Follow by Email

Tuesday, July 17, 2012

Musik Etnik Pegunungan Andes Menyapa Serang


Hari Sabtu biasanya saya beristirahat dirumah untuk melepas lelah setelah sepekan bekerja. Namun tidak untuk hari sabtu lalu, saya diberi tugas untuk menjaga stand perusahaan tempat saya bekerja bersama dua orang teman lainnya. Dengan langkah terseok-seok saya pun tiba di lokasi pameran yaitu Mall of Serang, sebuah mall yang berada tepat dijantung kota Serang.

Ketika saya tiba di area pameran, tepat disebelah kiri stand perusahaan saya beberapa orang sedang mempersiapkan perlengkapannya. Tampak sebuah stand book music, alat yang dapat menyimpan lembaran not-not lagu, sebuah sound system dan kelengkapannya. Saya pun bertanya-tanya dalam hati dan pikir saya mungkin sebuah sekolah music yang mencoba menjaring pengunjung agar mendaftar menjadi siswanya. Saya pun mencoba bertanya kepada salah seorang wanita yang ada di stand tersebut.”sekolah music ya mba?” dan dia pun menjawab dengan singkat “bukan”. Wajahnya terlihat antara bingung dan enggan menjelaskan. “Lihat saja sendiri  nanti“ menurut pikiranku mencoba membaca arah pikirannya menjawab pertanyaan saya tadi.

Setelah selesai merapihkan seluruh perlengkapannya barulah saya mengetahuinya, ternyata stand tersebut menjual album original Chalwanka, sebuah grup music etnik dari pegunungan Andes di Peru. Selain menjual album original chalwanka yang berisi lagu-lagu instrumental internasional populer, stand tersebut juga menjual kerajinan tenun dan sulam khas peru, ada yang berbentuk tas, sejenis kupluk, syal dan alat music tradisional peru, zamponas dan quenas. Ada juga kain dengan motif Indian inca yang sekilas mirip dengan kain tenun ulos.




Dalam sebuah penjelasannya di pacha-chalwanka.blogspot.com, chalwanka sendiri adalah pacha yang merupakan pendiri grup music etnik tersebut, bisa juga duo seperti dulu bareng Yauri, atau bareng Gatot Alindo, trio bersama Lucho (Chili), Luis (Spanyol). 

Alat music yang digunakan oleh chalwanka adalah zamponas dan quenas. Zamponas sendiri merupakan sebuah alat music tiup tradisional peru atau indian yang terbuat dari bamboo yang bersumber dari hutan amazon. Ukuran bamboo nya kecil, mungkin berdiameter 1-2 cm. Zamponas tersusun dari beberapa bamboo, disalah satu ujungnya bamboo bamboo tersebut saling bertemu dan merata. Sedangkan diujung lainnya panjang bamboo berbeda dari kiri ke kanan yang semakin panjang. Bambu tersebut dipertemukan dengan bamboo yang melintang terikat pada sisi yang mendekati ujung salah satu sisinya dan dibeberapa bagian terikat dengan tali berwarna warni sehingga bamboo-bamboo tersebut semakin rekat.


Adapun quenas juga merupakan alat music tiup tradisional peru atau Indian, terbuat dari kayu yang juga berasal dari hutan amazon. Bentuknya seperti suling atau flute, namun dengan diameter yang lebih besar dan terbuat dari kayu, mungkin sejenis kayu jati atau meranti. Diameter disalah satu ujung lubangnya lebih besar dibandingkan ujung lainnya.

Awalnya stand tersebut sepi-sepi saja, sesekali pengunjung hanya melirik ke arahnya, sesekali bertanya dengan rasa penasaran dan sesekali pula melewati dengan tidak menghiraukannya. Sama persis seperti apa yang dialami oleh stand perusahaan tempat saya bekerja.

Tak terasa sore pun tiba, dan seorang musisi asal peru memulai aksinya. Musisi tersebut adalah pacha chalwanka, pendiri grup music etnik chalwanka dari pegunungan andes Amerika Selatan. Dua buah alat music tradisional peru, zamponas dan quenas menemani penampilannya. Pacha pun meniupkan alat music tradisional tersebut dengan penuh emosi dan membawakan beberapa lagu secara instrumental seperti Right Here Waiting Richard Marx, Chiquitta ABBA, My Heart Will Go On Celine Dion, dan beberapa lagu terkenal lainnya.


Sesekali pacha juga membawakan lagu latin yang terasa asing ditelinga saya. Namun nada-nada yang dihadirkan yang keluar dari zamponas dan quenas mampu membuat pengunjung terkesima, terkagum-kagum bahkan terhipnotis oleh penampilan pacha. Ketika selesai membawakan lagu, riuh tepuk tangan pengunjung membahana membuat suasana sore itu semakin semarak.

Jika di eropa terdapat pegunungan Alpen, di Asia terdapat pegunungan Himalaya, maka di Amerika selatan terdapat pegunungan Andes yang dengan pengaruhnya tercipta nada-nada eksotis yang bersumber dari zamponas dan quenas.