beranjak ke penginapan untuk beristirahat.